Sabtu, 11 Maret 2017

Kewer-Kewer - Libertaria


Judul Album
:
Kewer-Kewer
Penyanyi
:
Libertaria
Perusahaan Rekaman
:
Doggy House Records
Tahun Rilis
:
2016




Kewer-Kewer berisi 10 lagu yang memadukan dangdut dan elektronika dengan lirik tentang masalah sosial dan puji-pujian atas dangdut.

Mari kita mulai dulu dengan membahas liriknya.

Dangdut itu sendiri menjadi topik banyak lagu dalam album ini. Berkali-kali dinyatakan bahwa dangdut adalah aliran musik yang tidak lekang oleh waktu dan menjadi sarana ekspresi segala kalangan, dan dengan demikian, menjadi simbol demokrasi. Dengar saja “DNA”, “Mari-Mari”, “Rakyat Bergoyang”, dan “Kewer-Kewer”. Berdasarkan keyakinan bahwa dangdut adalah simbol demokrasi, penulis lirik grup ini kemudian mengembangkannya ke arah yang lebih politis, seperti yang dinyatakan larik berikut: ‘Bersatu padu tegakkan keadilan / Rakyat bergoyang tak bisa dikalahkan’ dan ‘Sambil bergoyang kita rebut kuasa’. Dalam lagu-lagu itu pun diselipkan istilah-istilah, seperti korupsi, kriminalisasi, dan Gestapu.

Agaknya pengaitan dangdut dan hal-hal politis dalam album ini adalah ancang-ancang untuk menghadapi lirik-lirik politis yang sama sekali tidak  menyebut-nyebut dangdut. Dengan melakukan pembingkaian terhadap fenomena miras oplosan dalam “Orang Miskin Dilarang Mabuk”, grup ini bicara soal keberpihakan pemerintah terhadap orang kaya sehingga dalam kebijakan-kebijakannya justru malah merugikan orang miskin yang sudah hidup susah. Lebih blak-blakan lagi sikap menunjuk muka pemerintah itu ditunjukkan lewat “Interupsi”. Di situ dinyatakan bahwa ‘rakyat itu majikan’ dan ‘anggota dewan statusnya hanyalah pembantu’. Tapi, agaknya penulis lirik grup ini pun sangsi sendiri dengan pandangannya tentang pemerintah. Makanya, pada lagu lain dia menyatakan ‘teruslah bekerja / jangan berharap kepada negara’. Meskipun begitu, dalam “Nyalakan Api” yang longgar konteksnya, ada secercah optimisme dalam keadaan yang muram itu.

Barulah sekarang kita bahas sekelumit hal-hal musikalnya.

Di antara sekian banyak unsur dangdut dalam album ini setidaknya ada tiga yang bisa saya tangkap.

Irama takdungdangdut terasa dalam alunan bas dan bagian perkusinya. Kadang dalam bentuk murninya maupun dengan penambahan atau pengurangan nada dan pemanjangan atau pemendekan durasi nada. Misalnya, dalam frase bas pembuka “Orang Miskin Dilarang Mabuk” atau dalam gendang tebal frase kedua chorus “DNA” yang mengiringi vokal Riris Arista.

Frase asikasikjos yang terkenal itu pun mengakhiri frase beberapa lagu. Pada “Jalur Pantura” frase itu menjembatani perubahan irama perkusi, sementara pada “Interupsi” frase itu sekadar menjadi akhir frase verse-nya.  

Pemanduan MC lelaki yang enerjik, sebagaimana biasa tampak dalam video-video konser dangdut di Youtube, membuka “DNA”. Pemanduan itu seenerjik seruannya saat mengeja “DNA!”, yang bisa jadi berarti zat intisari dalam tubuh makhluk hidup atau akronim ‘dangdut nang jero ati’, diiringi pecahan crash drum machine yang memberi penekanan pada tiap hurufnya. Peng-MC-an yang lebih ala konser rock atau dugem muncul dalam “Mari-Mari” dan “Kewer-Kewer”. 

Sementara itu, drop yang didahului buildup dan sampling drum break adalah dua dari sekian banyak unsur elektronika dalam album ini. 

Drop bertebaran di mana-mana. Tentu saja. Zaman sekarang memainkan musik elektronika tanpa drop seperti tubuh tanpa jiwa. Sejak “Rakyat Bergoyang”, lagu pertama yang dibuka dengan suatu kur dengan latar drum machine yang militeristik, drop sudah muncul. Di situ drop didahului oleh buildup yang berupa paduan suara desis yang menggerung perlahan dan hentakan cempreng snare drum machine yang makin lama makin cepat. 

Pada “Interupsi” sampling drum break menjadi pengiring suara perempuan di kuping kiri yang berbunyi ‘gok... sogok... sogok...’ lalu ditimpali suara lelaki di kuping kanan, ‘Papa minta saham.’ Pada “Teruslah Bekerja” sampling drum break yang berhenti-berhenti menjadi irama bagi geolan sintesizer yang terdengar seperti diadaptasi dari lagu “Mojang Priangan”.

Kewer-Kewer adalah penghargaan terhadap dangdut yang dianggap adaptif secara musikal maupun politis, yang diwujudkan dengan cara membaurkannya dengan genre lain yang notabene melambangkan kelas sosial tertentu dan menjadikannya sarana penyampaian gagasan politis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar