Jumat, 31 Juli 2015

Bisik-Bisik - Reda Gaudiamo


Judul Buku
:
Bisik-Bisik
Penulis
:
Reda Gaudiamo
Penerbit
:
Eksotika Karmawibhangga Indonesia
Tahun Terbit
:
2004



Kadang seseorang mengalami peristiwa yang biasa saja, kadang juga yang agak tidak biasa, dan sesekali luar biasa. Sialnya, seringkali semua itu tumpang tindih,sehingga kadang peristiwa biasa terasa luar biasa. Begitulah dua puluh tujuh cerita dalam Bisik-Bisik.

Peristiwa-peristiwa itu hampir semua ditampilkan lewat dialog para tokoh belaka, kecuali satu dua cerpen yang mengandung secuil narasi. Kadang dialog berkisar tentang masalah yang sedang dihadapi tokohnya. Pada “Kawin 2” seorang perempuan yang hamil duluan mendesak pacarnya untuk menikah, sedangkan lelaki itu berusaha menolak. Kadang tokoh-tokoh itu menggunjingkan orang lain. Pada “Bisik-Bisik 2” dua perempuan menggunjinkan keadaan rumah tangga seorang teman yang pestanya mereka datangi. Ada juga dialog-dialog yang terasa seperti ceracau dan yang ragu-ragu dan serba terserah. Pada “’Mong-Omong” seseorang ngomong tentang makanan, sedangkan seorang lagi ngomong tentang liburannya ke Singapura, film yang ditontonnya, dan temannya yang mau kawin. Pada “Jawab Aku” seorang istri minta pendapat tentang pilihan baju, celana, rok, dan gaya rambutnya, sedangkan suaminya ikut saja apa kata istrinya. Permasalahan dalam Bisik-Bisik ditampilkan lewat dialog belaka, lewat perdebatan, gunjingan, dan ceracau tokohnya.

Kecuali beberapa cerpen yang dialognya kurang jelas menyiratkan identitas tokohnya, dialog dalam Bisik-Bisik terjadi antara orang sedarah (orang tua dan anak atau adik dan kakak), pasangan (pacar atau suami-istri), dan teman (rekan kerja atau sekadar teman). Pada “Matinya Lelaki 1” seorang lelaki mengeluhkan keposesifan istri temannya yang mengganggu pekerjaan suaminya. Pada “Sayang” seorang suami secara tersirat menekankan hasratnya untuk memiliki anak lelaki pada istrinya. Pada “Bertanyalah” seorang perempuan, yang juga seorang guru, menyuruh murid-muridnya untuk banyak bertanya, sedangkan di rumah dia melarang anaknya untuk bertanya. Pada “Nonton” seseorang mengajak nonton orang yang berkali-kali menanggapinya dengan “kenapa?”

Hubungan antartokoh dalam Bisik-Bisik mengerucutkan kemungkinan topik obrolan, sehingga cerpen-cerpen itu umumnya bertopik hubungan pasangan (suami-istri, selingkuhan, atau pacar) –inilah yang paling banyak, hubungan anak-orang tua, dan pengaruh rumah pada kantor. Ada dua perspektif tentang pengaruh keadaan rumah tangga pada pekerjaan. Pertama, rumah tangga menghambat kerja, terutama jika pasangan sangat posesif, seperti yang tampak pada “Matinya Lelaki 1” dan “Matinya Lelaki 2”. Kedua, seseorang berusaha menyeimbangkan kehidupan rumah tangga dengan pekerjaan, seperti pada “24x60x60”. Sementara itu, cerita-cerita yang bertopik hubungan anak-orang tua menyiratkan masalah cara mendidik anak tentang hal-hal keagamaan, seperti pada “Minggu Pagi”, dan hal-hal umum, seperti pada “Bertanyalah” dan “Sidak”. Pada beberapa cerpen kepolosan anak maupun kecerdikannya menjadi sumber kelucuannya, seperti pada “Iman” dan “Masuk Surga”. Sementara itu, pernikahan, perselingkuhan, dan hubungan keluarga-menantu adalah permasalah yang banyak muncul dalam cerpen yang bertopik hubungan pasangan.

Dalam Bisik-Bisik ada cerpen yang sangat pendek –saya menggolongkan cerpen yang panjangnya kurang dari lima lembar ke dalamnya-- dan ada yang pendek –cerpen yang panjangnya lima lembar atau lebih. Cerpen yang sangat pendek umumnya berakhir dengan tohokan (punch line), seperti bagaimana seorang anak mengajak ibunya bicara tentang surga hanya untuk menggiring pembicaraan ke arah minta dibelikan es krim (“Masuk Surga”), atau bagaimana seorang ibu memarahi panjang lebar anaknya lewat telepon, menyadari bahwa yang memegang telepon adalah pembantunya (“Sidak”). Cerpen-cerpen sangat pendek dalam Bisik-Bisik cocok untuk mengisi kolom humor di majalah atau koran. Sementara itu, Cerpen yang tanpa embel-embel “sangat” memungkinkan persoalan di dalamnya digali lebih jauh, seperti pada “24x60x60”, “Menantu”, dan “Matinya Lelaki 2”.

Terakhir, di antara kisah-kisah tentang rumah tangga, pernikahan, dan anak-orang tua, terselip beberapa cerpen yang topiknya jauh sama sekali: “Skripsi” adalah cerita seorang mahasiswa yang berhadapan dengan dosen pembimbing yang rese. “Teman” adalah cerita dua lelaki yang datang ke pesta seorang kenalannya. Cerpen-cerpen ini membuat kumpulan cerpen ini kurang padu.

Bisik-Bisik adalah kumpulan cerita pendek dan sangat pendek tentang permasalahan antara suami-istri, anak-orang tua, dan rekan kerja, yang dituturkan dengan penuh canda.


2 komentar: