Senin, 17 September 2018

Trilogi Three Flavoured Cornettos - Edgar Wright


Cara Lezat Membuat Film yang Kelihatan Serius Jadi Lebih Kocak

Judul-Judul Film: Shaun of the Dead, Hot Fuzz, The World's End
Sutradara: Edgar Wright
Penulis Naskah: Simon Pegg & Edgar Wright
Rumah Produksi: Studio Canal, Working Title Films, Big Talk Productions, Film4 Productions, Relativity Media
Distributor: Universal Pictures
Tahun Rilis: 2004, 2007, 2013


Film fiksi ilmiah, polisi, dan zombi. Kebanyakan film yang mengusung genre itu biasanya menyajikan ceritanya dengan raut serius. Adegan-adegannya dibuat sedemikan intens sehingga membuat penonton menyaksikannya dengan khusyuk. Edgar Wright dan Simon Pegg yang banyak dikenal karena lawakannya dalam serial Spaced menggarap tiga film yang sering disebut sebagai trilogi Three Flavoured Cornettos: Shaun of the Dead (film zombi), Hot Fuzz (film polisi), dan The World’s End (film fiksi ilmiah). Bagaimana jadinya tiga genre tersebut bila diberi sentuhan lawak Wright dan Pegg? Mari kita bahas cara mereka melakukannya.

Salah satu motif dalam film zombi adalah orang biasa berusaha sintas di tengah ancaman zombi. Shaun of the Dead menyantaikan situasi genting itu dengan menjadikan seorang lelaki yang kurang punya ambisi dan temannya yang pengangguran dan lebih tidak berambisi sebagai tokoh utama.
Kontras antara mereka yang tidak insaf dan kita penonton yang insaf akan kehadiran zombi adalah salah satu sumber lawak di sini. Lihat saja adegan Shaun jalan pagi-pagi dengan sisa mabuk semalam menuju toserba. Sepanjang jalan tanda-tanda kehadiran zombi kelihatan jelas tapi dia hanya fokus pada belanjaan. Lihat juga adegan mereka yang bernyanyi-nyanyi mabuk berat lalu mendengar zombi mengerang. Mereka malah menyesuaikan nyanyinya sehingga erangan zombi itu terdengar seperti isian bas dalam sebuah lagu. Atau lihat waktu mereka menyangka seorang zombi perempuan sebagai perempuan yang kelewat mabuk dan sange.

Ketika mereka sudah menyadari wabah zombi itu, mereka tetap saja membuat kita mengakak lewat cara mereka yang seperti tidak serius menghadapi masalah itu. Saat menghadapi dua zombi di halaman belakang kontrakan Shaun, mereka sempat-sempatnya berselisih soal barang yang paling pas untuk melawan zombi. Mulai dari kaleng, keranjang cuci, sampai piringan hitam koleksi Shaun. Waktu mereka bertemu rombongan lain yang berusaha sintas juga mereka hanya menyapa dan bukannya menggabungkan diri atau apalah untuk sintas bersama. Satu lagi, cara mereka melewati kerumunan zombi untuk masuk ke pub, tempat yang menurut mereka paling aman: mereka bertingkah seperti zombi. Lengkap dengan erangan dan cara jalan yang patah-patah. Bahkan mereka sempat latihan akting dulu dengan panduan salah satu tokoh yang pekerjaannya adalah aktor.
Sejujurnya Hot Fuzz adalah yang paling tidak terlalu terasa lawakannya dibandingkan dua film lainnya. Tapi itu bukan berarti tidak ada kejenakaan sama sekali. Polisi baik melawan lingkungan korup adalah salah satu motif dalam film polisi. Di sini motif itu dipadukan dengan unsur investigasi pembunuhan.

Kelucuan itu berasal dari cara film ini menunjukkan kebusukan itu. Petinggi polisi maupun warga desa tempat si polisi keren (hot fuzz) itu ditugaskan sama-sama korup. Oleh mereka semua sifat korup itu ditunjukkan dengan amat lebay sehingga mereka semua sangat mencurigakan dan keculasan itu amat kentara. Lihat saja keramahan yang gamblang dibuat-buat oleh atasan Nicholas Angel sang polisi teladan (sehingga dia dipindahtugaskan) dan warga Sandford.

Kontras antara pembawaan Angel dengan tokoh-tokoh lainnya juga menimbulkan senyum dalam hati. Angel itu orang yang kelewat serius. Kalaupun dia sedang tidak serius, dalam sikapnya selalu ada rasa khusyuk yang mencanggungkan. Tokoh-tokoh lain kebalikannya. Mulai dari Simon Skinner sang pengusaha yang paling dicurigai Angel sampai Danny sang polisi serampangan yang kemudian menjadi konco Angel. Saking kontrasnya sampai-sampai mungkin pada Angel kita akan nyeletuk,“Buset! Serius amat, Pak.”

Sekarang kita bahas film favorit saya dalam seri ini, The World’s End. Film ini penuh plesetan. Judulnya mengisyaratkan cerita tentang akhir dunia. Di satu sisi, memang benar film ini bercerita tentang akhir dunia karena invasi alien. Tapi di sini juga The World’s End adalah nama pub terakhir dalam pelesir minum-minum yang ditempuh para tokohnya. Makna ganda semacam itu juga berlaku pada tema film ini. Sebagaimana dinyatakan oleh Edgar Wright dalam salah satu wawancaranya, ketika kita mudik, seringkali kita teralienasi. Di sini ‘alienasi’ diartikan secara harfiah sebagai invasi alien. Jadilah ini film pendewasaan diri yang di permukaannya adalah fiksi ilmiah.

Dengan penggarapan yang berbeda dari Hot Fuzz, The World’s End menggunakan kontras pembawaan tokoh sebagai sumber kelucuan. Di sini Gary King adalah satu-satunya tokoh yang secara harfiah menolak dewasa. Dia hidup pada tahun 2010-an tapi dia bersikap seperti ketika dia remaja pada tahun ’90-an. Dia dan teman-temannya tarik-menarik. Dia berusaha menyeret mereka untuk hidup seperti ketika mereka berusia belasan. Mereka terus-terusan menariknya supaya bersikap dewasa. Bahkan ketika mereka menyeretnya untuk melarikan diri dari serangan alien itu, Gary menarik mereka untuk tetap menyelesaikan pelesir minum-minum itu. Semua itu diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang menarik.

Sambil tetap memanfaatkan pakem-pakem genre tersebut, Wright dan Pegg menyuntikkan humor dengan pertama-tama menempatkan tokoh utama yang bersikap menyeleweng dari tokoh utama yang biasa ada dalam genre-genre tersebut. Karena itulah film-film itu lucu tapi tidak jatuh menjadi film parodi. Lebih tepat disebut film fiksi ilmiah, polisi, dan zombi dengan suntikan humor ala Wright dan Pegg. Penggarapan semacam itu membuat film-film itu seperti berkata,“Memang masalah-masalah ini amat mendesak. Tapi itu tidak berarti kita tidak bisa menghadapinya sambil ngupil dan garuk-garuk pantat, bukan?”

Rabu, 12 September 2018

Kick-Ass - Matthew Vaughn


Adu Keren dalam Menendang Bokong Penjahat


Judul Film: Kick-Ass
Sutradara: Matthew Vaughn
Pemain: Aaron Johnson, Chloe Grace Moretz, Nicolas Cage, Mark Strong, Christopher Mintz-Plasse
Rumah Produksi: Marv Films, Plan B Entertainment
Distributor: Universal Pictures
Tahun Rilis: 2010



Adegan aksi dalam film pahlawan super ibarat listrik dalam baterai. Tidak hidup suatu film pahlawan super kalau tidak ada adegan aksi. Lantas bagaimanakah halnya dengan film parodi gelap pahlawan super semacam Kick-Ass?

Setidaknya ada dua pahlawan yang beraksi dalam film besutan Matthew Vaughn ini. Pertama, Kick-Ass atau Dave, seorang remaja biasa yang terdorong untuk mengenakan kostum dan bertindak sebagai pahlawan. Kedua, Hit Girl atau Mindy, anak perempuan sebelas tahun yang dididik untuk bertempur dengan segala macam alat oleh bapaknya yang mantan polisi. Mari bandingkan aksi mereka.

Sebagai pemanasan, mari bandingkan cara mereka menampakkan diri pertama kali sebagai pahlawan. Bahkan, para pembobol mobil kelas teri yang hendak dilawannya menertawakan Kick-Ass sampai-sampai dia sendiri sempat agak minder.

Sementara itu, Hit Girl justru mengejutkan semua orang tatkala kehadirannya diumumkan lewat keluarnya ujung tombak beserta darahnya dari dada seorang penjahat kroco. Si penjahat roboh lalu Hit Girl memasang kuda-kuda siaga memegang tombak dua mata. Pada kesempatan lain dia juga mengejutkan juga waktu tiba-tiba muncul bersama tembakan berperedam ke arah kepala seorang penjahat. Hit Girl muncul dengan gaya.

Sekarang kita bandingkan adegan tarung jarak dekat mereka. Kick-Ass menggunakan pentung pada tiga adegan. Pada adegan melawan pembobol mobil dan adegan pengeroyok di depan kedai donat kelihatan jelas bahwa dia mengayunkan pentung itu sembarang saja. Pokoknya yang penting mengenai lawan. Ujung-ujungnya pada debutnya itu dia ditusuk. Meskipun dia berhasil mengusir pengeroyok itu dan menjadi tenar karena itu, Big Daddy (bapak Hit Girl) dan Frank D’Amico (penjahat utama di film ini) mencibir aksinya itu ketika menyaksikan beritanya. Ketika dia tarung satu lawan satu dengan Red Mist pun dia lebih banyak menangkis dan terlihat kikuk.

Sementara itu, dengan iringan “Banana Splits” The Dickies yang ceria kekanak-kanakan Hit Girl melompat dan berguling ke sana ke mari untuk menusuk dan menebas para penjahat yang sebenarnya pada mulanya akan dilawan Kick-Ass. Bahkan ketika mengelak dari serangan Frank D’Amico pada suatu tarung tangan kosong pun dia amat lincah. Bukan hanya soal cara bertarungnya, potongan-potongan syutnya pun lebih dinamis daripada adegan tarung Kick-Ass.

Barulah kini kita membahas adegan tempur senjata api mereka. Sebenarnya adegan Kick-Ass menggunakan senjata api tertolong karena terjadi pada momen yang melonjakkan kekerenannya. Misalnya, waktu dia muncul tiba-tiba saat Hit Girl terdesak dengan mesin terbang jetnya sambil memberondongkan senapan mesin. Lalu, waktu dia menembakkan bazoka untuk melenyapkan Frank D’Amico selamanya. Kick-Ass menggunakan senapan adalah adegan yang kelewat fantastis dan ajaib.

Adegan Hit Girl menggunakan senjata api juga fantastis. Hanya saja, sementara adegan Kick-Ass fantastis yang lebih condong pada film fantasi, adegan Hit Girl lebih seperti adegan tembak-tembakan fantastis dalam pakem film aksi. Bagaimana tidak fantastis? Hit Girl baku tembak dengan penculik bapaknya dalam ruangan gelap dengan kedap-kedip lampu kejut pistol dan kedap-kedip dentum senjata. Selama itu syut berganti-ganti antara sudut pandang orang pertama Hit Girl yang mengenakan kacamata pengelihatan malam dan sudut pandang orang ketiga dalam gerak lambat di bawah kedap-kedip cahaya. Kedahsyatan adegan itu makin memuncak dengan iringan instrumental lagu penggugah semangat juang.

Yang tidak kalah dahsyat adalah baku tembak Hit Girl dengan para kroco Frank D’Amico di markasnya. Kegagahannya dalam menyongsong mereka makin menjadi-jadi karena iringan “Bad Reputation” Joan Jett. Sebagaimana lirik lagu itu, tembakan-tembakannya seakan menyuarakan kata-kata, “Masa bodo, Njing! Mampus kalian semua!” Sungguh anak sebelas tahun yang tangguh!

Berdasarkan paparan ini, sudah jelas kan siapa yang mampu menyuguhkan adegan aksi yang memukau? Hit Girl menang ke mana-mana. Tapi itu justru makin menonjolkan berartinya aksi Kick-Ass. Kalau terpaksa harus baku hantam, kita, khususnya yang tidak punya latar belakang bela diri, hanya bisa mengandalkan keberanian dan kenekatan. Itulah yang terkandung dalam hantaman-hantaman pentung Kick-Ass. Dan barangkali itulah wujud terliar naluri untuk bertahan hidup.

Senin, 10 September 2018

Rijsttafel - Fadly Rahman


Keadaanmu Memengaruhi Gaya Bersantapmu

Judul Buku: Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942
Penulis: Fadly Rahman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011


Perkedel, pastel, risoles, semur, ayam suwir. Semua itu adalah makanan enak yang selama ini saya kira berasal dari Nusantara. Tapi, ternyata semua makanan itu bermula sebagai resep dari luar yang berakulturasi dengan kebiasaan makan di sini. Sarana akulturasinya adalah suatu budaya makan yang bernama Rijsttafel, sebagaimana dinyatakan dalam buku berjudul sama karya Fadly Rahman.

Dalam buku itu, Fadly menelusuri asal-mula Rijstaffel. Beberapa kali dia menekankan bahwa budaya pernyaian berperan besar dalam kemunculan Rijstaffel. Orang-orang Eropa yang berusaha di bidang perkebunan tidak membawa istrinya karena keadaan sarana-prasarana di Jawa tidak memungkinkan untuk kehidupan keluarga Eropa. Lantas mereka mengawini perempuan-perempuan pribumi. Selain karena urusan makanan kemudian diurus oleh para nyai, bahan makanan ala Eropa pun tidak banyak tersedia, jadilah para orang Eropa itu menyesuaikan lidahnya dengan makanan setempat. Hidangan utamanya adalah nasi, yang menjadi makanan utama setempat walaupun Fadly menyatakan bahwa nasi tidak dari dulu jadi makanan utama di Hindia. Hidangan utama itulah yang kemudian menjadi dasar penamaan sebuah budaya makan bernama rijsttafel; rijst berarti nasi dan tafel berarti harafiah meja tapi berarti juga hidangan.

Menyebarnya rijsttafel sampai pada taraf menjamur, Fadly mengisyaratkan, disokong oleh pembukaan Terusan Suez, penggalakan industri pariwisata (khususnya bidang perhotelan) di Jawa sejak akhir abad ke-19, dan beredarnya buku-buku masak yang berisi resep rijsttafel. Peresmian Terusan Suez pada 1869 bukan hanya memperlancar aliran perempuan-perempuan Eropa, melainkan juga bahan-bahan makanan dan alat-alat masak ala Eropa. Ketersediaan bahan dan alat memperkaya ragam menu dalam rijsttafel. Sementara itu, aspek yang menonjol ditekankan dalam pembahasan dampak makin banyaknya perempuan Eropa di Jawa pasca-Terusan Suez adalah peran mereka dalam menulis buku masak yang berisi resep rijsttafel. Salah satu yang dibahas secara khusus oleh Fadly adalah J.M.J. Catenius van der Meijden. Di bidang industri pariwisata sendiri rijsttafel disertakan sebagai pilihan hidangan di kapal pesiar maupun hotel yang ada di Jawa. Beberapa hotel yang dibahas adalah Hotel Des Indes dan Savoy Homann.

Dalam buku ini disebutkan bahwa penyurutan budaya rijstaffel di Jawa besar dipengaruhi oleh pendudukan Jepang dan migrasi orang Eropa (Belanda) ke Eropa sejak masa itu. Maka, kemudian lama-lama yang tinggal adalah kesan bahwa rijsttafel hanya budaya makan yang dilakukan di hotel.
Sementara itu, dalam buku ini, penyebaran budaya rijsttafel di kalangan pribumi dibahas dalam kerangka pengaruh kuasa kolonial. Pribumi—di sini yang lebih banyak dibahas adalah para pegawai pemerintahnya walaupun ada juga bahasan tentang orang keraton—makan-makan dengan gaya rijsttafel sebagai peniruan terhadap kebiasaan orang-orang Eropa yang dianggap lebih tinggi. Rijsttafel mengandung prestise tersendiri.

Meskipun demikian, ada yang menarik soal citra rijsttafel yang berkaitan dengan pihak-pihak yang menikmatinya. Pada mulanya terdapat kesan bahwa rijsttafel adalah bentuk tunduk orang Eropa (Belanda) di Jawa. Ditambah lagi, terdapat penjelasan bahwa orang Belanda tidak memiliki budaya makan tinggi. Malah dalam buku ini terdapat paparan mencemooh budaya makan orang Belanda. Kehadiran rijsttafel dianggap sebagai tanda bahwa orang Belanda “naik derajat”. Lalu, rijsttafel berubah menjadi lambang kolonialisme (lihat alinea selanjutnya), dan kesan “naik derajat” dan anggapan kebarat-baratan apabila pribumi menyantap rijsttafel. Lalu, yang terakhir adalah citra rijsttafel sebagai budaya makan Indies, sebuah budaya hibrida dari budaya pribumi, barat, dan lainnya.

Mengenai rijsttafel sebagai lambang kolonialisme, lihat bagian-bagian yang membahas cara penyajian. Penekanan hal ini khususnya terdapat pada soal pengerahan tenaga pribumi sebagai pramusaji. Dalam rijsttafel, nasi disertai oleh jenis makanan lain yang banyak jumlahnya dan besar porsinya—makanan-makanan enak yang saya absen di awal tulisan ini termasuk di dalamnya. Tiap pramusaji membawa jenis makanan yang berbeda. Hal ini berdampak pada banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjadi pramusaji. Pada lingkungan perkebunan banyak pegawai perkebunan dilatih untuk menjadi pramusaji. Dalam buku ini banyaknya pramusaji rijsttafel misalnya dapat dilihat pada foto rijsttafel di Hotel Des Indes dan Savoy Homann (hlm. 64 & 65). Kesan kuasa dalam rijsttafel dapat dilihat dalam lukisan W.O.J. Nieuwenkamp (hlm. 46). Pada lukisan itu satu sosok yang bisa diidentifikasikan sebagai orang Eropa berongkang kaki sedangkan seorang berblangkon berjongkok di sebelahnya menghidangkan sesuatu.

Lama kemudian rijsttafel dihidangkan dengan gaya prasmanan yang berasal dari Prancis. Perihal perubahan cara penyajian ini, Fadly mengatakan dua hal: perubahan ini dipengaruhi oleh perubahan mental kolonial di kalangan Eropa dan masalah kepraktisan. Tapi, sayang sekali, pembahasan soal perubahan cara penyajian ini tidak dijabarkan lebih lanjut dalam buku ini. Padahal kalau lebih dirincikan, bisa jadi argumen soal pengaruh perubahan mental kolonial terhadap perubahan cara penyajian rijsttafel bisa lebih meyakinkan.

Meskipun demikian, buku Rijstaffel karya Fadly Rahman ini mengenyangkan juga bagi orang-orang yang lapar akan asal-usul apa-apa yang disantapnya. Bahkan, pecinta sambal akan dikenyangkan secara harfiah oleh buku ini apabila mampu berbahasa Belanda. Sebab, terdapat lampiran resep dan cara memasak beragam jenis sambal di dalamnya. Terakhir, buku ini mengingatkan kita bahwa tiap kali memakan sesuatu kita tidak hanya sedang menelan bahan-bahan yang sudah diolah itu, tetapi kita menelan sejarah dan budaya juga. Duh, pantas saja, setelah kekenyangan begini, kok saya jadi mulas ya.

Rabu, 05 September 2018

Mirror's Edge - EA DICE


Aksi Parkur Fantastis Tanpa Perlu Beranjak dari Kursi

Judul Gim: Mirror’s Edge
Pengembang: EA DICE
Penerbit: Electronic Arts
Tahun Rilis: 2009 (versi Windows); 2008 (versi PS3)


Saudarimu yang seorang polisi dijebak sehingga dia dituduh sebagai pembunuh seorang politikus. Kamu berusaha untuk menguak siapa dalang di balik semua itu, dan sekaligus membebaskan saudarimu dari pengadilan. Itulah peranmu sebagai Faith Connor dalam gim platformer sudut pandang orang pertama Mirror’s Edge. 

Ceritanya sesederhana itu. Tensi plot paling-paling ditingkatkan oleh beberapa kejutan tentang orang-orang yang terlibat dalam muslihat itu. Pemaparan latar, misalnya soal masa lalu Faith dan Kate, saudarinya, dan soal kumpulan Runner (Pelari) yang dilibati Faith, kurang banyak digali. Soal Pelari, bahwa komplotan itu dicap negatif, sebagaimana juga tampak pada iklan-iklan di lift, tempat yang menyelubungi proses loading, dan bahwa komplotan itu dipantau terus oleh kepolisian, yang disebut Blue (Biru), dalam rangka menciptakan pasukan khusus yang memiliki kemampuan seperti para Pelari. Akhir ceritanya tidak gilang-gemilang: hanya misi awalnya terselesaikan. Barangkali gim ini memang dimaksudkan untuk memiliki akhir yang menggantung.

Justru cara bermainnya yang menjadi sumber kenikmatan utama gim ini. Aksi-aksi parkur kita saksikan dari sudut pandang orang pertama, dari mata Faith. Melompat-lompat dari satu ke lain pencakar langit, dengan melompat langsung, menggelosor dengan memegang tali, maupun berjalan menjaga keseimbangan meniti palang antargedung, adalah hal rutin di sini. Memanjat dan menuruni pipa dan pagar terali, dan berlari memijak dinding juga sama seringnya kita jumpai.

Yang agak lebih perlu siasat adalah kalau kita diharuskan naik dari tanah ke puncak gedung atau sebaliknya. Ini paling terasa pada level 8, saat Faith hendak naik ke atas gedung untuk mendapatkan posisi enak untuk membeceng rombongan polisi yang memindahkan Kate. Titik awal kita adalah kawasan pembangunan di permukaan tanah yang dipenuhi baja-baja melintang-lintang. Kita harus memanjat besi, melompat-lompat dari satu palang ke palang lain, dan menjaga jangan sampai jatuh jauh untuk bisa sampai ke lubang ventilasi di bagian atas gedung. Kalau kita jatuh terlalu jauh, kita akan mati dan harus mengulang dari bidai (checkpoint) terakhir.  

Sering juga kita diharuskan mengejar seseorang yang melompat-lompat dari satu ke lain puncak gedung atau menyusuri isi gedung, seperti saat level tutorial, mengejar Jacknife dan si pembunuh berbaju putih. Kalau kita tertinggal jauh, kita harus mengulang dari bidai terakhir. Kita juga berkali-kali diharuskan menembus barisan polisi yang menyergap. Kadang-kadang kita harus merampas beragam senjata api dari mereka (dari pistol sampai senapan beceng) dan menembakkannya, sebagaimana biasanya mekanisme sudut pandang orang pertama diasosiasikan, walaupun seringkali sebenarnya kita disuruh untuk melarikan diri saja.

Akan terasa bahwa kalau kita sedang disuruh untuk mengejar orang atau kabur dari sergapan, kita sedang dalam desakan waktu. Jadi, kesannya pokoknya kita harus cepat, sehingga rancangan jalannya kentara. Sementara itu, kalau berada di level yang mengharuskan kita memikirkan cara untuk mencapai suatu titik, seringkali tidak ada desakan waktu semacam itu. Untuk mencapai titik itu kita bahkan bisa saja menghabiskan waktu seharian. Ada banyak waktu. Yang dituntut adalah kepekaan kita akan keadaan sekitar. Kira-kira mana saja yang bisa dipijak atau dilompati.

Aksi-aksi parkur itu diperindah oleh rancangan tampilan yang asyik. Yang tidak mungkin diluputkan adalah komposisi warnanya. Warna-warna dasar ditonjolkan. Benda-benda di sekitar dijadikan merah sebagai petunjuk bahwa itu adalah jalan menuju titik tuju. Merah juga jadi warna dasar pada menu awal dan menu jeda. Jingga dan biru adalah warna lain yang turut mewarnai rancangan gim ini.

Sudut pandang orang pertama makin terasa realistis karena tidak ada indikator apa-apa di layar, seakan-akan kita memang sedang memandang dengan mata Faith. Kita terluka (misalnya, karena kena tembak atau salah mendarat) ditunjukkan dengan kilatan merah sementara warna lain semakin pudar jadi kelabu atau, kalau kita jatuh dari puncak gedung, semakin gelap. Melalui penanda inilah kita tahu bahwa tubuh Faith punya kemampuan cepat pulih. Misalnya, setelah kena tembak cukup parah, kalau kita berhasi mengamankan posisi, beberapa langkah setelah itu, kita akan bugar lagi.

Suara ngos-ngosan Faith diiringi oleh lagu-lagu elektronik yang bertempo cepat atau, kalau dalam keadaan tidak buru-buru, lagu-lagu atmosferik. Lagu penutup ditambah adegan penutup gim ini seperti akhir cerita dalam film-film aksi Hollywood.

Kabar baik dari gim ini adalah kita akan hidup kembali walaupun berkali-kali mati gara-gara jatuh dari puncak gedung ke jalan raya. Aksi-aksi parkur yang penuh risiko bisa kita alami dengan aman. Saya kira itulah kenikmatan utama Mirror’s Edge.