Selasa, 11 Juli 2017

Rumah Tangga yang Bahagia - Leo Tolstoy



Judul Buku: Rumah Tangga yang Bahagia (judul buku versi Bahasa Inggris: A Happy Married Life)
Penulis: Leo Tolstoy
Penerjemah: Dodong Djiwapradja (penerjemah Bahasa Inggris: Margaret Wettlin)
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 1976 (terbit pertama kali tahun 1859)


Ada seorang gadis dan seorang lelaki. Mereka bertemu, menikah, lalu kena prahara. Rumah tangga mereka tak lagi sama. Terdengar familiar? Ya, memang sefamiliar itulah Rumah Tangga yang Bahagia karya Leo Tolstoy kalau dirangkum dalam tiga kalimat. Apakah akan tetap sefamiliar itu kalau prahara kisah yang berlatar pedesaan (Pokrovskoye dan Nikolskoye) dan perkotaan (St Petersburg) Rusia ini diuraikan?

Masha alias Marya Alexandrovna adalah gadis belasan tahun akhir yatim piatu yang berasal dari keluarga ningrat atas di Porkovskoye. Selama tinggal di sana dia sering melakukan tirakat dan rajin berdoa. Sergei Mikhailich adalah seorang tuan tanah yang sering bepergian untuk mengurusi bisnis. Dia bersahabat karib dengan almarhum ayah Masha. Perbedaan usia mereka cukup jauh sampai Sergei sempat mengasuh Masha ketika masih kecil. Setelah sempat tinggal di Nikolskoye, setelah menikah, mereka pindah ke St Petersburg. Di situlah prahara benar-benar menerpa rumah tangga mereka. Prahara itu dihembuskan oleh kontras-kontras dalam kisah yang dituturkan oleh Masha ini.

Yang menonjol adalah kontras muda-tua dan kontras desa-kota. Masha muda, Sergei tua. Desa (Pokrovskoye dan Nikolskoye) berasosiasi dengan kehidupan yang tenang, sedangkan kota (St Petersburg) berasosiasi dengan kehidupan yang bergejolak. Kontras itu bisa muncul secara mandiri, bisa juga muncul secara berbaur. Kontras muda-tua dan kontras desa-kota bertimbal balik.

Karena muda, Masha pada awalnya memposisikan Sergei seperti ayahnya, sebagai teladan dan orang yang disegani. Tapi, semenjak dia menyadari afeksi dirinya maupun Sergei, kedudukan tadi jadi bermasalah. Bahkan, dia tersinggung saat merasa dianggap anak bau kencur oleh Sergei yang tidak mau menceritakan kesusahan bisnisnya, padahal mereka sudah menikah.

Karena tua, Sergei sudah menduga bahwa Masha yang masih muda dan terbiasa hidup di desa akan kehilangan rasa sayang padanya kalau menikahinya dan tinggal di kota. Masha pada awalnya sungguh menggebu-gebu mencintai Sergei, bahkan sampai pada taraf dia menjanjikan cintanya. Karena muda, dia polos saja menganggap bersosialisasi di pesta-pesta orang ningrat St Petersburg sebagai upaya untuk menyenangkan Sergei. Lama-lama alasan kedatangannya ke pesta-pesta itu berubah: dia suka dipuja oleh orang-orang yang datang ke pesta itu walaupun tidak tersurat dinyatakannya. Cintanya pada Sergei menghambar. Meskipun sudah menduganya, Sergei tetap kesal juga. Tapi, karena dia sudah tua, sudah berpengalaman, dia cukup bijak untuk bertahan demi anaknya.

Kehidupan kota yang bergejolak dikenal Sergei lewat pesta-pesta para ningrat dan urusan-urusan bisnisnya. Dia tidak menyukainya. Dia lebih menyukai kehidupan tenang di desa. Kehidupan yang didambakannya adalah kehidupan di desa dengan buku, musik, dan ketenangan. Ketidaksukaannya pada kota makin menjadi setelah melihat pengaruh kota pada istrinya yang pernah membuatnya mabuk kepayang.

Rumah Tangga yang Bahagia Sergei Mikhailich dan Marya Alexandrovna tidak lagi bahagia setelah mengalami benturan-benturan yang berkaitan dengan konsep muda-tua dan desa-kota. Atau seperti yang dipikirkan Masha, rumah tangga mereka bukannya sudah tidak bahagia, melainkan mungkin mesti meredefinisi kebahagiaan dan meninggalkan konsep kebahagiaan yang dulu pernah mereka rasakan.

Supernova Episode: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh - Dewi Lestari



Judul Buku: Supernova Episode: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2016 (terbit pertama kali tahun 2001)


Pernahkah kamu mendengar pernyataan bahwa hal-hal keilmuan itu penuh istilah aneh nan njlimet? Di sisi lain, ada juga pernyataan bahwa apa-apa yang secara njlimet dijelaskan oleh suatu disiplin ilmu tertentu sebenarnya sederhana. Stereotip semacam inilah yang teringat saat saya membaca Supernova Episode: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dee Lestari, khususnya pada adegan dua tokohnya berdebat tentang itu.

Buku ini terdiri atas tiga plot: (1) penulisan suatu roman dengan tendensi ilmiah oleh sepasang gay, yang satu, Dimas, condong pada watak nyeni dan yang satu lagi, Reuben, pada watak ngilimiah; (2) perselingkuhan seorang jurnalis bersuami, Rana, dengan seorang managing director suatu perusahaan multinasional, Ferre atau Re; (3) perjumpaan seorang pelacur kelas wahid, Diva, dengan kebobrokan-kebobrokan manusia. Tiga plot ini saling menyelingi.

Terdapat ruang kosong antarplot sehingga hubungan satu sama lainnya muncul seiring dengan laju cerita. Misalnya, ruang kosong itu tampak pada penamaan tokoh karya sepasang gay tadi. Mereka menamai tokoh-tokohnya Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Hanya dari obrolan merekalah kita mengetahui karya mereka, dan obrolan mereka atas tokoh-tokoh itu cocok dengan keadaan yang dihadapi Re, Rana, dan Diva sehingga muncul kesan bahwa tiga tokoh itu adalah tokoh rekaan Dimas dan Reuben. Tapi, seiring laju cerita kesan itu direvisi. Re, Rana, Diva, Reuben, dan Dimas berada pada dunia yang sama. Soal ini akan kita bahas lebih lanjut kemudian.

Menyatut pernyataan Reuben tentang plot semacamnya, plot Ferre dan Rana adalah suatu klise. Seorang istri bertemu lelaki lajang yang menggoncang hidupnya yang lancar-lancar saja. Pergolakan muncul dari benturan antara hasrat bercinta dan kedudukan profesional dan personal mereka. Puncak kemelut itu dileraikan oleh tindakan pihak-pihak selain mereka berdua, yakni suami Rana dan Diva. Pada akhirnya Ferre dan Rana tidak bersatu, tapi itu bukan sesuatu yang menyedihkan seperti dongeng Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, kisah yang mengilhami Dimas untuk menulis ceritanya, kecohan yang disebutkan di awal buku.

Dalam obrolan tentang karya mereka, Dimas dan Reuben membahas beragam teori. Teori-teori tersebut ditempatkan di antara adegan-adegan Ferre, Rana, dan Diva sehingga muncul kesan bahwa itulah penjelasan teoritis atas peristiwa-peristiwa tersebut. Secara tersurat Reuben menyatakan bahwa kisah klise perselingkuhan itu digunakan untuk menunjukkan penerapan fakta penelitian sains dalam kehidupan sosial. Teori-teori canggih yang dijelaskan Reuben terejawantah dalam kejadian-kejadian yang dialami Ferre, Rana, dan Diva. Di sisi lain, ada adegan semacam adegan pertama buku ini. Di situ anak muda mabuk psikotropika. Tapi, karena dijelaskan oleh Reuben dengan istilah teoritis, kegiatan mabuk-mabukan itu lebih terdengar seperti kuliah sains. Ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa sastra adalah upaya membumikan hal-hal abstrak. Tapi, di sisi lain, bisa dibilang juga ada kecenderungan untuk mengabstrakkan peristiwa-peristiwa sehari-hari. Kecenderungan itu sendiri ditertawakan lewat adegan Dimas mengejek Reuben yang suka menggunakan istilah-istilah aneh untuk menjelaskan peristiwa yang sederhana.

Dimas dan Reuben memang meniatkan karya itu sebagai perpaduan antara sastra berdimensi luas dan sebuah tulisan yang menjembatani semua percabangan sains. Pernyataan ini dan petunjuk-petunjuk tadi adalah pintu menuju persoalan-persoalan lebih abstrak yang diajukan buku ini. Hidup Ferre dan Rana, misalnya, dijadikan suatu perumpamaan tentang sistem dan kemungkinan perkembangannya. Secara teoritis persoalan itu dijelaskan lewat pembahasan tentang fraktal Mandelbrot, atraktor asing, bifurkasi, reversed order mechanism. Kesadaran berkali-kali dibahas Dimas dan Reuben, dari aspek kesadaran, sinyal lokal-nonlokal, sampai Faraday’s Cage. Masalah kesadaran mengarahkan pembahasan pada persoalan kehendak bebas sehingga dinyatakan bahwa wujud kehendak bebas adalah kebebasan untuk mengubah kesadaran, misalnya, dalam kasus perselingkuhan itu, mengubah anggapan bahwa suatu bencana adalah berkah atau sebaliknya. Kesadaran Dimas dan Reuben tentang adanya orang-orang yang entah bagaimana berkaitan dengan tokoh-tokoh rekaan mereka menjadi jembatan menuju pembahasan tentang kenyataan. Teori tangled hierachy Douglas Hofdstadter dan sinkronisitas Carl Jung menjadi landasan pembahasan itu. Semua pembicaraan teoritis itu menuju pada pernyataan tentang ketakterbatasan dan dengan demikian segala sesuatu saling terhubung. Di sini sains menjadi jalan menuju hal-hal mistik.

Ketakterbatasan itu berusaha diejawantahkan Dee dalam sosok Diva. Kedudukannya membuatnya tampak seolah melampaui manusia. Tapi, di sinilah juga persoalan ketakterbatasan itu muncul. Dia bisa bersikap melampaui moral hitam-putih karena sebagai pelacur kelas tinggi yang amat cantik dia memiliki kekuatan modal. Dia tidak perlu tunduk pada aturan-aturan moral kekuatan-kekuatan lain. Kalau mengingat internet adalah sarana yang mendukung keterhubungan semua orang, kedudukannya sebagai cyber avatar bernama Supernova bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan, pada beberapa adegan sosok yang seolah netral-moral itu justru terlihat menjunjung suatu moral tersendiri, sebagaimana tampak pada adegan peragaan busana anak-anak, hubungan menyerempet romantisnya dengan Gio, dan obrolannya dengan lelaki-lelaki berkedudukan yang menyewanya. Sebagai konsekuensi pengejawantahan ketakterbatasan dalam wujud manusia, sebagaimana pernyataan bahwa kesadaran akan membatalkan ketakterbatasan, ketakterbatasan itu justru terasa seperti manusia yang berada di puncak hal-hal yang terbatas. Tapi, memang ada aspek mistik dalam sosok Diva: kemampuannya untuk mengetahui begitu saja masalah dan kehadiran tokoh-tokoh lain dan kemampuannya untuk berkomunikasi lewat semacam telepati dengan Ferre.

Masalah ketakterbatasan sebagai akibat kekuatan modal juga tampak dalam pembicaraan Diva dengan seorang pebisnis dan pejabat. Batasan-batasan semacam negara dan kewarganegaraan lebur oleh kehadiran perusahaan-perusahaan multinasional, lenyap oleh kekuatan modal. Pejabat dan pebisnis itu kemudian sekadar menjadi perpanjangan tangan perusahaan multinasional dan kehilangan identitas nasionalnya. Pada titik ini ketakterbatasan perusahaan-perusahaan multinasional itu lebih terasa sebagai bentuk besar ketakterbatasan sosok semacam Diva. Barangsiapa punya modal, dia bisa mewujudkan potensi tak terbatasnya.

Supernova Episode: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh adalah upaya untuk membumikan teori-teori ilmiah yang terdengar njlilmet dalam rangka menyatakan aspek mistik sains, serta konsekuensi dan penyebab ketakterbatasan dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 10 Juli 2017

Perahu Kertas - Dewi Lestari




Judul Buku: Perahu Kertas
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit:  Bentang Pustaka & Truedee Pustaka Sejati
Tahun Terbit: 2009




Siapa sih yang tidak punya keinginan, baik yang sederhana maupun yang tinggi-tinggi atau yang biasa disebut cita-cita? Siapa pun itu, orang yang punya keinginan akrab dengan yang namanya benturan keadaan. Inilah yang kemudian memberi pilihan, dobrak, kompromi, atau lupakan sama sekali. Sederhana. Tapi, kalau kita sedang mengalami situasi itu, wah, jangan tanya. Nah, inilah persoalan yang terejawantah beragam rupa dalam Perahu Kertas karya Dee alias Dewi Lestari.

Wujud pertama persoalan ini adalah wujudnya yang konvensional: cita-cita menyangkut bidang yang ingin ditekuni dua tokoh utamanya. Kugy ingin jadi juru dongeng dan Keenan ingin jadi pelukis. Keduanya cukup mahir di bidangnya. Tapi, hal itu dibenturkan dengan keadaan dalam buku ini. Dongeng bukan jenis cerita yang “diakui” untuk memungkinkan Kugy berkarir sebagai penulis. Sementara itu, Keenan dilarang bapaknya yang memiliki trading company untuk menggeluti seni lukis. Intensitas benturan keduanya berbeda, dan dengan demikian, reaksi keduanya berbeda. Benturan Kugy tidak intens. Dia pun sadar diri tentang kedudukan dongeng di kancah penulisan. Makanya, dia tidak masalah saat mesti menulis bukan dongeng. Kontras dengan itu, benturan Keenan sangat intens, yakni bapaknya memaksanya untuk kuliah ekonomi dan melarangnya untuk berhubungan dengan Wayan, seorang pelukis kenalan keluarga mereka. Makanya, Keenan cenderung memberontak dan emosional. Inilah yang membuat sikapnya atas bidangnya agak kurang perhitungan. Begitu dapat kabar dari Wanda soal lukisannya terjual, Keenan langsung ingin mengundurkan diri dari kampus dan fokus melukis saja, dan menjalani hidup kere. Lebih kentara lagi bisa dilihat dalam sikapnya terhadap aspek jual-beli seni rupa. Pandangannya agak naif dalam melihat peran kurator dan galeri dalam sistem itu. Lihat saja sikapnya dalam berhubungan dengan Galeri Warsita milik bapak Wanda. Kesungkanan dalam hal uang juga masih terasa saat awal-awal berkiprah di galeri Pak Wayan di Bali. Berbeda sekali dengan Kugy yang cukup dewasa dalam memandang dunia penulisan. Konflik dari perbedaan ini tampak pada kejengkelan Kugy pada Keenan saat merengek soal cara Wanda menjual karyanya. Tapi, sikap Keenan dalam hal ini berkembang seiring pengalamannya, sebagaimana tampak saat dia menggarap proyek kolaborasi dengan Kugy pada bagian akhir-akhir. Meskipun demikian, saking intensnya sikap nonkompromi Keenan itu Kugy juga cukup terpengaruh. Sebaliknya, Kugy menularkan sikap komprominya pada Keenan.

Persoalan keinginan ini dimunculkan juga dalam hal cinta. Ada tiga kubu dalam hal ini. Wanda dan Ojos adalah kubu yang sradak-sruduk walaupun Ojos bisa lebih mengendalikan diri. Keduanya cenderung secara gamblang memaksakan keinginannya. Wanda memanfaatkan kedudukannya sebagai kurator untuk menyiasati Keenan. Ojos mendesak Kugy untuk ikut liburan ke Bali, padahal keadaannya tidak memungkinkan. Ketika cinta yang mereka inginkan tidak didapatkan, mereka meledak. Luhde dan Remi sebaliknya. Ketika menyadari bahwa Keenan dan Kugy mustahil untuk mereka dapatkan, mereka cenderung berusaha untuk menguasai dirinya agar merelakannya. Luhde lebih kalem. Remi sebenarnya sama agresifnya seperti Wanda. Hanya saja geraknya lebih elegan, dan berbeda dengan Wanda yang tidak terlalu dicintai Keenan, Remi dicintai Kugy. Di antara kedua kubu itu terdapat Kugy dan Keenan yang cenderung menelan sendiri rasa cintanya, tidak menggamblangkannya, dan kemudian mengalami kompromi-kompromi yang sebenarnya kurang disukainya. Sejak awal pertemuan mereka sudah jelas bahwa keduanya saling jatuh hati. Keduanya saling melengkapi. Kugy yang sebenarnya hanya acak-acakan di permukaannya saja menyuntikkan keteraturan pada Keenan yang meledak-ledak. Sebaliknya, Keenan mengobarkan Kugy. Dalam perjalanannya, keduanya bahkan cukup mesra. Hanya saja mereka tidak menyatakannya secara gamblang. Kesulitan untuk menyatakan perasaan itu diperparah oleh banyak salah paham yang menjadi teknik berulang untuk meningkatkan ketegangan cerita.

Dalam perkembangan konflik-konflik itu, waktu berperan penting. Secara eksplisit waktu cerita ini berkisar antara tahun 1999 dan 2003, ditambah satu bab yang keterangan waktunya adalah “hari ini”. Waktu selama itu berpengaruh pada perkembangan psikologis tokoh-tokohnya. Misalnya, keberjarakan Kugy dari Noni, karibnya itu, diperintens oleh kesibukan Kugy di Sakola Alit dan hasratnya untuk cepat lulus kuliah selama beberapa tahun. Keputusan Keenan untuk mengambil alih perusahaan bapaknya saat bapaknya sakit akan terasa ujug-ujug kalau tidak ditekankan bahwa Keenan cukup lama digembleng  oleh pengalaman di Bali. Waktu terutama berpengaruh pada perasaan Kugy dan Keenan. Lamanya mereka saling berjauhan menyebabkan mereka mengambil keputusan penting perihal perasaannya.

Perahu Kertas adalah tentang bagaimana waktu membolak-balikkan orang ke dalam keadaan-keadaan yang menuntutnya untuk memilih antara berkeras, berkompromi, atau melupakan cita dan cintanya. Pada akhirnya waktu juga yang akan menguak manalah yang kita pilih.

Jumat, 07 Juli 2017

Laskar Pelangi - Andrea Hirata



Judul Buku: Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2005


Pola tradisional dalam bercerita adalah kehadiran seorang sosok pahlawan di tengah kemelut. Biasanya sosok itu memiliki sesuatu yang menonjol, misalnya, memiliki kualitas yang tidak biasa, sehingga kelanjutan kisahnya cukup menarik untuk disimak. Unsur sosok semacam itulah yang membuat saya menuntaskan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Secara teknis sebenarnya ada beberapa kelemahan, terutama yang berkaitan dengan narator. Mayoritas isi buku ini dinarasikan lewat sudut pandang orang pertama bernama Ikal. Sah-sah saja apabila narator sudut pandang orang pertama menafsirkan situasi batin tokoh-tokoh lainnya. Tapi, berdasarkan cara penyampaiannya seakan dia bisa masuk pada pikiran tokoh lainnya, seperti pada banyak adegan yang melibatkan Bu Mus, guru SD-nya, atau pada saat memberikan paparan tentang Flo pada bab The Tower of Babel. Dalam hal jarak antara cerita dan narator juga terdapat kelemahan. Setidaknya sampai bab 30 cerita tentang masa SD dinarasikan oleh Ikal dewasa. Barangkali karena bagian itu merupakan semacam nostalgia, ceritanya melaju lebih cenderung asosiatif daripada kronologis sehingga peristiwa-peristiwa itu campur aduk. Misalnya, saat menilai rancangan gitar Lintang yang stang bisa dilipat dianggap sebagai hal yang baru pertama kalinya dilihat Ikal, padahal dia sudah sering melihat keanehan semacam “pemain biola yang ketiduran ketika sedang manggung, panggung yang roboh, musisi yang menghancurkan alat-alat musik, pemain gitar yang kesetrum, seorang pria midland yang makan kelelawar, atau orang-orang kampung yang meniru-niru Mick Jagger.” Beberapa hal yang disebutkan Ikal itu lebih mungkin disaksikannya setelah masa sekolah dasar. Pada beberapa bagian cerita jadi terasa anakronistis.

Tapi, kehadiran tokoh-tokoh yang menonjol mengatasi kelemahan-kelemahan macam itu. Salah satu tokoh yang menonjol adalah Lintang. Kalau ditilik-tilik lagi, memang akan muncul permasalahan berikut: secara tersurat keluasan wawasan Lintang didapatkan dari membaca buku-buku milik kepala SD Muhammadiyah. Tidak disebutkan lagi sumber lain. Kalau melihat keluasan wawasan Lintang, yang secara cemerlang ditunjukkan pada adegan cerdas cermat dengan sekolah PN, muncullah pikiran: betapa berlimpahnya buku-buku bapak kepala untuk ukuran sekolah dasar yang dicitrakan miskin itu. Bapak kepala setidaknya punya buku tentang The Hunchback of Notredame, Edgar Allan Poe, Vincent van Gogh, penyakit Basedow, Rene Descartes, dst.. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa buku-buku seberlimpah itu di sekolah semiskin itu? Sebagaimana beberapa hal lain dalam buku ini, saya cenderung menganggapnya sebagai penerapan hiperbola untuk menekankan hal yang ingin dipermasalahkan penulisnya. Lintang ditonjolkan untuk membahas permasalahan potensi yang terkubur karena masalah ekonomi. Kepintarannya seringkali dikontraskan dengan kemiskinan keluarganya yang dikepalai oleh seorang kuli kopra. Bahkan, untuk memberikan penekanan lagi terhadap masalah itu, putus sekolahnya Lintang karena harus menjadi pencari nafkah gara-gara bapaknya meninggal dijadikan adegan puncak pada bagian pertama buku ini.

Kalau Lintang digambarkan sebagai jenius dalam hal ilmu pengetahuan, tokoh menonjol lainnya, Mahar, digambarkan sebagai jenius seni. Kemampuan seni rupa, musik, dan teater unggul. Dia adalah kontras Lintang. Kreativitas seninya diposisikan sebagai kontras rasionalitas, bahkan (sekali lagi) secara hiperbolis kreativitas itu diasosiasikan dengan hal-hal irasional semacam perdukunan dan hal-hal gaib. Minat ini lantas dijadikan pijakan bagi lanturan cerita yang cocok juga untuk jadi kisah petualangan yang bisa dijadikan cerita tersendiri: kisah pencarian Tuk Bayan Tula dan kisah perkumpulan Societeit de Limpai. Sekali lagi, pertanyaannya sama dengan kasus Lintang, dari mana Mahar dapat modal sehingga memiliki kesempatan untuk mencapai kemampuan seni semacam itu?

Tapi, terlepas dari pertanyaan-pertanyaan tentang kelogisan latar belakang mereka, tidak bisa tidak diakui Lintang dan Mahar adalah tokoh menonjol yang menjadi daya tarik buku ini.

Sebagaimana ditunjukkan oleh pemilihan Lintang sebagai tokoh penting dalam adegan puncaknya, kaitan antara ekonomi dan pendidikan adalah masalah yang diajukan buku ini. Ada kontras antara SD Muhammadiyah yang miskin dan sekolah PN yang makmur. Bahkan, terdapat satu bab khusus yang secara panjang lebar membahas kemakmuran sekolah PN dan lingkungan sosial yang melingkupinya. Karena penulisnya berpihak pada SD Muhammadiyah, dia menampilkan adegan-adegan yang menunjukkan keunggulan sekolah itu dari sekolah PN walaupun secara finansial mereka kalah. Tengok saja adegan lomba cerdas cermat dan karnaval 17 Agustus.

Meskipun dipenuhi adegan-adegan bernada optimis, secara mengejutkan bagian-bagian akhir buku ini dipenuhi nada pesimis. Kepesimisan itu dimulai dari bab tentang putus sekolah Lintang, lalu melompat waktu ke bab-bab yang membahas masa dewasa anggota Laskar Pelangi. Memang, ada keadaannya digambarkan cukup optimis, tapi kebanyakan sebaliknya, khususnya dalam kaitannya dengan keadaan ekonomi dan pendidikannya. Agaknya ini menjadi penekanan bahwa masalah ekonomi dan pendidikan itu tidak terelakkan.

Lewat tokoh-tokoh yang punya kualitas tidak biasa, Laskar Pelangi mengajukan permasalahan ekonomi yang berpengaruh pada pendidikan. Kontras antara suasana pesimis pada bagian akhirnya dan suasana optimis pada bagian-bagian awalnya adalah suatu penekanan betapa mendesaknya masalah itu.