Selasa, 11 Juli 2017

Rumah Tangga yang Bahagia - Leo Tolstoy



Judul Buku: Rumah Tangga yang Bahagia (judul buku versi Bahasa Inggris: A Happy Married Life)
Penulis: Leo Tolstoy
Penerjemah: Dodong Djiwapradja (penerjemah Bahasa Inggris: Margaret Wettlin)
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 1976 (terbit pertama kali tahun 1859)


Ada seorang gadis dan seorang lelaki. Mereka bertemu, menikah, lalu kena prahara. Rumah tangga mereka tak lagi sama. Terdengar familiar? Ya, memang sefamiliar itulah Rumah Tangga yang Bahagia karya Leo Tolstoy kalau dirangkum dalam tiga kalimat. Apakah akan tetap sefamiliar itu kalau prahara kisah yang berlatar pedesaan (Pokrovskoye dan Nikolskoye) dan perkotaan (St Petersburg) Rusia ini diuraikan?

Masha alias Marya Alexandrovna adalah gadis belasan tahun akhir yatim piatu yang berasal dari keluarga ningrat atas di Porkovskoye. Selama tinggal di sana dia sering melakukan tirakat dan rajin berdoa. Sergei Mikhailich adalah seorang tuan tanah yang sering bepergian untuk mengurusi bisnis. Dia bersahabat karib dengan almarhum ayah Masha. Perbedaan usia mereka cukup jauh sampai Sergei sempat mengasuh Masha ketika masih kecil. Setelah sempat tinggal di Nikolskoye, setelah menikah, mereka pindah ke St Petersburg. Di situlah prahara benar-benar menerpa rumah tangga mereka. Prahara itu dihembuskan oleh kontras-kontras dalam kisah yang dituturkan oleh Masha ini.

Yang menonjol adalah kontras muda-tua dan kontras desa-kota. Masha muda, Sergei tua. Desa (Pokrovskoye dan Nikolskoye) berasosiasi dengan kehidupan yang tenang, sedangkan kota (St Petersburg) berasosiasi dengan kehidupan yang bergejolak. Kontras itu bisa muncul secara mandiri, bisa juga muncul secara berbaur. Kontras muda-tua dan kontras desa-kota bertimbal balik.

Karena muda, Masha pada awalnya memposisikan Sergei seperti ayahnya, sebagai teladan dan orang yang disegani. Tapi, semenjak dia menyadari afeksi dirinya maupun Sergei, kedudukan tadi jadi bermasalah. Bahkan, dia tersinggung saat merasa dianggap anak bau kencur oleh Sergei yang tidak mau menceritakan kesusahan bisnisnya, padahal mereka sudah menikah.

Karena tua, Sergei sudah menduga bahwa Masha yang masih muda dan terbiasa hidup di desa akan kehilangan rasa sayang padanya kalau menikahinya dan tinggal di kota. Masha pada awalnya sungguh menggebu-gebu mencintai Sergei, bahkan sampai pada taraf dia menjanjikan cintanya. Karena muda, dia polos saja menganggap bersosialisasi di pesta-pesta orang ningrat St Petersburg sebagai upaya untuk menyenangkan Sergei. Lama-lama alasan kedatangannya ke pesta-pesta itu berubah: dia suka dipuja oleh orang-orang yang datang ke pesta itu walaupun tidak tersurat dinyatakannya. Cintanya pada Sergei menghambar. Meskipun sudah menduganya, Sergei tetap kesal juga. Tapi, karena dia sudah tua, sudah berpengalaman, dia cukup bijak untuk bertahan demi anaknya.

Kehidupan kota yang bergejolak dikenal Sergei lewat pesta-pesta para ningrat dan urusan-urusan bisnisnya. Dia tidak menyukainya. Dia lebih menyukai kehidupan tenang di desa. Kehidupan yang didambakannya adalah kehidupan di desa dengan buku, musik, dan ketenangan. Ketidaksukaannya pada kota makin menjadi setelah melihat pengaruh kota pada istrinya yang pernah membuatnya mabuk kepayang.

Rumah Tangga yang Bahagia Sergei Mikhailich dan Marya Alexandrovna tidak lagi bahagia setelah mengalami benturan-benturan yang berkaitan dengan konsep muda-tua dan desa-kota. Atau seperti yang dipikirkan Masha, rumah tangga mereka bukannya sudah tidak bahagia, melainkan mungkin mesti meredefinisi kebahagiaan dan meninggalkan konsep kebahagiaan yang dulu pernah mereka rasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar