Tampilkan postingan dengan label marga t. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marga t. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2016

Karmila - Marga T


Judul Buku
:
Karmila
Penulis
:
Marga T.
Penerbit
:
Gramedia
Tahun Terbit
:
1974



Karmila berisi tanggapan tokoh-tokohnya atas kehamilan seorang perempuan karena ditiduri seorang lelaki pada suatu pesta mabuk-mabukan.

Perempuan itu adalah Karmila. Pada bagian pertama dia adalah seorang mahasiswa kedokteran yang mendendam pada lelaki yang menjahanaminya dan pada bayi yang dikandungnya. Dia tak segan-segan bersikap kasar pada dua orang itu. Dia tak ingin menyusui dan bahkan mengurus bayi itu. Dia tak mau menemui lelaki itu walaupun lelaki itu minta diampuni. Baginya, kehamilan itu merenggut hidup darinya. Dia mesti cuti kuliah. Hubungannya dengan pacarnya di luar negeri berantakan. Tapi, dia tak mampu menyingkirkan naluri keibuannya. Pada bagian kedua dia adalah seorang dokter spesialis anak yang berusaha menyingkirkan bayangan mantan pacarnya sambil berusaha mencintai suami dan anak-anaknya. Pada bagian ini dia sudah mencintai suaminya karena rasa cemburunya besar. Seiring waktu Karmila lebih lapang menghadapi nasibnya.

Lelaki itu adalah Feisal. Pada pandangan pertama atas Karmila dia sebenarnya sudah jatuh cinta. Hanya saja pengaruh zat-zat memabukkanlah yang membuatnya nekat membius perempuan itu supaya bisa ditiduri. Karena itu, begitu tahu perempuan itu hamil, dia ingin minta ampun. Berkali-kali dia ditolak perempuan itu tapi dia berkeras untuk bertanggung jawab. Dia bahkan rela diinjak-injak oleh Karmila selama kehamilannya. Namun, karena suatu kesalahpahaman, dia jengah juga berusaha membuat perempuan itu mengampuni dan mencintainya. Hampir saja dia menyerah. Sebenarnya perkosaan Feisal adalah pengejawantahan agresif ketertarikannya pada Karmila sehingga dia berupaya sekuat tenaga meminta ampun pada perempuan itu.

Edo, mantan pacar Karmila, menjadi bayang-bayang bagi pernikahannya dengan Feisal. Pada bagian pertama dia hanya hadir sebagai sosok yang dibincangkan. Dia tinggal di Australia. Pada awalnya kepada dialah Karmila kesengsem sampai-sampai perempuan itu berniat mengejarnya ke negeri seberang itu. Pada bagian kedua dia didatangkan ke hadapan. Hanya saja sudah bukan sebagai dambaan melainkan bayangan yang mengganggu. Kesan pengusik ini makin kental karena Edo bertindak sangat agresif. Dia berkeras untuk tinggal di rumah Karmila padahal sudah disuruh pergi. Dia mendatangi vila mertua Karmila tanpa undangan hanya demi mengejar perempuan yang sebenarnya menghindarinya. Pada akhirnya dia menyerah. Meskipun sempat dikesankan sebagai pengganggu, tidak mungkin tidak Edo menjadi tokoh yang simpatik.

Daud Gurong, bapak Feisal, berperan penting bagi kelangsungan hubungan anaknya dan Karmila. Pertama-tama, dia memintaampunkan Feisal pada Karmila. Dia mendorong Feisal untuk bertanggung jawab pada Karmila dengan cara menikahinya. Saat hubungan anak-mantunya memburuk, dia memberikan nasihat tentang cinta dan keluarga, yang memperbaikinya. Dia bertindak demikian karena sadar akan pengaruh hubungannya dengan istrinya kepada Feisal.
sumber gambar: bukuseni.com
Pengaruh hubungan suami-istri terhadap anak mereka menjadi persoalan lain dalam novel ini. Varian pertama adalah Daud Gurong dengan keluarganya. Dia terlalu sibuk bekerja sehingga istrinya tidak bahagia dan menjadi tante girang bahkan meninggalkannya. Dia menyimpulkan inilah pengaruh utama bagi segala kekacauan Feisal. Dia merasa bersalah atas tindakannya. Inilah juga yang dijadikan bahan nasihatnya pada anaknya saat hampir menyerah menghadapi Karmila. Varian kedua adalah Karmila dengan Feisal dan anak-anaknya. Pada awalnya dia menolak mengurus anaknya karena dia tak menginginkannya. Pada akhirnya dia menerimanya, bahkan sampai memiliki dua anak, Fani dan Tasia. Namun, justru saat itu dia malah menjadi curiga dengan Feisal. Jangan-jangan dia mempertahankan pernikahan mereka hanya demi anak-anaknya, bukan karena benar-benar mencintainya. Ini menjadi pendorong Karmila untuk meninggalkan keluarga kecilnya. Untung saja kesalahpahaman ini teratasi. Hal ini ditunjukkan lewat hubungan antara Feisal dan orang tuanya, dan Karmila dan anak-anaknya.

Di sela-sela semua ketegangan itu hadir obrolan-obrolan santai penuh guyon. Pelakunya kebanyakan adalah Karmila dan rekan-rekan kerjanya di rumah sakit. Topiknya meliputi pasien, mahasiwa praktik, sampai kehidupan pribadi masing-masing. Karena sama-sama tahu masa lalu percintaan Karmila, beberapa rekan kerja menawarkan jasa pembunuh bayaran untuk membunuh Feisal. Karmila dan anak-anaknya pun sering bercanda bersama. Yang agak mengejutkan adalah bercandaan Karmila dan Feisal. Kadang mereka berolok-olok tentang hubungan mereka, bahkan sampai tentang perselingkuhan atau perceraian. Selain itu, mereka bercanda tentang bacaan. Secara pribadi saya suka guyonan mereka tentang Intisari. Majalah itu habis-habisan diledek. Guyonan itu benar-benar menyegarkan karena bahkan tokoh yang paling serius pun tak kelewatan membikinnya.

Novel ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berisi masa Karmila belum menikah. Bagian kedua berisi masa setelah Karmila menikah. Secara umum, suasana bagian pertama adalah tegang, sedangkan di bagian kedua ada campuran antara tegang dan guyon. Wajar. Pada bagian pertama masalahnya benar-benar tampak di permukaan: Karmila hamil di luar kemauannya. Pada bagian kedua masalah itu lebih terselubung, sebagaimana Edo hanya menjadi bayang-bayang bagi pernikahan Karmila dan Feisal. Hanya saja pada bagian dua ada peristiwa yang terasa dipaksakan hanya demi mengintenskan persoalan hubungan Karmila dan Feisal: kehadiran Amalia, seorang perempuan yang mengaku saudara jauh Feisal padahal bukan, yang membuat Karmila cemburu berat. Sayang sekali, meskipun bagian kedua lebih kaya akan suasana, akhir bagian ini diacak-acak oleh peristiwa yang menimbulkan anti-klimaks, berbeda dari bagian pertama yang mencapai klimaks walaupun suasananya begitu-begitu saja.

Karmila berisi ketegangan orang-orang yang berusaha berlapang dada menghadapi nasib yang dihempaskan padanya dengan selingan obrolan-obrolan santai penuh guyon. Sayangnya, keseimbangan antara yang tegang dan yang santai itu digoncangkan oleh suatu peristiwa yang justru membuatnya menjadi anti-klimaks.

Kamis, 12 Mei 2016

Badai Pasti Berlalu - Marga T




Judul Buku
:
Badai Pasti Berlalu
Penulis
:
Marga T
Penerbit
:
Gramedia
Tahun Terbit
:
1974

Badai Pasti Berlalu berisi kisah seorang perempuan yang mengatasi trauma cintanya dengan banyak campur tangan pihak lain.

Karena ditinggalkan, Kris, tunangannya menjelang pernikahan demi perempuan lain yang ternyata temannya, Siska mengalami trauma. Dia memilih mengasingkan diri di vila orang tuanya di Puncak. Dia jadi cenderung reaktif dan penuh prasangka, khususnya jika dihadapkan pada urusan hubungan laki-perempuan. Tapi, pergolakan batin itu tak kentara di mata tokoh lainnya karena di hadapan mereka dia bersikap seperti gunung es, sebagaimana yang dituliskan berkali-kali, bahkan saat sengaja dihasut oleh Leo pun, dia dingin saja padahal diam-diam ada letupan dalam batinnya. Malangnya, kecenderungan itulah yang membuatnya mengambil keputusan yang berakibat fatal, yang barangkali bagi sebagian orang tampak seperti sesuatu yang ‘yang benar saja!’ Bayangkan, keputusan fatal itu diambil karena Siska, sederhananya, sekadar tidak bertanya saking dia tak mampu mengekspresikannya. Jadilah dia mengambil dua keputusan fatal: memutuskan pertunangannya dengan Leo dan menikah dengan Helmi. Rundungan trauma itu menyeret Siska menuju jalan yang makin menyedihkan.

Keluarga dan soal-soal lain campur tangan dalam membebaskan Siska dari belenggu trauma dan di sisi lain menjeratnya. Kemesraan Nani dan Miki, kakak dan iparnya, makin mengentarakan trauma cinta Siska. Bapak dan Johnnya, kakak Siska, bersekongkol dengan teman-temannya untuk menyodorkan lelaki-lelaki yahud agar Siska melupakan mantannya. Itulah yang menyeret Leo, seorang playboy yang calon dokter dan karib Johnny, ke dalam badai Siska, walaupun pada awalnya persekongkolan itu tidak diungkap sehingga kesannya adalah Leo terlibat karena ingin menang taruhan dari teman-temannya. Leo berusaha memikatnya dengan siasat psikologis. Tapi, saat upaya itu nyaris berhasil, dampak trauma Siska dan kemunculan Helmi menggagalkannya. Karena salah paham, Siska yang mengidap diabetes menyangka Leo mengidapnya juga, padahal orang-orang yang mengidap diabetes tidak boleh bereproduksi karena akan menurunkannya pada anak. Bersamaan dengan itu, Helmi, seorang pianis di diskotik milik bapak Siska, menyadari kekaguman Siska terhadapnya. Dia memaksa Siska untuk menikahinya dengan ancaman akan membocorkan perselingkuhan bapaknya dan hostes pada ibunya. Saat diterpa dua keadaan itu, kecenderungan reaktif dan penuh prasangka Siska membuatnya mengambil keputusan fatal. Kelindan campur tangan segala pihak luar dan dampak trauma Siska silih berganti menjerat-lepaskan belenggu traumanya.

Laju cerita jatuh bangun hidup Siska amat perlahan. Ada banyak detil yang membendungnya. Sebagian padu untuk memperkuat konflik, sebagian lain sekadar mempertegas dimensi tokohnya. Siska adalah seorang guru TK yang gemar membaca sehingga pandai mendongeng. Dia pernah membaca Cassanova. Malahan, We The Living karya Ayn Rand yang menurut saya terlalu snob untuk sekadar disebutkan dalam novel ini pun, sempat didiskusikan Leo dan Siska. Leo sendiri digambarkan sedang berusaha menuntaskan studinya di bidang kedokteran. Adegan ujian operasi dan piket jaga di suatu kampung cukup rinci digambarkan. Diabetes Siska pun dirincikan, dari mulai pengawasan dietnya sampai periksa dokter berkali-kali muncul. Sementara itu, detil tentang keluarga Siska memberikan gambaran tentang suatu keluarga borju. Bapak yang punya pabrik dan diskotik. Orang tua yang memanjakan anaknya. Keluarga yang pergi ke pesta-pesta saat natal. Semua detil yang kadang memperkuat konflik, kadang sekadar mempertegas dimensi tokohnya membendung laju cerita Badai Pasti Berlalu.

Coba bayangkan Anda merekam dalam mode gerak lambat seorang perempuan kurus dan compang-camping yang berusaha bertahan diterpa badai sementara banyak tangan mencoba menariknya dari segala arah. Itulah Badai Pasti Berlalu karya Marga T.