Kamis, 13 Desember 2018

Girls in the Dark - Akiyoshi Rikako


Rahasia dan Kebohongan Adalah Resep Ketegangan

Judul Buku: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Tahun Terbit: 2014


Biasanya seseorang menarik perhatian orang yang diincarnya dengan hal yang diminati si incaran. Seumur hidup saya sampai sekarang saya tahu beberapa orang yang cari perhatian dengan menunjukkan wawasan sastranya pada si incaran. Baru-baru ini saya menemukan lagi satu orang yang melakukan cara itu. Namanya adalah Shiraishi Itsumi, seorang ketua Klub Sastra di sebuah SMA katolik di Jepang. Dia menghidupkan kembali Klub Sastra sebagai siasat untuk dekat dengan seorang lelaki. Tapi untuk sekarang kita cukupkan dulu ngomong soal Itsumi sebagai tukang caper. Sebab kita akan membicarakan Itsumi sebagai gadis yang ditemukan tewas tanpa diketahui penyebab jelasnya, pendorong plot utama dalam Girls in the Dark karya Akiyoshi Rikako ini.

Buku ini berisi enam versi cerita kematian Itsumi yang dibacakan oleh enam anggota Klub Sastra dalam pertemuan mendaras rutinan dalam gelap yang disebut yami nabe. Para anggota klub menulis cerita versi mereka atas kejadian naas tadi.

Di sini subjektivitas masing-masing anggota terasa. Dalam kisah tentang kematian Itsumi terdapat juga banyak informasi tentang diri mereka masing-masing. Mulai dari cita-cita pribadi sampai alibi. Ya, kamu tidak salah baca: alibi. Sebab, versi-versi itu mengandung argumen tentang siapa pembunuh Itsumi. Dan tertuduh di sini adalah para anggota Klub Sastra. Inilah yang meningkatkan ketegangan.

Katanya, ketika kita menyadari bahwa hal yang kita ketahui selama ini adalah suatu kebohongan atau setidaknya keliru, rasa percaya kita akan hal-hal lain jadi berkurang. Begitulah yang saya rasakan begitu membaca cerita kedua, yakni versi Kominami Akane. Sebab, di situ ada beberapa informasi yang bertentangan dengan yang disebutkan dalam cerita pertama, versi Nitani Mirei. Maka, saya yang pada cerita pertama membaca dengan polos dan menerima begitu saja, tidak bisa lagi percaya begitu saja pada apa-apa yang diceritakan dalam buku, apalagi tertuduhnya selalu berbeda tiap cerita. Tidak menemukan hal yang bisa dipercaya dapat menimbulkan ketegangan dan rasa penasaran yang meletup-letup.

Berdasarkan bagian-bagian yang menunjukkan informasi tentang si pencerita, bisa dibilang kebanyakan tokoh dalam novel ini adalah orang-orang yang kelewat ambisius. Pengejawantahannya bisa bermacam-macam. Mulai dari berambisi untuk mendapatkan pujaan hati, membuka usaha restoran gaya barat, sampai berambisi untuk menjadi sosok paling penting dalam kehidupan sosial. Dan di sini ambisius digambarkan tidak terlalu positif. Sebab, sifat itu mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan destruktif, seperti memanipulasi orang untuk tunduk, mencelakakan, sampai membakar gedung.

Di sisi lain, ambisi itu, melalui tindakan-tindakan tadi, membuat orang itu memiliki rahasia gelap. Tidak berhenti sampai di situ, buku ini cukup panjang lebar merenungkan rahasia. Salah satu tokoh bahkan berkata bahwa semakin seseorang kelihatan baik semakin busuklah rahasianya. Inilah yang kemudian menjadikan rahasia sebagai salah satu kunci untuk menaklukkan dan mengendalikan orang. Berdasarkan pandangan semacam ini, jelaslah kenapa para anggota Klub Sastra menulis yang baik-baik tentang dirinya sendiri maupun tentang Itsumi. Satu-satunya yang digambarkan tidak baik adalah orang yang dituduh sebagai pembunuh Itsumi.

Soal budaya berahasia ini, Diana Detcheva sebagai murid internasional, atau dengan kata lain, sebagai orang asing, memiliki pendapat yang bagus. Dia menyatakan bahwa pergaulan para siswi SMA katolik itu seperti berdiri di atas jalinan tali yang kedua ujungnya sama-sama ditarik. Semua orang saling tersenyum di depan. Tapi seperti ada suatu ketidaknyamanan yang kuat di baliknya. Di sini dia berbicara tentang ketulusan dan kesetiaan dalam bersahabat. Topik ini digemakan lebih kuat lagi oleh hubungan antara Itsumi dan anggota Klub Sastra.

Menurut saya, bukan hanya judul maupun acara yami nabe yang gelap dalam buku ini, tetapi juga cara buku ini memandang persoalan-persoalan di dalamnya. Bahwa hubungan antarmanusia adalah suatu hal yang suram, tidak bisa dipercaya, dan sama sekali tidak tulus. Tapi untungnya kegelapan itu diimbangi dengan ketegangan atas rahasia kematian Itsumi. Jadi ada yang menyeimbangkan rasa suram itu. Perasaan saya bisa agak teralihkan. Kalau tidak, mungkin setelah membaca ini, suasana hati saya akan muram durja, seperti ketika saya beres menonton Requiem of a Dream atau (yang belum lama ini) membaca New Grub Street

Di tengah semua ketegangan itu pernak-pernik kegiatan membaca adalah salah satu peleganya. Ada banyak referensi karya menarik di sini. Setiap anggota punya penulis atau karya yang berkesan untuk dirinya. Dan referensi itu juga menunjukkan sedikit-banyak kepribadiannya. Misalnya, Koga Sonoko yang berambisi menjadi dokter menyukai karya Michael Crichton dan Robin Cook yang mengandung unsur medis. Lebih lanjut, cerita Sonoko berisi semacam tips membaca yang menarik. Mulanya dia hanya bisa mengatakan hal-hal semacam “menarik” setelah membaca buku. Tapi pergaulannya dengan Klub Sastra membuatnya belajar untuk menikmati kegiatan membaca lebih jauh. Dia belajar untuk menjelaskan perasaan dan penilaiannya ketika membaca, mendudukkan topik dalam bacaannya dengan konteks di sekitarnya, membicarakannya bahkan mendebatkannya, dan menuliskannya secara sistematis. Pendeknya, tips yang amat bermanfaat untuk siapa pun yang ingin menikmati kegiatan membaca lebih jauh.

Sebagai sebuah teka-teki kematian seseorang, Girls in the Dark memantik rasa penasaran yang terpuaskan di akhir cerita. Sebagai pemantik pembicaraan tentang ambisi dan hubungan antarmanusia novel pertam Akiyoshi Rikako ini memberikan asupan-asupan yang membuat kita lebih peka lagi terhadap topik-topik tadi. Apa pun itu, novel ini tetap nikmat. Cukup menyisakan kegelisahan memang. Dan tentunya rasa penasaran untuk membaca karyanya yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar