Sabtu, 02 Januari 2016

Omong-Omong H.B. Jassin - H.B. Jassin



Judul Buku: Omong-Omong H.B. Jassin (Perjalanan ke Amerika 1958-1959)
Penulis: H.B. Jassin
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1997

H.B. Jassin adalah seorang kritikus penting dalam sastra Indonesia. Buku Omong-Omong H.B. Jassin menunjukkan sisi Jassin yang jarang disorot khalayak sastra.

Omong-Omong H.B. Jassin berisi catatan perjalanan Jassin selama satu tahun (21 Juli 1958 – 21 Juli 1959) sebagai seseorang yang ditugaskan pemerintah untuk belajar di Amerika dengan bantuan beasiswa Fullbright. Separuh buku berisi pengalaman Jassin saat masa orientasi. Sebagian masa pra-orientasi di Tugu, sebagian lagi masa orientasi diIndiana University, Bloomington. Pada masa-masa orientasi inilah Jassin pergi ke Kongres Comparative Literature Association di Chapel Hill. Setelah itu, barulah Jassin menjalani kuliahnya di Yale University, New Heaven. Pada bab terakhir diceritakan sekilas tempat-tempat yang disinggahi Jassin dalam perjalanan pulang ke Jakarta.

Omong-Omong H.B. Jassin memberi kesan bahwa H.B. Jassin adalah seorang pemalu. Dia sempat merasa tidak nyaman saat diminta pidato saat orientasi. Dia juga mengaku malunya akan bertambah jika berhadapan dengan perempuan. Rasa malu ini mempengaruhi sikapnya saat bertatap muka dengan orang banyak. Untuk mengatasinya, dia mempersiapkan terlebih dahulu hal-hal yang akan disampaikannya. Itulah siasatnya untuk berdiskusi di kelas selama di Amerika dan untuk memberi kuliah. Dulu saya pernah dengar H.B. Jassin tak pernah membuka sesi tanya-jawab setelah memberi ceramah dan kuliah. Inilah barangkali musababnya.

Omong-Omong H.B. Jassin menunjukkan, khususnya, kultur kampus dan, umumnya, masyarakat Amerika. Jassin memaparkan secara rinci sistem kredit untuk memperoleh gelar di universitas Amerika. Di sana mahasiswa dimungkinkan untuk tetap kuliah walaupun tidak berniat memperoleh gelar. Jumlah mata kuliah adalah patokannya. Jassin berkuliah di departemen Ilmu Perbandingan Kesusasteraan. Pada awalnya dia mengambil empat mata kuliah. Namun, karena keteteran, dia hanya menuntaskan satu mata kuliah, Tolstoy dalam Hubungannya dengan Eropa. Jassin juga menunjukkan surat keluhan teman-temannya dalam menjalani sistem kuliah di Amerika. Salah satu musabab keteterannya adalah sistem kuliahnya. Mahasiswa didorong untuk aktif di kelas dengan cara berdiskusi. Sifatnya yang pemalu dan keterbatasan bahasa menghambatnya untuk terlibat aktif. Sistem ini pun dibahas panjang lebar dan dibandingkan dengan sistem kuliah di Indonesia. Di Amerika lebih egaliter, seperti yang tersirat dalam sistem diskusi. Mahasiswa dibimbing oleh dosen agar menyatakan pendapatnya dan tidak takut berdebat. Di Indonesia dosen adalah penguasa kelas. Pada suatu bagian Jassin bercerita bahwa di Amerika seorang mahasiswa bisa menelepon dosennya untuk menjemputnya saat dia kembali dari suatu tempat. Di Indonesia tak mungkin begitu. Kata Jassin, semua itu karena Indonesia mewakili tradisi akademik Leiden. Namun, selama di Amerika dia sempat merasa tak nyaman dengan kebiasaan orang Amerika. Orang-orang bicara kalau ada perlunya saja. Dingin seperti berhadapan dengan mesin-mesin yang sudah biasa dihadapi orang Amerika. Waktu untuk belajar sendiri memang lebih banyak kalau begitu, tapi di tengah beban kuliahnya hal itu membuatnya kesepian.

Omong-Omong H.B. Jassin memberi petunjuk tentang muasal ketenaran pakar-pakar sastra mancanegara di Indonesia. Mahasiswa sastra mana yang tak kenal Rene Wellek? Dialah penulis buku babon Teori Kesusasteraan. Dia adalah dosen dua mata kuliah yang dikontrak Jassin saat di Amerika. Robert Escarpit, sang empu sosiologi sastra? Dia adalah salah satu pembicara dalam kongres sastra bandingan yang dihadiri Jassin. Northrop Frye juga jadi pembicara dalam acara tersebut. Ingat, tahun 50-an adalah masa-masa awal perkembangan studi sastra secara formal di Indonesia.

Omong-Omong H.B. Jassin adalah buku tentang seorang pemalu dan perenung yang berada di lingkungan akademik dan masyarakat asing, yang berisi petunjuk tentang sejarah studi sastra di Indonesia.