Senin, 25 April 2016

Harmoni - Ras Siregar



Judul Buku: Harmoni
Penulis: Ras Siregar
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
Tahun Terbit: 2008

Masalah domestik yang dihadapi beragam kalangan yang tinggal di wilayah Harmoni, Jakarta, pada tahun ’60 bertebaran dalam kumpulan cerita pendek Harmoni karya Ras Siregar.

Dari klerek, atasan, pembantu, pelacur, apoteker, pekerja serabutan, sampai orang gila tak ketinggalan diceritakan dalam kumpulan ini. Seringkali mereka digambarkan sebagai perantau. Jadi, persoalan yang mereka hadapi di tanah rantau itu tak jarang dibayangi masalah dari kampung halaman. Hal ini diisyaratkan oleh cerita pendek pembukanya, Harmoni, sebuah surat berisi lukisan keadaan belaka tentang daerah itu yang ditujukan pada Didi atau perantau mana pun yang ingin datang ke Jakarta.

Kadang tokoh-tokoh itu mesti menghadapi ketegangan suami dan istri, orang tua dan anak, tetangga, rekan sejawat, dan kadang juga ketegangan antara teman. Dalam kumpulan ini, tidak ada cerita pendek yang hanya mengandung satu ketegangan. Setidak-tidaknya ada dua ketegangan dalam tiap cerita pendek, misalnya Berpeluk dengan Malam yang berisi kisah seorang suami yang jadi bertengkar dengan istrinya gara-gara membantu temannya.

Berikut ini tiga cerita pendek yang, menurut saya, memberikan gambaran umum tentang kumpulan cerita pendek ini:

Darah Tinggi adalah yang paling kentara menyandingkan ketegangan antartokoh dengan latar sosialnya. Seorang ibu dari kampung datang ke Jakarta untuk tinggal dengan anaknya. Lingkungan rumah tangga anaknya membuatnya mengalami gegar budaya. Menantunya sering bertengkar dengan tetangga, sementara cucunya punya kebiasaan yang menurutnya tidak sopan. Akhirnya, darah tingginya kumat dan dia pulang kampung. Darah tinggi disandingkan dengan lingkungan rumah tangga anaknya, khususnya, dan keadaan kejiwaan orang yang tinggal di kota besar, umumnya. Menantu dan tetangga yang sering bertengkar itu seperti orang yang mengidap darah tinggi. Oya, ini juga merupakan perwakilan cerita pendek yang berakhir “kembali seperti semula", salah satu kutub akhir cerita pendek dalam kumpulan ini.

Di Bawah Serumpun Pohon Bambu adalah yang paling padat memadukan lapisan konfliknya. Aziz datang ke Jakarta untuk mengajak Nurhayati menikah sebagaimana yang direncanakan orang tua mereka di kampung halaman. Nurhayati diajak menikah oleh Tuan Slaughter, rekan sejawatnya di kedutaan. Nurhayati merantau sebagai pemberontakan atas kekolotan orang tuanya. Pada akhirnya, Nurhayati mengambil sebuah keputusan yang berakhir ironis, kutub lain akhir cerita pendek dalam kumpulan ini.

Di antara cerita pendek anomali dalam kumpulan ini, Amblang Gila Paus Harmoni adalah yang paling menyimpang. Sementara yang lain berisi kisah tentang urusan domestik, cerita pendek ini malah bercerita tentang orang gila bernama Amblang Gila yang juga sempat nongol dalam cerita pendek lain (Lewat Tengah Malam). Cerita pendek ini berisi asal mula nama Amblang Gila dan asal mula kegilaannya. Di dalamnya tersirat pengaruh zaman pendudukan Jepang terhadap orang Indonesia pada tahun ’60-an, masa kumpulan cerita pendek ini pertama kali terbit.

Sebagaimana judulnya, kumpulan cerita pendek Ras Siregar ini adalah harmoni beragam kalangan dari beragam generasi dalam menghadapi berlapis masalah domestik yang kadang berakhir ironis, kadang kembali seperti keadaan semula.


Senin, 11 April 2016

Ombak Parangtritis - Nasjah Djamin



Judul Buku: Ombak Parangtritis
Penulis: Nasjah Djamin
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1983

Seperti air laut, Ombak Parangtritis menggambarkan pasang-surut harapan seorang remaja bernama Nita.

Suatu peristiwa yang terjadi di luar kuasanya menjadi suatu titik balik dalam hidup Nita. Harapannya untuk menamatkan SMA pupus, apalagi untuk memperdalam seni lukis di ASRI Yogyakarta. Dia menarik diri dari pergaulan padahal dia seorang yang supel, bahkan dia sengaja tidak datang ke acara ulang tahun karibnya, Ningrum. Keadaan ekonomi keluarganya kembang-kempis untuk menopang lima bersaudara dan sepasang suami istri setelah bapaknya pensiun dari jabatannya sebagai pegawai negeri. Semua itu dilakukannya sebagai upaya untuk memahami kesulitan orang tuanya, walaupun kentara rasa sesak dalam perenungannya.

Sementara ibu dan dua adiknya tetap di Yogya untuk mengelola rumahnya yang kini dijadikan kosan, dia turut dengan bapaknya untuk membuka usaha di Parangtritis. Awalnya, kakaknya di perantauan menyesalkan keadaan ini. Namun, Nita perlahan-lahan membangun kembali semangatnya dari beragam pengalaman selama menjadi pegawai di warung-hotel milik bapaknya. Kemampuan sosialisasinya melancarkan pekerjaannya sebagai pemandu bagi turis. Bahkan, keakrabannya dengan mereka mengantarkannya pada obrolan tentang perenungan hidup. Sementara itu, di sela-sela kesibukannya dia terus melipur diri dengan melukis. Puncak upayanya untuk membangun kembali harapan dijumpainya saat dia berkenalan dengan Minarti, seorang anak orang kaya yang punya masa lalu muram dan ingin menata kembali hidupnya dengan melukis. Setelah itu, seperti lagu Beatles, it’s getting better all the time.

Selain perjuangan Nita, sepanjang cerita kita akan melihat gambaran keadaan pantai Parangtritis pada tahun ‘80an. Bule hippies berbondong berlabuh di sana dan menganggap pantai di wilayah itu lebih bagus dari pantai Bali. Orang-orang ziarah ke makam yang ada di wilayah itu. Keadaan itu disandingkan dengan warung-hotel yang berjejal di sepanjang pesisir pantai. Anak muda Yogya dan sekitarnya datang ke sana untuk bersenang-senang, bahkan mushroom pun sempat disebut-sebut. Saya pribadi, setelah membaca gambaran keadaan alam dan sosial Parangtritis dan sekitarnya, jadi merasa kurang menjelajah pantai itu waktu kemarin-kemarin main ke sana.

Detil referensial yang bertebaran sepanjang cerita pun patut diacungi jempol. Nita dijuluki Roro Mendut, bahkan kabar ini tidak hanya berkumandang di Parangtritis, tapi juga menyebar ke Yogyakarta. Ini juga yang membuat Ningrum dan Bleki, pemuda yang ngeceng Nita, mengetahui keadaan tokoh utama kita. Tidak tanggung-tanggung. Nasjah Djamin menyediakan bagian tersendiri untuk menceritakan ulang kisah Roro Mendut. Selain itu, detil yang paling banyak diumbar adalah tentang seni. Dari mulai cara membatik sampai cara membikin kanvas secara mandiri pun secara rinci didedahkan. Kisah-kisah perupa Indonesia pun bertebaran, khususnya dalam obrolan Nita dan Minarti. Dari mulai Soedjojono sampai Affandi. Nasjah Djamin memang orang-dalam dunia seni rupa Indonesia.

Ombak Parangtritis mendeburkan kisah seorang remaja yang berupaya menumbuhkan kembali harapannya setelah dihantam peristiwa yang terjadi di luar kuasanya, di pantai selatan Yogyakarta tahun ‘80an dengan hembusan detil sepoi-sepoi tentang seni.


Minggu, 10 April 2016

Frustrasi Puncak Gunung - Ashadi Siregar



Judul Buku: Frustrasi Puncak Gunung
Penulis: Ashadi Siregar
Penerbit: Cypress
Tahun Terbit: 1978

Ashadi Siregar memparalelkan kepekaan sosial seseorang dan pergolakan cintanya dalam Frustrasi Puncak Gunung.

Seseorang itu adalah Herman, seorang mahasiswa yang lebih suka naik gunung ketimbang terlibat dalam urusan organisasi mahasiswa atau berada di suatu pesta. Saat dirubung gadis-gadis karena kemahirannya menyanyi, dia merasa mereka terlalu merepotkan. Lalu, dia bertemu Cecilia Ambarwati, seorang aktivis kampus yang dicap sebagai perempuan yang memandang lelaki sebagai bawahannya untuk mencapai tujuan politisnya. Meskipun begitu, di rumah ibunya berkeras menjodohkannya dengan Susanto, dosen kimia yang dikenal galak dan kaku. Ambar dan Herman sebenarnya saling tertarik, bahkan bapak Ambar senang bergaul dengan Herman. Hanya saja keraguan melanda keduanya. Pergulatan dua tokoh utamanya dengan keraguan cinta dan konsekuensi keputusannya dikupas dalam Frustrasi Puncak Gunung.

Setelah lulus, Herman praktik sebagai dokter hewan di Timor. Dia memilih hidup menyepi: merenung di suatu padang, mabuk, dan mengurusi hewan-hewan, terlepas dari kenyataan bahwa warga setempat menghormatinya. Meskipun begitu, dia juga bergaul dengan sebayanya: beberapa pemuda setempat yang telah mendapat pengaruh gaya hidup kota besar dan perantau yang juga dinas di sana. Perantauan memang membuka mata terhadap banyak hal. Sekelompok mahasiswa peneliti ekonomi mempertanyakan kesenjangan sosial padanya, padahal dia sama sekali tak tahu. Kesadaran tentang seks dan cinta dia dapatkan dari seorang istri yang kurang dibelai. Pergaulannya dengan seorang tua yang diasingkan masyarakat membuatnya merenungkan kesepian hidup. Peristiwa dalam Frustrasi Puncak Gunung mengubah tokoh utamanya, dari yang acuh tak acuh menjadi lebih mawas diri dan peka terhadap masalah di sekitarnya.

Frustrasi Puncak Gunung adalah suatu kisah tentang kehilangan dan penemuan yang terjadi bersamaan dalam cinta dan kepekaan sosial tokoh utamanya.