Jumat, 07 Desember 2018

Kukila - Aan Mansyur


Aan Mansyur Terobsesi dengan Hal-Hal Ini

Judul Buku: Kukila
Penulis: M. Aan Mansyur
Penyunting: Siska Yuanita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012


Cerpen-cerpen yang dikumpulkan dalam suatu kumpulan tidak melulu dihimpun dengan suatu benang merah yang tegas. Musababnya banyak. Bisa karena beda minat penulisnya, tujuan penulisannya, dan waktu penggarapannya. Tapi yang pasti kalau membaca suatu kumpulan cerpen, saya suka mencari kesamaan antara semua isinya. Kadang kalau kesamaan itu berupa pengulangan unsur cerita, saya suka seenaknya saja mengatakan barangkali itulah obsesi penulisnya. Makanya waktu membaca Kukila dan menemukan sejumlah pengulangan, saya jadi menduga-duga bahwa semua itu adalah obsesi Aan Mansyur.

Kita mulai dari yang penggambarannya kurang beragam: bapak yang meninggalkan keluarga. Pada kebanyakan cerpen yang berisi topik itu tidak jelas si bapak pergi kenapa. Paling-paling di “Kukila” disebutkan bahwa si bapak pergi karena dia tidak bisa menghamili si ibu dan sebenarnya dia jatuh cinta pada lelaki yang menghamili ibunya. Variasi untuk topik ini lebih terasa pada orang-orang yang ditinggalkannya. Pada suatu cerpen keluarganya jadi amat berantakan. Cerpen lain menekankan kesetiaan si ibu dalam menantinya sampai-sampai judulnya “Setia adalah Pekerjaan yang Baik”. Ada juga yang hanya menjadikan kepergian itu sebagai kejutan dalam cerita.

Penggambaran semacam ini membuat saya mengecap rasa yang memeluk kebanyakan tokoh aku dalam cerita-cerita tadi: kehilangan dan dicekik pertanyaan yang tidak kunjung terjawab sampai-sampai hanya bisa membuat spekulasi kelewatan. Ya, menurut saya salah satu kejutan dalam “Kukila” itu terlalu fantastis apalagi kalau melihat keseluruhan ceritanya.

Saya kira wajar judul kumpulan cerpen ini adalah Kukila. Pertama, itulah nama tokoh yang berulang muncul dalam cerpen-cerpen di sini. Kedua, cerpen berjudul nama itu juga sebenarnya mengandung seluruh obsesi Aan Mansyur yang saya sebutkan dalam tulisan ini. Yang kali ini saya bahas adalah orang-orang yang suka menulis surat.

Dalam cerpen itu sekeluarga (bapak, ibu, tiga orang anak) dan bahkan lelaki yang berselingkuh dengan si ibu saling surat-suratan. Dan surat ini menjadi semacam medium untuk perasaan-perasaan yang tidak mampu disampaikan secara lisan. Dalam cerpen lain bahkan ada “Tiga Surat Cinta yang Belum Terkirim”. Tapi, izinkan saya menyimpang sedikit, akhir cerpen itu menyebalkan. Si penulisnya mengaku bahwa surat itu ditulis dalam rangka sebuah kegiatan 30 hari menulis surat cinta. Biar relevan dengan tujuan pertama-tama cerpen itu ditulis mungkin. Tapi tetap saja.

Kita juga akan menemukan tokoh-tokoh yang suka sekali bersurat-suratan. Dari mulai anak sekolah yang suka menyampaikan surat-surat cintanya di depan perpustakaan. Pada kesempatan lain bukan hanya selembar kertas yang dijadikan surat, melainkan buku. Ya, ada kisah tentang sepasang kekasih yang memiliki buku bersama. Mereka bergantian mengisinya. Meskipun sama-sama naasnya kisah para penulis surat ini dengan orang-orang pada paragraf sebelumnya, setidaknya surat mereka sampai.

Kalau ada yang bertanya apa yang paling dominan dalam kumpulan cerpen ini, jawabannya adalah perselingkuhan. Sungguh! Sedikit-sedikit selingkuh. Mulai dari anak sekolah yang selingkuh dengan teman pacarnya sampai perempuan yang selingkuh dengan mahasiswa sebelah karena suaminya tidak bisa menghamilinya.

Meskipun saya mendapat kesan bahwa kebanyakan perselingkuhan itu dilakukan pihak perempuan karena kesalahan lelaki (kentara dalam cerita tentang istri yang dipaksa pakai celana dalam bergembok), ada semacam pernyataan gamblang bahwa semua orang berselingkuh dalam “Hujan. Deras Sekali”. Gara-gara cerpen ini mungkin kamu akan berpikir bahwa kalau pasanganmu tidak kunjung pulang dan berkata bahwa di tempatnya sedang hujan, dia pastilah sedang selingkuh.

Konon katanya, salah satu pertanyaan yang paling menyebalkan bagi para penulis profesional dalam setiap acara bicang-bincang adalah segala pertanyaan tentang “bagaimana cara menulis cerita?” Barangkali Aan Mansyur juga sebal dengan pertanyaan itu. Nah, kalau begitu, kapan-kapan kalau ada acara bincang-bincang dengan Aan Mansyur mungkin kita bisa menanyakan kenapa dia terus menuliskan tiga topik tadi dalam cerpen-cerpennya. Saya yakin jawabannya pasti seru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar