Rabu, 28 September 2016

Pada Suatu Hari - Alinafiah Lubis



Judul Buku: Pada Suatu Hari
Penulis: Alinafiah Lubis
Penerbit: Khazanah Bahari
Tahun Terbit: 2010

Pada Suatu Hari berisi perkembangan taraf hidup tiga pemuda penduduk Bandung yang berbeda latar belakang sosial dan ekonomi.

Tiga pemuda itu adalah Lugud, Wawan, dan Sanusi. Wawan adalah seorang mahasiswa kedokteran Unpad. Dia tinggal di Cikaso dengan ibunya yang pedagang gorengan. Sanusi adalah seorang mahasiswa akuntansi Unpad. Dia tinggal di Sukajadi bersama adik dan dua orang tuanya. Bapaknya adalah pegawai Kotapraja Bandung.  Sanusi dan Wawan lebih sering menginap di kontrakan Lugud di Kebon Bibit, dekat Balubur. Lugud sendiri adalah seorang pendatang dari Medan. Pada bab-bab awal dia menjadi yatim-piatu setelah ibunya meninggal di Medan. Mereka bersahabat sejak SMA.

Di antara ketiganya Lugudlah yang paling disorot sepanjang cerita. Mula-mula masalah pekerjaannyalah yang disorot. Dua sahabatnya kuliah sedangkan Lugud menganggur. Pak Wardja, bapak Sanusi, menawarkan pekerjaan di Kotapraja tapi ditolak. Lugud sempat berniat melamar kerja di Bapindo tapi batal. Akhirnya, dia menjadi wartawan. Setelah lumayan lama, dia berhenti, lalu menjadi pegawai perusahaan swasta, bahkan diangkat menjadi kepala bidang informasinya. Sementara itu, pekerjaan Wawan dan Sanusi kemudian hanya dibahas sekilas. Wawan dinas dokter tentara di Bogor. Sanusi kerja sebagai akuntan PELNI. Perkembangan pekerjaan itu berimbas juga pada taraf ekonomi Lugud. Pada awalnya dia hanya mengontrak di Kebon Bibit. Setelah cukup punya uang, dia pindah ke Antapani. Dia pun membeli mobil Land Rover. Percintaan Lugud pun dibicarakan cukup panjang dan dengan rasa yang bercampur antara lucu dan melodramatis, khususnya di bab-bab akhir, saat Lugud merasa mabuk kepayang karena Naida, adik Sanusi.

Bukan hanya porsi pembahasan tentangnya saja yang banyak, melainkan peran Lugud pun besar bagi tokoh-tokoh lain. Dia memberi gagasan penting bagi perkembangan usaha dagang gorengan Wawan dan ibunya. Pada keluarga Sanusi lebih banyak lagi jasa Lugud. Saat Pak Wardja sakit, Wawan banyak membantu secara keuangan dan tenaga. Lugud juga menyelamatkan Naida dari seorang kenalannya di perusahaan apoteknya yang hendak menjahanaminya. Lugud berjasa banyak bagi tokoh-tokoh lain sehingga dia disenangi.

Meskipun pada akhirnya muncul kesan bahwa buku ini berfokus pada pengaruh Lugud bagi tokoh-tokoh lain, cara penyampaian buku ini tidak memunculkan kesan adanya suatu masalah yang disasar. Alurnya dibuat hanyut begitu saja dari hari ke hari yang dialami tokoh-tokohnya, bahkan pada persoalan yang lazim diklimakskan, seperti hubungan cinta Lugud dan Naida. Pembaca seperti dibiarkan terus membaca sambil berharap akan muncul suatu peristiwa dramatis. Kecuali menjelang akhir cerita, buku ini lebih sering berisi rangkaian peristiwa keseharian saja: orang bertamu ke rumah temannya dan membicarkan topik-topik sambil lalu atau seseorang meminta temannya ditemani ke suatu tempat. Alur buku ini datar.

Kelemahan komposisional lain buku ini adalah ketidaklogisan tindakan tokohnya. Paling kentara hal ini tampak pada masalah percintaan Lugud dan Naida. Pada awalnya Naidalah yang duluan jatuh cinta pada Lugud. Tapi Lugud menolak secara tidak langsung karena menganggap Naida sebagai adiknya sendiri. Pada masa-masa ini Naida merasa penolakannya berhubungan juga dengan kehadiran Mingly, kenalan Lugud dari Jakarta, padahal saat bertemu Mingly, Naida juga bertemu dengan tunangan Mingly. Lalu, jauh kemudian keadaan berbalik. Lugud jatuh cinta pada Naida karena intensitas pertemuan mereka. Naida menolaknya. Tapi, dalam penolakannya itu, peristiwa sebelumnya itu seakan tidak pernah terjadi. Disebut-sebut kembali tidak. Diisyaratkan pun tidak. Justru, menurut keluarganya, penolakan itu disebabkan oleh sifat keras hati dan kemandirian Naida.

Terlepas dari kelemahan komposisional semacam itu, buku ini memberikan gambaran geografis yang menarik tentang Bandung dan secuplik gaung peristiwa historis. Lewat rumah-rumah tokoh-tokohnya, pembaca dibawa berkeliling Bandung. Tentu yang paling sering dibahas adalah daerah rumah tokoh-tokohnya. Selain itu, banyak juga mereka mendatangi tempat wisata. Dari Situ Aksan, Kolam Renang Cihampelas, Ciater, Alun-Alun Bandung, sampai tempat-tempat hiburan di Cicadas tahun 60-70an. Pada awal-awal buku sempat muncul isyarat tentang peristiwa G30S dan kabar tentang devaluasi rupiah.

Sebagaimana judulnya, buku ini berisi kisah Pada Suatu Hari hidup seseorang yang berjasa banyak bagi orang-orang di sekitarnya, yang sayangnya dihinggapi kelemahan-kelemahan komposisional, padahal jarambah Bandung tahun 60-70an yang terjadi di sela-selanya sangat menjanjikan.

Kamis, 15 September 2016

Kiat Sukses Hancur Lebur - Martin Suryajaya



Anto Labil, S.Fil sebagai Potret Cendekiawan Tragis

Judul Buku: Kiat Sukses Hancur Lebur
Penulis: Martin Suryajaya
Penerbit: Banana
Tahun Terbit: 2016

Bukan Martin Suryajaya yang bercerita dalam buku ini, melainkan Anto Labil, S.Fil. Dengan demikian, untuk mengetahui makna yang dimuatkan Martin dalam buku ini, pertama-tama hal yang perlu diketahui adalah apa hubungan antara Anto Labil dengan segala hal yang ada dalam buku ini, apa konsekuensi pemilihan Anto Labil sebagai penceritanya, dan kenapa orang macam Anto Labil yang dimunculkan oleh Martin?

Selayang Pandang Anto Labil, S.Fil
Anto Labil adalah anggota kelompok Tujuh Pendekar Kere yang, sebagaimana namanya, beranggotakan orang dari latar belakang ekonomi yang susah. Kelompok ini aktif pada senjakala Orde Baru. Dalam keadaan ini, mereka berpandangan bahwa usaha kelompok-kelompok seniman kerakyatan untuk menghidupkan estetika LEKRA adalah sesuatu yang sia-sia karena kenyataan yang ada pada masa itu jauh lebih pelik daripada zaman LEKRA-Manikebu. Perlu ada suatu pendekatan baru dalam mengungkapkan ketertindasan dan perlu ada suatu gugatan atas estetika yang telah mapan di Indonesia, menurut mereka. Pandangan umum kelompok ini berpengaruh pada ucapan, pikiran, dan tindakan Anto Labil.

Anto Labil lulus sarjana filsafat. Dia punya wawasan yang luas tentang filsafat Greko-Roman, ilmu-ilmu alam dan sosial, dan sejarah sastra Nusantara zaman Hindu-Buddha. Dia mengaku sebagai seorang Marxis sporadis (hlm. 185). Dia pernah mengampu mata kuliah logika di dua universitas. Dia adalah satu-satunya anggota Tujuh Pendekar Kere yang pernah mengenyam pendidikan tinggi dan punya kecakapan sastra yang mumpuni. Pada pertemuan termutakhirnya dengan Thomas Tembong, anggota Tujuh Pendekar Kere, dia bekerja sebagai guru SD. Berbulan-bulan setelah naskah Kiat Sukses Hancur Lebur diserahkan pada Thomas Tembong, dia menghilang. Latar belakang pendidikannya, keterlibatan dengan Tujuh Pendekar Kere, dan kabar terakhir Anto Labil adalah petunjuk atas isi Kiat Sukses Hancur Lebur yang sepintas memusingkan.

Konsekuensi Pemilihan Anto Labil sebagai Pencerita

Ada dua pencerita dalam novel ini.

Pencerita pertama dalam buku ini adalah Andi Lukito. Dialah yang bercerita pada bab “Catatan Editor”.  Selain sebagai editor, dia bekerja juga sebagai kritikus sastra. Sebagai seorang kritikus sastra, dia menganggap Thomas Tembong, salah satu anggota Tujuh Pendekar Kere, sebagai mentornya. Profesi dan hubungan itulah yang memungkinkan Andi mengakses Kiat Sukses Hancur Lebur dan melancarkan penerbitannya. Kehadiran Andi Lukito memungkinkan Anto Labil hadir ke hadapan pembaca. Sebagai pembanding, Andi Lukito berfungsi seperti pencerita “Saya” dalam bab awal novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja.

Selain berisi petunjuk tentang identitas Andi Lukito, bab “Catatan Editor” berisi gambaran umum identitas Anto Labil berdasarkan keterangan yang didapatkan Andi Lukito. Keterangan itu memungkinkan pembaca memandang Anto Labil dari sudut pandang orang ketiga. Dengan demikian, pembaca lebih mudah mengidentifikasi sosok Anto Labil sebagai sosok “jagoan”.

Pencerita kedua tentu saja Anto Labil. Dia adalah pencerita utama dalam Kiat Sukses Hancur Lebur. Dialah yang bercerita pada bab “Menjadi Pribadi Sukses Berkepala Tiga” sampai bab “Cara Gampang Memakai Baju”. Dia bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Hal ini ditandai oleh penggunaan kata ‘penulis’ dan kadang ‘aku’ saat dia mengacu pada dirinya sendiri. Karena cerita dituturkan lewat sudut pandang orang pertama, apa-apa yang diceritakan, siapa yang diajak bicara, dan cara bercerita penceritanya menjadi petunjuk atas keadaan pencerita itu sendiri.

Siapa yang Diajak Bicara Anto Labil?

Sepanjang cerita ada sosok yang dibayangkan Anto Labil sebagai pendengarnya. Mereka adalah sosok yang diacu dengan kata ganti “Bapak-Ibu yang blablabla” atau “Blablabla, Bapak-Ibu sekalian”. “Blablabla” ini adalah bagian yang bervariasi dalam tiap kesempatan. Berikut sekadar beberapa contoh: “Bapak-Ibu sekalian yang murung dompetnya” (hlm. 103), “Mari makan rebun, Bapak-Ibu sekalian” (hlm. 73), dst.. Tapi, tepatnya siapakah “Bapak-Ibu” itu?

Marilah berapriori sejenak atas keadaan dagangan di toko-toko buku. Yang membanjiri rak-raknya adalah buku-buku panduan praktis, seperti kiat sukses tes CPNS, budidaya lele, kiat mahir pemrograman,  manajemen, dan akuntansi. Bukan hanya di rak-rak reguler, melainkan di seksi diskon pun buku-buku ini menjamur. Bisalah kita anggap bahwa pembeli buku-buku demikian banyak.  Lebih jauh lagi, jumlah pembeli buku kiat praktis itu lebih banyak dari pembeli buku, misalnya, sastra, filsafat, atau sejarah.

Seperti yang telah disebutkan, ucapan, pikiran, dan tindakan Anto Labil dipengaruhi oleh Tujuh Pendekar Kere. Seperti yang telah disebutkan juga, mereka menekankan perlunya suatu pendekatan baru dalam mengungkapkan ketertindasan dan perlunya penggugatan atas estetika yang telah mapan. Nah, Anto Labil menyadari kecenderungan pembelian buku itu dan menilai kecenderungan itu sebagai semacam ketertindasan. Bukan hanya para pembeli buku kiat sukses saja, melainkan orang-orang yang berkecimpung di kancah sastra, filsafat, sejarah, dst. pun tertindas. Nanti hal ini dijelaskan.  Oleh karena itu, untuk mengungkapkan ketertindasan itu dengan pendekatan yang baru, pertama-tama Anto Labil membayangkan para pembeli buku kiat sukses sebagai pendengarnya.

Struktur Buku Ini

Anto Labil meniatkan Kiat Sukses Hancur Lebur sebagai semacam novel. Tapi, sebagaimana yang disadari juga oleh Andi Lukito (dan pembaca buku ini), wujudnya tidak seperti lazimnya novel yang dipahami orang-orang. Andi Lukito sendiri menilai buku ini lebih sebagai kumpulan tips praktis yang dibumbui dongeng-dongeng kecil.  Lantas, kenapa Anto Labil tetap menganggapnya sebagai novel? Untuk menjawabnya, struktur buku ini bisa diandalkan sebagai petunjuk.

Mayoritas bab dan subbab dalam buku ini dijuduli berdasarkan topik-topik buku kiat sukses yang menjamur di toko-toko buku. Misalnya, Dasar-Dasar Akuntansi Avant-Garde, Resep Sukses Tes Calon Pegawai Negeri Sipil, Arahan Seputar Budidaya Lele, dst.. Dalam penyajiannya, ada pola yang sama antarbab. Dalam urutan yang relatif bervariasi, semuanya memiliki unsur-unsur berikut: sejarah dan beragam definisi topik tiap bab, pembahasan inti, dan dongeng-dongeng. Selain topiknya, struktur tiap babnya adalah pijakan Andi Lukito saat menyatakan bahwa Kiat Sukses Hancur Lebur lebih menyerupai buku manual daripada novel.

Meskipun demikian, terselip “keakuan” Anto Labil di antara struktur bab yang berpola demikian.
Secara eksplisit, misalnya, pada beberapa bagian dia mengacu pada dirinya sendiri dengan kata ‘aku’ atau ‘penulis’. Contoh kasus yang ekstrim, misalnya, adalah saat dia bertanya tentang nasib seorang polisi yang ditodongnya pada peristiwa Kudatuli, suatu peristiwa yang dilibatinya saat dia masih aktif berkegiatan bersama Tujuh Pendekar Kere (hlm. 70). Contoh lain adalah saat dia mengakui dirinya adalah seorang Marxis sporadis di tengah-tengah dongengnya tentang Phlebas dan seorang penyair hipotetis (hlm. 185). Keterangan-keterangan penting itu disebutkan di sela-sela rangkaian racauan sehingga sangat mungkin luput. 
Lebih banyak lagi adalah “keakuan” Anto Labil yang implisit. Pengetahuan Anto Labil atas filsafat Greko-Roman, sastra, dst. ditunjukkan oleh penyebutan hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Tapi, seringkali hal-hal itu disebutkan dalam keadaan-keadaan yang tidak lazim, kalau tidak mau dikatakan tidak tepat. Misalnya, di tengah racauan tentang ilmu mengetik sepuluh jari dia menyebutkan serangkaian istilah keilmuan, dari ironis, epistemologis, kapitalis, sampai fiktif (hlm. 100) atau dia menyebutkan nama-nama termahsyur dalam bidang tersebut, seperti Mary Shelley, Jacques Derrida, dan C.A. van Peursen, sebagai pakar ilmu manajemen (hlm. 28-29). Yang juga sering muncul adalah kecenderungan Anto Labil untuk menuliskan kalimat-kalimat yang mengandung pertentangan intrakalimat. Misalnya, “siapakah pencipta lagu yang belum diciptakan?” (hlm. 41) atau “Anda mesti belajar mengenali sepuluh kata pertama dalam kita-kitab yang tak pernah dikarang” (hlm. 98). Anto Labil juga punya kecenderungan untuk menyimpangkan kalimat secara asosiatif. Misalnya, kita ambil contoh kalimat “Apabila kita pikirkan secara setengah matang, etika sejatinya berurusan dengan hajat hidup orang mules.” (hlm. 165). Klausa pertama kalimat tersebut lazimnya berbunyi “apabila kita pikirkan secara matang”. Tapi, justru “matang” malah diasosiasikan dengan maknanya yang berkaitan dengan makanan, sehingga jadilah kalimat itu “apabila kita pikirkan secara setengah matang”. Klausa kedua kalimat tersebut lazimnya berbunyi “etika sejatinya berurusan dengan hajat hidup orang banyak”. Tapi, kata “hajat” yang dalam kalimat itu bermakna “urusan” malah diasosiasikan dengan maknanya yang lain, yakni “tinja”. Jadilah kalimat itu berbunyi “etika sejatinya berurusan dengan hajat hidup orang mules”.

Terselipnya “keakuan” Anto Labil di antara kiat-kiat yang disarankannya bukan saja menunjukkan bahwa dia adalah penceritanya, melainkan juga menjadikan dia sebagai tokoh, salah satu unsur cerita (dalam hal ini novel) yang lazim kita pahami. Dengan demikian, hal-hal yang ada dalam buku ini secara langsung maupun tidak langsung bercerita juga tentang Anto Labil. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa Kiat Sukses Hancur Lebur adalah semacam novel yang dituturkan oleh pencerita orang pertama yang kuat unsur autobiografisnya.

Struktur buku ini adalah upaya Anto Labil untuk mewujudkan pandangan Tujuh Pendekar Kere tentang pendekatan dalam pengungkapan ketertindasan dan estetika mapan. Dia menggugat estetika novel yang mapan dengan cara memadukan gaya bercerita sudut pandang orang pertama dengan struktur buku kiat sukses. Ini adalah konsekuensi dipilihnya para pembeli buku kiat sukses sebagai pendengar oleh Anto Labil. Untuk berbicara secara efektif dengan kalangan tertentu dia mesti menyesuaikan cara bicaranya dengan cara bicara yang biasa ditemui mereka. Ini adalah pendekatan yang dia anggap relevan untuk mengungkapkan ketertindasan masa kini. Dengan demikian, Anto Labil tetap menilai Kiat Sukses Hancur Lebur sebagai novel walaupun sepintas menyimpang dari kelaziman.



Anto Labil, Sekali Lagi
Jadi sebenarnya orang macam apa sih Anto Labil itu? Untuk menjawabnya, ada beberapa hal yang perlu disebutkan lagi. Pertama, Anto Labil hilang begitu saja beberapa bulan setelah menyerahkan naskah Kiat Sukses Hancur Lebur pada Thomas Tembong. Kedua, apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengarkan orang yang pernyataan-pernyataannya mengandung pertentangan intrakalimat dan cenderung menuntaskan kalimat secara menyimpang dari kelaziman, padahal Anda diberi tahu bahwa orang itu adalah seorang ahli filsafat dan pernah jadi dosen mata kuliah Logika?

Konon, karya secara relatif memberikan gambaran tentang penciptanya. Dalam kasus Anto Labil, sebagaimana yang tadi sebutkan, Kiat Sukses Hancur Lebur mengandung unsur autobiografis. Di antara dongeng-dongeng yang tersebar dalam buku ini dongeng pada bab terakhir, “Cara Gampang Memakai Baju”, mengandung unsur autobiografis yang kuat. Pada bab itu Anto Labil menuliskan sebuah dongeng tentang Dudung. Dia adalah lulusan jurusan biologi yang menjadi pengusaha warung bubur kacang ijo. Ia merasa ilmu yang didapatkan dari universitas tidak berguna. Kesia-siaan inilah yang membuatnya tidak waras. Pada bab yang sama disebutkan kisah tentang Resi Garengpung yang berkelana untuk mencari kebenaran bibliografis suatu bait dalam Chandogya Upanishad, suatu kitab Hindu. Tapi, setelah kembali dari pengelanaan yang panjang, dia diberi tahu bahwa Jawa tidak lagi diduduki kerajan Hindu, melainkan sudah diganti oleh Islam. Setelah menyadari kesia-siaan itu, dia mati. Dudung dan Resi Garengpung adalah sosok yang diciptakan Anto Labil untuk menggambarkan keadaannya sendiri. Mereka sama-sama orang yang terpelajar. Tapi, mereka merasakan kesia-siaan ilmu mereka. Kiat Sukses Hancur Lebur adalah upaya putus asa Anto Labil dalam memanfaatkan ilmunya untuk menghadapi kenyataan.

Jadi sebenarnya orang macam apa sih Anto Labil itu? Percayakah kamu kalau kubilang Anto Labil adalah orang yang tidak waras?

Kenapa Harus Orang Macam Anto Labil, Kenapa Harus Begini?
Anto Labil adalah potret cendekiawan. Dia menyadari kemandulan ilmu-ilmu dalam mengatasi kenyataan. Dia terpukul oleh kenyataan itu. Dalam keputusasaannya, dia tetap berupaya untuk membuat ilmu tetap subur dalam mengatasi kenyataan. Upaya ini dilakukannya bersamaan dengan usahanya untuk menemukan pendekatan baru dalam pengungkapan ketertindasan cendekiawan dan orang banyak, dan penggugatan estetika novel yang telah mapan. Praktiknya, dia menulis tentang topik-topik yang menjamur di toko buku. Tapi, sebelum sempat menyaksikan upayanya berhasil membuka jalan dalam pengejawantahan visinya, dia keburu kehilangan kewarasan. Di sinilah letak tragisnya.

Sebagai tokoh rekaan, Anto Labil memiliki kesamaan dengan penciptanya, Martin Suryajaya. Mereka sama-sama seorang cendekiawan. Mereka sama-sama menyadari kemandulan ilmu-ilmu dalam mengatasi kenyataan. Mereka sama-sama membayangkan pendekatan baru dalam pengungkapan ketertindasan dan merasa perlu menggugat estetika yang mapan di Indonesia. Martin sudah menuliskan visinya itu dalam bentuk esai. Dia menyebut visinya estetika partisipatoris[1]. Dalam taraf tertentu, Kiat Sukses Hancur Lebur beserta Anto Labil adalah pengejawantahan visi tersebut dalam bentuk novel.

Meskipun demikian, ada perbedaan antara Anto Labil dan Martin Suryajaya. Perbedaan itu adalah kalangan yang ditargetnya. Anto Labil menyasar kalangan pembaca buku kiat sukses, sedangkan Martin menyasar kalangan cendekiawan itu sendiri. Kalangan yang disasar Anto Labil kemungkinan akan kesulitan memahami isi buku ini, sebagaimana beberapa orang di internet yang menyatakan bahwa Kiat Sukses Hancur Lebur keterlaluan gak jelas sampai-sampai mereka tidak melanjutkan membacanya. Sementara itu, kalangan yang disasar Martin setidaknya bisa menganggap buku ini lucu berdasarkan plesetan-plesetan yang ada di dalamnya kalaupun mereka tidak bisa memahami maksudnya. Martin menulis Kiat Sukses Hancur Lebur agar kalangan cendekiawan merenungkan kembali kemandulan-kemandulan ilmu dalam menghadapi kenyataan agar terdorong untuk melakukan percobaan-percobaan baru yang lebih subur dalam menghadapi kenyataan, bahkan kalau perlu, mendobrak yang mapan sekalian.

Tentang maksud Martin, ada satu pertanyaan yang mungkin diajukan: Kalau Martin berniat demikian, kenapa dia mesti menempuh jalan yang merepotkan? Kenapa dia tidak menggunakan sarana sastra yang lebih mudah dipahami orang banyak? Jatuh bangun Anto Labil kan bisa saja dinyatakan lewat sudut pandang orang ketiga, sudut pandang Andi Lukito, misalnya. Toh, jauh sebelum buku ini terbit, cuplikan bab “Catatan Editor” digunakan oleh Yusi Avianto Pareanom, penyunting buku ini sebagai bahan promosi untuk disebarkan di Facebook. Itu saja sudah cukup mengait minat orang-orang untuk menantikan penerbitan buku ini. Bayangkan kalau sarana sastra macam itu digunakan untuk keseluruhan buku ini. Tapi, kalau buku ini tidak ditulis dengan cara yang merepotkan ini, ada hal penting yang hilang. Dengan cara inilah potensi teknik sudut pandang orang pertama dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebagaimana kalau sedang ngobrol, kadang di dalamnya seseorang melantur atau curcol. Ditambah secuil informasi tentang latar belakang pencerita yang dijelaskan pada bab “Catatan Editor”, pembaca dituntut untuk mengamati dan menyimpulkan cara kerja pikiran, dan merasakan kegelisahan dan frustrasi pencerita lewat caranya bercerita. Dalam kasus ini, kerja pembaca mesti lebih ekstra karena dihadapkan dengan orang pintar yang gila, tapi sebelumnya tidak diberi tahu bahwa pencerita itu gila. Wajar kalau ada sebagian pembaca yang bingung atau jengkel karena sulit memahami cerita Anto Labil. Silakan bayangkan, apa yang bakal Anda rasakan kalau Anda disuruh untuk mengobrol panjang lebar dengan orang gila?

Satu lagi maksud Martin menunjukkan orang macam Anto Labil: Martin ingin menunjukkan sebuah model cara kerja kalangan penerbit sehingga sebuah buku diterbitkan dan, dengan demikian, penyebaran gagasan. Andi Lukito tidak mungkin menjadi editor Kiat Sukses Hancur Lebur kalau dia tidak menjumpai naskahnya dulu. Dia tidak mungkin menjumpai naskahnya kalau tidak kenal dengan Thomas Tembong. Kalau Thomas Tembong bukan orang yang dihormati Andi Lukito, barangkali Andi tidak akan mempedulikan omongan Thomas Tembong tentang Tujuh Pendekar Kere, dan dengan demikian, Anto Labil. Hal ini menunjukkan bahwa kalau tidak ada relasi tertentu yang bekerja dalam penyebaran gagasan, mustahil gagasan itu menyebar, apalagi menjadi ikonik. Sebagai pembanding, kita bisa menyandingan Soe Hok Gie dengan Anto Labil. Soe Hok Gie tidak pernah menulis buku. Dia hanya menulis diari, tugas kuliah, dan esai-esai lepas di koran[2]. Tapi, karena relasi tertentu, kita mengenalnya sebagai penulis buku Catatan Seorang Demonstran.

Penutup
Kiat Sukses Hancur Lebur adalah novel yang berisi keputusasaan cendekiawan antahberantah yang menyadari kemandulan ilmu-ilmu dalam menghadapi kenyataan. Keputusasaan ini dinyatakannya kepada kalangan pembaca mayoritas lewat sudut pandang orang pertama, cara yang justru menambah ketragisannya karena membuat keputusasaannya makin tidak bisa dipahami oleh orang banyak.  Meskipun demikian, nasib cendekiawan ini dijadikan pijakan oleh Martin untuk berseru pada para cendekiawan lain agar mencari pendekatan-pendekatan baru yang relevan dengan kenyataan masa kini agar ilmu bisa berguna. Sebagaimana yang pernah dinyatakannya, kesadaran akan kemubaziran segala sesuatu adalah awal dari perlawanan[3].

Catatan Kaki
[1] Martin Suryajaya. 17 Februari 2016. “Dorongan Ke Arah Estetika Partisipatoris”. Diakses dari indoprogress.com: http://indoprogress.com/2016/02/dorongan-ke-arah-estetika-partisipatoris/
[2] Adhe. 16 Juni 2016. “Koki-Koki Gie (1)”. Diakses dari teks, konteks, kultur buku: https://adheoctopus.wordpress.com/2016/06/16/koki-koki-gie-1/
[3] Martin Suryajaya. 21 November 2015. “The Very Best of Fluxcup”. Diakses dari http://indoprogress.com/2015/11/the-very-best-of-fluxcup/