Tampilkan postingan dengan label 2004. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2004. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2018

Trilogi Three Flavoured Cornettos - Edgar Wright


Cara Lezat Membuat Film yang Kelihatan Serius Jadi Lebih Kocak

Judul-Judul Film: Shaun of the Dead, Hot Fuzz, The World's End
Sutradara: Edgar Wright
Penulis Naskah: Simon Pegg & Edgar Wright
Rumah Produksi: Studio Canal, Working Title Films, Big Talk Productions, Film4 Productions, Relativity Media
Distributor: Universal Pictures
Tahun Rilis: 2004, 2007, 2013


Film fiksi ilmiah, polisi, dan zombi. Kebanyakan film yang mengusung genre itu biasanya menyajikan ceritanya dengan raut serius. Adegan-adegannya dibuat sedemikan intens sehingga membuat penonton menyaksikannya dengan khusyuk. Edgar Wright dan Simon Pegg yang banyak dikenal karena lawakannya dalam serial Spaced menggarap tiga film yang sering disebut sebagai trilogi Three Flavoured Cornettos: Shaun of the Dead (film zombi), Hot Fuzz (film polisi), dan The World’s End (film fiksi ilmiah). Bagaimana jadinya tiga genre tersebut bila diberi sentuhan lawak Wright dan Pegg? Mari kita bahas cara mereka melakukannya.

Salah satu motif dalam film zombi adalah orang biasa berusaha sintas di tengah ancaman zombi. Shaun of the Dead menyantaikan situasi genting itu dengan menjadikan seorang lelaki yang kurang punya ambisi dan temannya yang pengangguran dan lebih tidak berambisi sebagai tokoh utama.
Kontras antara mereka yang tidak insaf dan kita penonton yang insaf akan kehadiran zombi adalah salah satu sumber lawak di sini. Lihat saja adegan Shaun jalan pagi-pagi dengan sisa mabuk semalam menuju toserba. Sepanjang jalan tanda-tanda kehadiran zombi kelihatan jelas tapi dia hanya fokus pada belanjaan. Lihat juga adegan mereka yang bernyanyi-nyanyi mabuk berat lalu mendengar zombi mengerang. Mereka malah menyesuaikan nyanyinya sehingga erangan zombi itu terdengar seperti isian bas dalam sebuah lagu. Atau lihat waktu mereka menyangka seorang zombi perempuan sebagai perempuan yang kelewat mabuk dan sange.

Ketika mereka sudah menyadari wabah zombi itu, mereka tetap saja membuat kita mengakak lewat cara mereka yang seperti tidak serius menghadapi masalah itu. Saat menghadapi dua zombi di halaman belakang kontrakan Shaun, mereka sempat-sempatnya berselisih soal barang yang paling pas untuk melawan zombi. Mulai dari kaleng, keranjang cuci, sampai piringan hitam koleksi Shaun. Waktu mereka bertemu rombongan lain yang berusaha sintas juga mereka hanya menyapa dan bukannya menggabungkan diri atau apalah untuk sintas bersama. Satu lagi, cara mereka melewati kerumunan zombi untuk masuk ke pub, tempat yang menurut mereka paling aman: mereka bertingkah seperti zombi. Lengkap dengan erangan dan cara jalan yang patah-patah. Bahkan mereka sempat latihan akting dulu dengan panduan salah satu tokoh yang pekerjaannya adalah aktor.
Sejujurnya Hot Fuzz adalah yang paling tidak terlalu terasa lawakannya dibandingkan dua film lainnya. Tapi itu bukan berarti tidak ada kejenakaan sama sekali. Polisi baik melawan lingkungan korup adalah salah satu motif dalam film polisi. Di sini motif itu dipadukan dengan unsur investigasi pembunuhan.

Kelucuan itu berasal dari cara film ini menunjukkan kebusukan itu. Petinggi polisi maupun warga desa tempat si polisi keren (hot fuzz) itu ditugaskan sama-sama korup. Oleh mereka semua sifat korup itu ditunjukkan dengan amat lebay sehingga mereka semua sangat mencurigakan dan keculasan itu amat kentara. Lihat saja keramahan yang gamblang dibuat-buat oleh atasan Nicholas Angel sang polisi teladan (sehingga dia dipindahtugaskan) dan warga Sandford.

Kontras antara pembawaan Angel dengan tokoh-tokoh lainnya juga menimbulkan senyum dalam hati. Angel itu orang yang kelewat serius. Kalaupun dia sedang tidak serius, dalam sikapnya selalu ada rasa khusyuk yang mencanggungkan. Tokoh-tokoh lain kebalikannya. Mulai dari Simon Skinner sang pengusaha yang paling dicurigai Angel sampai Danny sang polisi serampangan yang kemudian menjadi konco Angel. Saking kontrasnya sampai-sampai mungkin pada Angel kita akan nyeletuk,“Buset! Serius amat, Pak.”

Sekarang kita bahas film favorit saya dalam seri ini, The World’s End. Film ini penuh plesetan. Judulnya mengisyaratkan cerita tentang akhir dunia. Di satu sisi, memang benar film ini bercerita tentang akhir dunia karena invasi alien. Tapi di sini juga The World’s End adalah nama pub terakhir dalam pelesir minum-minum yang ditempuh para tokohnya. Makna ganda semacam itu juga berlaku pada tema film ini. Sebagaimana dinyatakan oleh Edgar Wright dalam salah satu wawancaranya, ketika kita mudik, seringkali kita teralienasi. Di sini ‘alienasi’ diartikan secara harfiah sebagai invasi alien. Jadilah ini film pendewasaan diri yang di permukaannya adalah fiksi ilmiah.

Dengan penggarapan yang berbeda dari Hot Fuzz, The World’s End menggunakan kontras pembawaan tokoh sebagai sumber kelucuan. Di sini Gary King adalah satu-satunya tokoh yang secara harfiah menolak dewasa. Dia hidup pada tahun 2010-an tapi dia bersikap seperti ketika dia remaja pada tahun ’90-an. Dia dan teman-temannya tarik-menarik. Dia berusaha menyeret mereka untuk hidup seperti ketika mereka berusia belasan. Mereka terus-terusan menariknya supaya bersikap dewasa. Bahkan ketika mereka menyeretnya untuk melarikan diri dari serangan alien itu, Gary menarik mereka untuk tetap menyelesaikan pelesir minum-minum itu. Semua itu diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang menarik.

Sambil tetap memanfaatkan pakem-pakem genre tersebut, Wright dan Pegg menyuntikkan humor dengan pertama-tama menempatkan tokoh utama yang bersikap menyeleweng dari tokoh utama yang biasa ada dalam genre-genre tersebut. Karena itulah film-film itu lucu tapi tidak jatuh menjadi film parodi. Lebih tepat disebut film fiksi ilmiah, polisi, dan zombi dengan suntikan humor ala Wright dan Pegg. Penggarapan semacam itu membuat film-film itu seperti berkata,“Memang masalah-masalah ini amat mendesak. Tapi itu tidak berarti kita tidak bisa menghadapinya sambil ngupil dan garuk-garuk pantat, bukan?”

Jumat, 31 Juli 2015

Bisik-Bisik - Reda Gaudiamo


Judul Buku
:
Bisik-Bisik
Penulis
:
Reda Gaudiamo
Penerbit
:
Eksotika Karmawibhangga Indonesia
Tahun Terbit
:
2004



Kadang seseorang mengalami peristiwa yang biasa saja, kadang juga yang agak tidak biasa, dan sesekali luar biasa. Sialnya, seringkali semua itu tumpang tindih,sehingga kadang peristiwa biasa terasa luar biasa. Begitulah dua puluh tujuh cerita dalam Bisik-Bisik.

Peristiwa-peristiwa itu hampir semua ditampilkan lewat dialog para tokoh belaka, kecuali satu dua cerpen yang mengandung secuil narasi. Kadang dialog berkisar tentang masalah yang sedang dihadapi tokohnya. Pada “Kawin 2” seorang perempuan yang hamil duluan mendesak pacarnya untuk menikah, sedangkan lelaki itu berusaha menolak. Kadang tokoh-tokoh itu menggunjingkan orang lain. Pada “Bisik-Bisik 2” dua perempuan menggunjinkan keadaan rumah tangga seorang teman yang pestanya mereka datangi. Ada juga dialog-dialog yang terasa seperti ceracau dan yang ragu-ragu dan serba terserah. Pada “’Mong-Omong” seseorang ngomong tentang makanan, sedangkan seorang lagi ngomong tentang liburannya ke Singapura, film yang ditontonnya, dan temannya yang mau kawin. Pada “Jawab Aku” seorang istri minta pendapat tentang pilihan baju, celana, rok, dan gaya rambutnya, sedangkan suaminya ikut saja apa kata istrinya. Permasalahan dalam Bisik-Bisik ditampilkan lewat dialog belaka, lewat perdebatan, gunjingan, dan ceracau tokohnya.

Kecuali beberapa cerpen yang dialognya kurang jelas menyiratkan identitas tokohnya, dialog dalam Bisik-Bisik terjadi antara orang sedarah (orang tua dan anak atau adik dan kakak), pasangan (pacar atau suami-istri), dan teman (rekan kerja atau sekadar teman). Pada “Matinya Lelaki 1” seorang lelaki mengeluhkan keposesifan istri temannya yang mengganggu pekerjaan suaminya. Pada “Sayang” seorang suami secara tersirat menekankan hasratnya untuk memiliki anak lelaki pada istrinya. Pada “Bertanyalah” seorang perempuan, yang juga seorang guru, menyuruh murid-muridnya untuk banyak bertanya, sedangkan di rumah dia melarang anaknya untuk bertanya. Pada “Nonton” seseorang mengajak nonton orang yang berkali-kali menanggapinya dengan “kenapa?”

Hubungan antartokoh dalam Bisik-Bisik mengerucutkan kemungkinan topik obrolan, sehingga cerpen-cerpen itu umumnya bertopik hubungan pasangan (suami-istri, selingkuhan, atau pacar) –inilah yang paling banyak, hubungan anak-orang tua, dan pengaruh rumah pada kantor. Ada dua perspektif tentang pengaruh keadaan rumah tangga pada pekerjaan. Pertama, rumah tangga menghambat kerja, terutama jika pasangan sangat posesif, seperti yang tampak pada “Matinya Lelaki 1” dan “Matinya Lelaki 2”. Kedua, seseorang berusaha menyeimbangkan kehidupan rumah tangga dengan pekerjaan, seperti pada “24x60x60”. Sementara itu, cerita-cerita yang bertopik hubungan anak-orang tua menyiratkan masalah cara mendidik anak tentang hal-hal keagamaan, seperti pada “Minggu Pagi”, dan hal-hal umum, seperti pada “Bertanyalah” dan “Sidak”. Pada beberapa cerpen kepolosan anak maupun kecerdikannya menjadi sumber kelucuannya, seperti pada “Iman” dan “Masuk Surga”. Sementara itu, pernikahan, perselingkuhan, dan hubungan keluarga-menantu adalah permasalah yang banyak muncul dalam cerpen yang bertopik hubungan pasangan.

Dalam Bisik-Bisik ada cerpen yang sangat pendek –saya menggolongkan cerpen yang panjangnya kurang dari lima lembar ke dalamnya-- dan ada yang pendek –cerpen yang panjangnya lima lembar atau lebih. Cerpen yang sangat pendek umumnya berakhir dengan tohokan (punch line), seperti bagaimana seorang anak mengajak ibunya bicara tentang surga hanya untuk menggiring pembicaraan ke arah minta dibelikan es krim (“Masuk Surga”), atau bagaimana seorang ibu memarahi panjang lebar anaknya lewat telepon, menyadari bahwa yang memegang telepon adalah pembantunya (“Sidak”). Cerpen-cerpen sangat pendek dalam Bisik-Bisik cocok untuk mengisi kolom humor di majalah atau koran. Sementara itu, Cerpen yang tanpa embel-embel “sangat” memungkinkan persoalan di dalamnya digali lebih jauh, seperti pada “24x60x60”, “Menantu”, dan “Matinya Lelaki 2”.

Terakhir, di antara kisah-kisah tentang rumah tangga, pernikahan, dan anak-orang tua, terselip beberapa cerpen yang topiknya jauh sama sekali: “Skripsi” adalah cerita seorang mahasiswa yang berhadapan dengan dosen pembimbing yang rese. “Teman” adalah cerita dua lelaki yang datang ke pesta seorang kenalannya. Cerpen-cerpen ini membuat kumpulan cerpen ini kurang padu.

Bisik-Bisik adalah kumpulan cerita pendek dan sangat pendek tentang permasalahan antara suami-istri, anak-orang tua, dan rekan kerja, yang dituturkan dengan penuh canda.