Jumat, 07 Juli 2017

Laskar Pelangi - Andrea Hirata



Judul Buku: Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2005


Pola tradisional dalam bercerita adalah kehadiran seorang sosok pahlawan di tengah kemelut. Biasanya sosok itu memiliki sesuatu yang menonjol, misalnya, memiliki kualitas yang tidak biasa, sehingga kelanjutan kisahnya cukup menarik untuk disimak. Unsur sosok semacam itulah yang membuat saya menuntaskan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Secara teknis sebenarnya ada beberapa kelemahan, terutama yang berkaitan dengan narator. Mayoritas isi buku ini dinarasikan lewat sudut pandang orang pertama bernama Ikal. Sah-sah saja apabila narator sudut pandang orang pertama menafsirkan situasi batin tokoh-tokoh lainnya. Tapi, berdasarkan cara penyampaiannya seakan dia bisa masuk pada pikiran tokoh lainnya, seperti pada banyak adegan yang melibatkan Bu Mus, guru SD-nya, atau pada saat memberikan paparan tentang Flo pada bab The Tower of Babel. Dalam hal jarak antara cerita dan narator juga terdapat kelemahan. Setidaknya sampai bab 30 cerita tentang masa SD dinarasikan oleh Ikal dewasa. Barangkali karena bagian itu merupakan semacam nostalgia, ceritanya melaju lebih cenderung asosiatif daripada kronologis sehingga peristiwa-peristiwa itu campur aduk. Misalnya, saat menilai rancangan gitar Lintang yang stang bisa dilipat dianggap sebagai hal yang baru pertama kalinya dilihat Ikal, padahal dia sudah sering melihat keanehan semacam “pemain biola yang ketiduran ketika sedang manggung, panggung yang roboh, musisi yang menghancurkan alat-alat musik, pemain gitar yang kesetrum, seorang pria midland yang makan kelelawar, atau orang-orang kampung yang meniru-niru Mick Jagger.” Beberapa hal yang disebutkan Ikal itu lebih mungkin disaksikannya setelah masa sekolah dasar. Pada beberapa bagian cerita jadi terasa anakronistis.

Tapi, kehadiran tokoh-tokoh yang menonjol mengatasi kelemahan-kelemahan macam itu. Salah satu tokoh yang menonjol adalah Lintang. Kalau ditilik-tilik lagi, memang akan muncul permasalahan berikut: secara tersurat keluasan wawasan Lintang didapatkan dari membaca buku-buku milik kepala SD Muhammadiyah. Tidak disebutkan lagi sumber lain. Kalau melihat keluasan wawasan Lintang, yang secara cemerlang ditunjukkan pada adegan cerdas cermat dengan sekolah PN, muncullah pikiran: betapa berlimpahnya buku-buku bapak kepala untuk ukuran sekolah dasar yang dicitrakan miskin itu. Bapak kepala setidaknya punya buku tentang The Hunchback of Notredame, Edgar Allan Poe, Vincent van Gogh, penyakit Basedow, Rene Descartes, dst.. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa buku-buku seberlimpah itu di sekolah semiskin itu? Sebagaimana beberapa hal lain dalam buku ini, saya cenderung menganggapnya sebagai penerapan hiperbola untuk menekankan hal yang ingin dipermasalahkan penulisnya. Lintang ditonjolkan untuk membahas permasalahan potensi yang terkubur karena masalah ekonomi. Kepintarannya seringkali dikontraskan dengan kemiskinan keluarganya yang dikepalai oleh seorang kuli kopra. Bahkan, untuk memberikan penekanan lagi terhadap masalah itu, putus sekolahnya Lintang karena harus menjadi pencari nafkah gara-gara bapaknya meninggal dijadikan adegan puncak pada bagian pertama buku ini.

Kalau Lintang digambarkan sebagai jenius dalam hal ilmu pengetahuan, tokoh menonjol lainnya, Mahar, digambarkan sebagai jenius seni. Kemampuan seni rupa, musik, dan teater unggul. Dia adalah kontras Lintang. Kreativitas seninya diposisikan sebagai kontras rasionalitas, bahkan (sekali lagi) secara hiperbolis kreativitas itu diasosiasikan dengan hal-hal irasional semacam perdukunan dan hal-hal gaib. Minat ini lantas dijadikan pijakan bagi lanturan cerita yang cocok juga untuk jadi kisah petualangan yang bisa dijadikan cerita tersendiri: kisah pencarian Tuk Bayan Tula dan kisah perkumpulan Societeit de Limpai. Sekali lagi, pertanyaannya sama dengan kasus Lintang, dari mana Mahar dapat modal sehingga memiliki kesempatan untuk mencapai kemampuan seni semacam itu?

Tapi, terlepas dari pertanyaan-pertanyaan tentang kelogisan latar belakang mereka, tidak bisa tidak diakui Lintang dan Mahar adalah tokoh menonjol yang menjadi daya tarik buku ini.

Sebagaimana ditunjukkan oleh pemilihan Lintang sebagai tokoh penting dalam adegan puncaknya, kaitan antara ekonomi dan pendidikan adalah masalah yang diajukan buku ini. Ada kontras antara SD Muhammadiyah yang miskin dan sekolah PN yang makmur. Bahkan, terdapat satu bab khusus yang secara panjang lebar membahas kemakmuran sekolah PN dan lingkungan sosial yang melingkupinya. Karena penulisnya berpihak pada SD Muhammadiyah, dia menampilkan adegan-adegan yang menunjukkan keunggulan sekolah itu dari sekolah PN walaupun secara finansial mereka kalah. Tengok saja adegan lomba cerdas cermat dan karnaval 17 Agustus.

Meskipun dipenuhi adegan-adegan bernada optimis, secara mengejutkan bagian-bagian akhir buku ini dipenuhi nada pesimis. Kepesimisan itu dimulai dari bab tentang putus sekolah Lintang, lalu melompat waktu ke bab-bab yang membahas masa dewasa anggota Laskar Pelangi. Memang, ada keadaannya digambarkan cukup optimis, tapi kebanyakan sebaliknya, khususnya dalam kaitannya dengan keadaan ekonomi dan pendidikannya. Agaknya ini menjadi penekanan bahwa masalah ekonomi dan pendidikan itu tidak terelakkan.

Lewat tokoh-tokoh yang punya kualitas tidak biasa, Laskar Pelangi mengajukan permasalahan ekonomi yang berpengaruh pada pendidikan. Kontras antara suasana pesimis pada bagian akhirnya dan suasana optimis pada bagian-bagian awalnya adalah suatu penekanan betapa mendesaknya masalah itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar