Senin, 27 Maret 2017

Pondok Baca Kembali Ke Semarang - Nh Dini



Judul Buku: Pondok Baca Kembali Ke Semarang
Penulis: Nh Dini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011


Pondok Baca Kembali Ke Semarang berisi pengalaman dan penilaian Dini sebagai anggota perkumpulan Rotary Club Kunthi, penulis, pengurus Pondok Baca, dan seorang ibu pada pertengahan tahun ‘80an sampai ‘90an.

Sebagai penulis mapan, dia sering dimintai tolong oleh banyak pihak untuk menulis, seperti menjadi kontributor Sinar Harapan atau menulis biografi Bhante Girirakkhita. Selain itu, Dini sering diundang untuk menjadi pembicara dalam beragam seminar. Dalam buku ini, diceritakan pengalamannya saat diundang ke Australia oleh Universitas Flinders untuk mengisi acara “Konferensi Budaya Indonesia”. Dia juga pernah diundang oleh Plan International Kupang Barat, sebuah lembaga yang berafiliasi dengan UNICEF dan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, untuk berbicara tentang perpustakaannya. Walaupun merasa senang karena bisa mendatangi tempat-tempat menarik, dia merasa kurang sreg dengan kompensasi yang diberikan panitianya. Kalau diundang untuk menjadi pembicara, khususnya oleh lembaga-lembaga dalam negeri, seringkali dia hanya mendapatkan kain atau barang-barang sejenisnya. Dia justru lebih ingin diberi kompensasi berupa uang. Ditambah lagi, pada masa itu dia mesti membiayai perpustakaannya. Dengan tegas dia menyatakan bahwa dia tidak malu memasang tarif kalau jasanya sebagai penulis dibutuhkan, suatu hal yang sempat menjadi bahan gunjingan wartawan. Dia hidup dari menulis. Itulah sokongan finansial utamanya. Dibandingkannya penghargaan terhadap penulis di Indonesia dengan di Malaysia. Di sana penulis lebih dihargai karena ada semacam program santunan yang dikhususkan bagi kalangan ini. Kalau dalam pandangannya tentang penghargaan terhadap penulis cenderung ketus, tentang kajian terhadap karyanya dia seperti tersanjung. Dia merasa terpukau juga saat ada peneliti yang menilai bahwa karyanya mengandung unsur feminisme. Dia mengaku proses kreatifnya lebih didasarkan pada hati nuraninya saja.

Pada masa awal kepindahan kembali ke Semarang dia diajak oleh Hesty Utami untuk turut dalam pembentukan cabang Rotary Club, suatu lembaga hubungan internasional nirlaba yang beranggotakan orang-orang dari beragam bidang dan bergerak di bidang sosial, di Semarang. Dia urun usul nama Kunthi bagi lembaga itu dan menulis lirik lagu marsnya. Dalam lembaga itu dia dianggap sebagai yang paling bisa diandalkan untuk mewakili dalam pelbagai acara karena jam kerjanya lebih longgar daripada anggota lain. Dia hanya menyaratkan akomodasinya dalam kesempatan-kesempatan itu. Saat berada dalam beragam kesusahan, dia tidak jarang ditolong anggota-anggota Rotary Club Kunthi. Dalam buku ini salah satu proyek besar yang digarap lembaga itu adalah penyediaan fasilitas air bersih di Gondorio, salah satu desa binaannya yang terletak di pinggiran Semarang.

Dalam buku ini Dini dikunjungi dan mengunjungi dua anaknya, Lintang dan Padang. Saat dia mengunjungi Lintang dan suaminya di Kanada, tampak betapa kenangan akan mantan suaminya tetap membayanginya. Dia merasa anak itu punya watak seperti bapaknya. Meskipun demikian, perasaannya terhadap anaknya tetap sayang, berbeda dengan perasaannya pada mantan suaminya. Sesalnya masih terasa dalam tiap renungannya tentang lelaki itu, bahkan dia menyebutnya dengan “bapaknya anak-anak”, bukan “mantan suami”. Rasa sayang itu kentara juga saat dia berusaha menjamu Padang dan tunangannya. Dia ajak mereka ke sana ke mari dan menyediakan akomodasinya. Ada rasa bangga dalam perenungannya tentang mereka.

Yang banyak menyita perhatiannya selama masa itu adalah Pondok Baca. Dia mengupayakan segenap modalnya untuk mempertahankan perpustakaan itu. Pada setiap panitia yang memintanya terlibat dalam acara mereka sebagai penulis dia selalu menagih honor dengan penekanan tentang Pondok Baca. Lebih banyak lagi adalah bantuan-bantuan keuangan atau administratif yang didapatkannya dari relasinya yang sangat banyak. Dari kalangan politisi, seperti Emil Salim, Sutrisno Suharto (walikota Semarang), dan Kedutaan Besar Selandia Baru, sampai perusahaan-perusahaan. Meskipun demikian, jalannya tidak selancar itu. Yang paling traumatik adalah saat dia hanya ditanggapi oleh 4 penerbit padahal dia mengirimkan 16 proposal. Selain itu, dia juga sempat kehilangan semangat sama sekali saat  Pondok Baca di Griya Pandana digoncang cuaca buruk. Perpustakaan itu sempat beberapa kali pindah: dari Sekayu ke Griya Pandana, ke Perumahan Beringin Indah. Walaupun asal mula pendirian perpustakaan ini disebutkan sebagai upaya untuk mengatasi kebisingan anak-anak di sekitar rumahnya di Sekayu, dalam praktiknya, tampak bahwa motifnya yang lebih dalam adalah pendidikan, khususnya pendidikan anak perempuan, sebagaimana tampak dalam upayanya untuk mengajak kembali seorang anak yang sudah lama tidak mengunjungi perpustakaannya. Selain itu, motif sosial tampak dalam keputusannya untuk mempekerjakan beberapa orang tertentu dan mengangkat anak atas nama Pondok Baca.

Sebagaimana telah disiratkan di atas, buku ini menguak banyak relasi sosial Nh Dini. Hampir dalam setiap kegiatannya dia selalu mendapatkan bantuan dari relasinya yang sangat banyak. Di antara relasinya ada seseorang yang sangat ringan tangan terhadapnya: Johanna. Secara suka rela dia menyokong keuangan Dini dalam keadaan apa pun, bahkan sempat mengajukan salah satu rumahnya sebagai tempat pengganti bagi Pondok Baca.

Dalam banyak peristiwa tampak bagaimana Dini begitu perhitungan. Ditambah dengan sikapnya yang cenderung menyatakan apa yang membuatnya terusik, maka dalam pelbagai keadaan yang kurang menyenangkan tampak betapa jutek dia. Dari tanggapannya terhadap penghargaan orang-orang terhadap profesi penulis sampai dambaannya tentang nominal ganti rugi dari pengelola perumahannya.

Pondok Baca Kembali Ke Semarang adalah pengaruh relasi sosial terhadap banyak kegiatan seseorang dan suatu tuntutan dari seorang penulis yang dituturkan oleh perempuan yang blak-blakan dalam menunjukkan kesukaan dan ketidaksukaannya.

Senin, 20 Maret 2017

Astiti Rahayu - Iskasiah Sumarto



Judul Buku: Astiti Rahayu
Penulis: Iskasiah Sumarto
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 1981 (terbit pertama kali tahun 1976)


Astiti Rahayu adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang bergulat dengan tuntutan akademik, kerja sambilan sebagai pemandu wisata, dan gejolak perasaannya terhadap beberapa lelaki dalam kesehariannya sebagai penghuni asrama khusus putri di Yogyakarta pada tahun ‘70an.

Di sini kegelisahan mahasiswa pejuang skripsi tampak pada penundaan mengerjakannya. Selama beberapa semester kuliah dibengkalaikannya. Dia malah asyik bekerja sebagai pemandu wisata yang berkantor di depan Hotel Ambarukmo. Ada nada kurang antusias dalam pembicaraannya tentang kuliah –dan kemudian skripsi, sementara dia tampak sangat menikmati kerja paruh waktunya. Walaupun ada sedikit pembicaraan soal ekonomi, keputusan ini diambilnya lebih sebagai pelariannya menuju hari-hari yang lebih hidup. Meskipun begitu, dia merasa tertekan juga dengan kenyataan bahwa kuliahnya telat dua tahun.

Dia memandang muram urusan percintaan. Rutinitas apel malam Minggu yang memenuhi ruang tamu asramanya dan kenyataan bahwa adiknya lebih fasih berurusan dengan lelaki ketimbang dirinya menjadi sesuatu yang direnunginya. Mahdi, teman dekat yang ditaksirnya secara platonis, malah berpacaran dengan perempuan lain. Saat menyadarinya dia menjadi sangat melankolis sampai-sampai jadi sering menulis puisi. Harman, atasannya di biro perjalanan yang lebih tengil dari Mahdi, ternyata memberinya harapan palsu saat Astiti menyadari bahwa dia tampak sangat akrab dengan perempuan lain walaupun mereka sempat mengalami masa-masa yang manis. Sebenarnya dia sempat mengalami percintaan yang sangat manis dengan David Lansell, seorang kontraktor pasir besi di Padikan, kampung halamannya. David sangat memperlakukannya seperti seorang putri. Tapi, pada akhirnya hubungan mereka kandas. Astiti adalah tuna asmara yang durja.

Astiti adalah tipe perempuan yang kata orang tomboy walaupun sisi femininnya menyembul-nyembul juga, seperti tampak dalam dambaannya tentang kisah cinta yang manis. Lebih dalam lagi, dia memiliki watak perempuan modern yang tidak mau didikte oleh norma lama. Dia merasa keberatan saat seorang lelaki mengaturnya untuk memakai rok dan berhenti pakai jins. Dia juga tidak merasa terlalu keberatan saat adiknya hendak melangkahinya menikah, suatu hal yang dalam kepercayaan Jawa bakal mempengaruhi jodoh. Dia juga terus berusaha memberikan pengertian pada orang tuanya yang tidak menyetujui hubungan dia dan David walaupun kemudian dia menyerah pada jurang agama di antara mereka.

Ada keterombang-ambingan dan ketidakmenentuan arah dalam Astiti Rahayu. Dan itulah yang membuat Astiti terbentur-bentur pada urusan kuliah, kerja, dan jejaka.

Sabtu, 11 Maret 2017

Kewer-Kewer - Libertaria



Judul Album: Kewer-Kewer
Penyanyi: Libertaria
Perusahaan Rekaman: Doggy House Records
Tahun Rilis: 2016


Kewer-Kewer berisi 10 lagu yang memadukan dangdut dan elektronika dengan lirik tentang masalah sosial dan puji-pujian atas dangdut.

Mari kita mulai dulu dengan membahas liriknya.

Dangdut itu sendiri menjadi topik banyak lagu dalam album ini. Berkali-kali dinyatakan bahwa dangdut adalah aliran musik yang tidak lekang oleh waktu dan menjadi sarana ekspresi segala kalangan, dan dengan demikian, menjadi simbol demokrasi. Dengar saja “DNA”, “Mari-Mari”, “Rakyat Bergoyang”, dan “Kewer-Kewer”. Berdasarkan keyakinan bahwa dangdut adalah simbol demokrasi, penulis lirik grup ini kemudian mengembangkannya ke arah yang lebih politis, seperti yang dinyatakan larik berikut: ‘Bersatu padu tegakkan keadilan / Rakyat bergoyang tak bisa dikalahkan’ dan ‘Sambil bergoyang kita rebut kuasa’. Dalam lagu-lagu itu pun diselipkan istilah-istilah, seperti korupsi, kriminalisasi, dan Gestapu.

Agaknya pengaitan dangdut dan hal-hal politis dalam album ini adalah ancang-ancang untuk menghadapi lirik-lirik politis yang sama sekali tidak  menyebut-nyebut dangdut. Dengan melakukan pembingkaian terhadap fenomena miras oplosan dalam “Orang Miskin Dilarang Mabuk”, grup ini bicara soal keberpihakan pemerintah terhadap orang kaya sehingga dalam kebijakan-kebijakannya justru malah merugikan orang miskin yang sudah hidup susah. Lebih blak-blakan lagi sikap menunjuk muka pemerintah itu ditunjukkan lewat “Interupsi”. Di situ dinyatakan bahwa ‘rakyat itu majikan’ dan ‘anggota dewan statusnya hanyalah pembantu’. Tapi, agaknya penulis lirik grup ini pun sangsi sendiri dengan pandangannya tentang pemerintah. Makanya, pada lagu lain dia menyatakan ‘teruslah bekerja / jangan berharap kepada negara’. Meskipun begitu, dalam “Nyalakan Api” yang longgar konteksnya, ada secercah optimisme dalam keadaan yang muram itu.

Barulah sekarang kita bahas sekelumit hal-hal musikalnya.

Di antara sekian banyak unsur dangdut dalam album ini setidaknya ada tiga yang bisa saya tangkap.
Irama takdungdangdut terasa dalam alunan bas dan bagian perkusinya. Kadang dalam bentuk murninya maupun dengan penambahan atau pengurangan nada dan pemanjangan atau pemendekan durasi nada. Misalnya, dalam frase bas pembuka “Orang Miskin Dilarang Mabuk” atau dalam gendang tebal frase kedua chorus “DNA” yang mengiringi vokal Riris Arista.

Frase asikasikjos yang terkenal itu pun mengakhiri frase beberapa lagu. Pada “Jalur Pantura” frase itu menjembatani perubahan irama perkusi, sementara pada “Interupsi” frase itu sekadar menjadi akhir frase verse-nya.  

Pemanduan MC lelaki yang enerjik, sebagaimana biasa tampak dalam video-video konser dangdut di Youtube, membuka “DNA”. Pemanduan itu seenerjik seruannya saat mengeja “DNA!”, yang bisa jadi berarti zat intisari dalam tubuh makhluk hidup atau akronim ‘dangdut nang jero ati’, diiringi pecahan crash drum machine yang memberi penekanan pada tiap hurufnya. Peng-MC-an yang lebih ala konser rock atau dugem muncul dalam “Mari-Mari” dan “Kewer-Kewer”. 

Sementara itu, drop yang didahului buildup dan sampling drum break adalah dua dari sekian banyak unsur elektronika dalam album ini. 

Drop bertebaran di mana-mana. Tentu saja. Zaman sekarang memainkan musik elektronika tanpa drop seperti tubuh tanpa jiwa. Sejak “Rakyat Bergoyang”, lagu pertama yang dibuka dengan suatu kur dengan latar drum machine yang militeristik, drop sudah muncul. Di situ drop didahului oleh buildup yang berupa paduan suara desis yang menggerung perlahan dan hentakan cempreng snare drum machine yang makin lama makin cepat. 

Pada “Interupsi” sampling drum break menjadi pengiring suara perempuan di kuping kiri yang berbunyi ‘gok... sogok... sogok...’ lalu ditimpali suara lelaki di kuping kanan, ‘Papa minta saham.’ Pada “Teruslah Bekerja” sampling drum break yang berhenti-berhenti menjadi irama bagi geolan sintesizer yang terdengar seperti diadaptasi dari lagu “Mojang Priangan”.

Kewer-Kewer adalah penghargaan terhadap dangdut yang dianggap adaptif secara musikal maupun politis, yang diwujudkan dengan cara membaurkannya dengan genre lain yang notabene melambangkan kelas sosial tertentu dan menjadikannya sarana penyampaian gagasan politis.

Kamis, 09 Maret 2017

Telepon - Sori Siregar



Judul Buku: Telepon
Penulis: Sori Siregar
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1992 (terbit pertama kali tahun 1982)


Telepon berisi serangkaian telepon iseng seorang pegawai toko buku Jakarta yang gelisah dan punya rasa keadilan yang terlalu tinggi, dan konsekuensinya.

Pegawai toko buku itu bernama Daud, seorang pelamun dua puluh tahunan yang merantau dari Medan. Walaupun sudah beberapa kali ditegur Lisa, pacarnya yang masih kelas dua SMA, dia tidak berhenti melakukan telepon iseng. Kebanyakan isi telepon iseng itu adalah kabar bohong. Beberapa kali isinya adalah suatu ancaman, tindakan yang dilakukannya kalau mendengar suatu ketidakadilan, seperti saat temannya, Burhan, dan beberapa orang lain dipecat sewenang-wenang oleh majikannya dan saat sebuah rumah sakit menolak melayani orang yang tidak mampu bayar. Hobinya itu bermula ketika dia sedang bokek-bokeknya dan dalam keadaan tidak menentu. Dia sembarang saja menelepon entah siapa. Tapi, curhat orang di seberang sana yang tanpa diduga menyenangkan hatinya.

Sebagai seorang perantau, dia banyak merenungi rantaunya, suatu hal yang banyak diungkapkannya pada Ramli, teman sekampung yang berniat merantau. Jakarta adalah tempat keras yang tidak punya rasa kasihan. Dalam persaingannya dengan banyak orang lain, seseorang tidak jarang mesti merangkap pekerjaan. Seringkali kemenangan seseorang yang sebenarnya berkecukupan berarti kekalahan telak bagi orang yang sudah melarat. Ditambah lagi, kemonotonan sehari-hari. Keadaan semacam inilah yang membuatnya sempat berpikir untuk pulang kampung saja, suatu hal yang ditentang Simangunsong, teman sekampungnya yang lain, karena pulang kampung sebelum sukses benar berarti memalukan diri sendiri.

Meskipun merasa senang dengan telepon-telepon iseng itu, di sisi lain, sesekali Daud merasa bersalah dengan tindakannya, khususnya yang berisi ancaman atau isapan jempol yang meresahkan. Kekhawatiran dan rasa senang itu silih berganti. Tapi, kemudian justru kekhawatiran itu mengalahkannya. Hantaman pertama adalah Lisa mengancam akan memutuskannya kalau dia tidak segera menghentikan hobinya itu. Hantaman kedua adalah pengakuan Ibu Suroso, seorang perempuan yang secara tersirat ditaksirnya, tentang telepon-telepon iseng soal anaknya yang makin lama makin meresahkan dan mengganggu ketentraman keluarganya sampai-sampai mereka harus memanggil polisi. Kejadian ini sempat membuatnya berniat untuk mengaku pada polisi dan membantu mereka mengusut kasus Ibu Suroso. Berdekatan dengan itu, dalam suatu telepon iseng, dia merasa harga dirinya sebagai penelepon iseng ulung dilecehkan oleh lawan bicaranya yang mengiyakan saja semua kebohongannya seakan lawan bicaranya itu sadar sedang berhadapan dengan seorang penelepon iseng. Rasa bersalah itu mencapai titik tertingginya saat dia berhalusinasi bahwa seorang majikan yang pernah dia ancam mengetahui tindakannya dan melaporkannya ke polisi. 

Telepon iseng adalah suatu mekanisme pertahan diri Daud atas segala tekanan yang dirasakannya selama merantau. Dia sebenarnya merasa tidak berharga dan tidak berdaya dalam rimba itu. Tapi, dia tidak bisa mengekspresikannya secara leluasa dalam keadaan sehari-hari. Semua perasaan itu hanya bisa ditumpahkannya saat dia menulis surat yang dikirimkan maupun tidak dikirimkan. Itu pun dalam wujud yang tersirat karena perasaan itu diproyeksikannya pada orang atau benda lain. Barulah dalam posisi sebagai pendengar curhat orang-orang yang diteleponnya secara iseng itulah dia merasa berdaya dan berharga. Dia merasa diperlukan dan pada gilirannya rasa penting itu membuatnya merasa punya kekuatan untuk membantu mereka dan kemudian orang-orang yang ada dalam posisi tidak berdaya dan tidak berharga. Makanya, kemudian dia bisa berani mengancam majikan yang secara semena-mena mem-PHK temannya dan rumah sakit yang tidak mau melayani orang yang tidak bisa bayar. Dia bahkan sempat berkhayal memiliki suatu lembaga konsultan bagi pelbagai masalah, suatu khayalan yang sangat dinikmatinya. Secara tidak sadar dia merasa dengan menolong mereka dia menolong dirinya sendiri, padahal tindakannya untuk membantu mereka justru lebih sering terlalu kelewatan.

Telepon adalah suatu kisah psikologis tentang dampak pola hidup kota besar yang meremukkan hati dan menyebatangkarakan, dan reaksi tidak lazim yang sengaja ditunjukkan untuk memberikan penekanan atasnya.

Senin, 06 Maret 2017

Ladang Perminus - Ramadhan KH



Judul Buku: Ladang Perminus
Penulis: Ramadhan KH
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
Tahun Terbit: 1990

Ladang Perminus berisi intrik di kalangan petinggi di Perusahaan Minyak Nusantara pada tahun ‘70an, saat berita tentang minyak ramai di surat kabar.

Gaya hidup petinggi perusahaan itu dimunculkan berulang-ulang. Kerjanya sehari-hari adalah menerima tamu yang kebanyakan adalah kontraktor asing maupun lokal. Tamu itu datang dalam rangka lobi untuk mengegolkan proyeknya. Kalau petinggi itu pergi ke luar negeri –dalam buku ini yang sering didatangi adalah Singapura, bos-bos kontraktor di sana menjamunya semaksimal mungkin, dari mengurusi transportasi, akomodasi, sampai gadis-gadis untuk menemani. Hadiah-hadiah diberikan sebagai oleh-oleh. Lobi-lobi juga dilakukan dalam keadaan yang tidak formal, seperti dalam jamuan di suatu pulau atau sambil main golf. Tapi, pada suatu adegan yang menentukan digambarkan juga lobi yang menegangkan: perundingan terjadwal antara tim Perminus dan sebuah kontraktor Belgia yang melibatkan tim-tim ahli.

Adalah lazim seorang petinggi memiliki obyekan dengan (mantan) rekan bisnisnya. Obyekan ini dijadikan celah untuk mengeruk keuntungan dari kantornya. Pada suatu kunjungan kerja seorang petinggi ditawari kontraktor-kontraktor untuk mendirikan perusahaan kapal, penerbangan, dan penginapan untuk menunjang proyek kerja sama antara mereka. Seringkali lewat relasi dengan kontraktor di luar negeri petinggi itu membuat perusahaan di luar negeri. Obyekan dan segala hadiah ini adalah upaya untuk menjaga hubungan baik demi kelancaran tender. 

Dalam keadaan demikian saling sikut tidak terelakan. Kontraktor berlomba-lomba untuk menjadi yang paling pemurah di mata petinggi-petinggi. Orang yang dekat dengan petinggi dipepet supaya berpihak pada mereka. Kalangan petinggi sendiri tidak jarang mengorbankan bawahannya demi menyelamatkan kedudukannya, seperti terjadi pada saat tersiarnya berita yang mengindikasikan ada korupsi di Perminus. Orang-orang jadi saling curiga. Yang jabatannya tidak terlalu tinggi mendekati bagian pengamanan yang dikuasai oleh orang militer supaya aman. Orang yang punya relasi dengan orang medialah yang kena, tidak peduli apakah memang dia orangnya yang membocorkan informasi atau bukan. Kalau seorang petinggi tidak menyetujui kemungkinan kenaikan derajat bawahannya, dia bisa saja menjatuhkannya lewat relasinya dengan pejabat-pejabat di lembaga lain. Tidak jarang bawahan mesti memberikan hadiah yang didapatnya dari kontraktor pada petinggi. Para pegawai diam atas dasar tahu sama tahu.

Tapi, dalam buku ini keadaan korup itu tidak dikesankan seburuk itu. Semua itu ditampakkan seperti sesuatu yang biasa saja karena dilihat dari mata salah seorang petingginya, Hidayat  Martakusumah. Sebagai orang yang pernah menjabat sebagai kepala Badan Koordinasi Kontraktor Asing dan asisten Wakil Direktur sebelum memutuskan pensiun, dia sudah biasa melihat semua penyelewengan itu. Meskipun begitu, sebagai veteran yang punya visi kebangsaan warisan Angkatan ’45, dalam kebungkaman itu diam-diam memanfaatkan jabatannya untuk membantu orang yang tidak lebih beruntung darinya. Tiap kali diisyarati kontraktor yang ingin memberinya upeti dia malah menyuruh mereka untuk mempekerjakan tenaga Indonesia dan mengurangi jumlah tenaga asing di perusahaannya. Banyak orang susah yang dibantunya mendapatkan pekerjaan lewat jabatannya. Dia mengajak teman-temannya semasa sekolah di zaman Jepang –orang-orang yang lebih disenanginya ketimbang orang-orang yang sehari-hari ditemuinya di kantor—untuk membantunya membangun ekonomi warga di Kadudampit, di kaki Gunung Gede. 

Ketinggian budi ini ditekankan lagi lewat keisengannya dengan seorang pramugari muda. Perempuan itu sangat kesengsem padanya, sedangkan dia yang sama sekali tidak punya pikiran seksual terhadap perempuan itu memperlakukannya seperti anaknya. Pada perempuan itu dia mengakui status perkawinannya. Pada istrinya, yang tidak kalah tinggi budinya, dia santai saja bercerita tentang pramugari itu. Hubungan ini dikontraskan dengan perselingkuhan temannya yang merupakan wujud penyalahgunaan kekuasaannya, padahal Hidayatlah yang memberikan jabatan itu padanya. Hidayat ditampilkan sebagai manusia teladan keterlaluan di tengah lingkungan yang korup. Makanya, wajar kalau kemudian dia dicalonkan teman-temannya untuk jadi gubernur Jawa Barat.

Tapi, agaknya kontrol diri yang tampak dipermukaan itu adalah hasil pembendungan gila-gilaan kedongkolannya. Dalam obrolannya tentang nasib orang susah tersirat amarahnya pada para koruptor. Dia juga sebenarnya gampang panasan terhadap orang-orang yang dianggapnya tidak becus menjalankan tugasnya sebagai pejabat tinggi, seperti yang ditunjukkannya saat akhirnya menyetujui pencalonannya karena yang dikabarkan akan menjadi calon gubernur juga adalah orang yang dianggapnya sangat korup. Malahan sekalinya bendungannya jebol kesehatannya langsung terpuruk, seperti saat dia menyadari perselingkuhan temannya atau saat dia dikabari bahwa atasannya yang korup dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Dia kena serangan jantung sampai harus diopname. 

Sekalipun seorang yang berbudi tinggi dan punya daya dijadikan tokoh utama untuk menghadapi lingkungan korup itu, kesan yang ditunjukkan buku ini adalah kekalahannya. Memang, lambang korupsi dalam buku ini pada akhirnya kalah. Tapi, kekalahan itu dibikin mudah saja. Dimatikan begitu saja dan korupsinya terbongkar. Sudah. Selain itu, pada akhirnya Hidayat mengiyakan juga bahwa zaman ini bukan untuk orang-orang seperti dirinya.

Ladang Perminus adalah suatu gambaran pesimistis tentang perlawanan terhadap korupsi sekalipun dari sudut pandang sosok yang punya daya.