Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2018

The Dead Returns - Akiyoshi Rikako


Setelah Lama Diabaikan, Dia Mendapatkan Perhatian

Judul Buku: The Dead Returns
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Haru
Penerjemah: Andry Setiawan
Tahun Terbit: 2015


Apakah kamu akan melewatkan kesempatan semacam itu? Begitulah pertanyaan saya pada diri sendiri di tengah-tengah membaca The Dead Returns karya Akiyoshi Rikako. Di situ ada orang yang mendapatkan kesempatan untuk secara aman menyelidiki siapa orang yang membuatnya celaka fatal. Saya bilang “secara aman” karena kesempatan itu berupa hidup kembali dalam tubuh orang lain setelah peristiwa celaka tadi. Aman karena si pelaku kemungkinan besar tidak akan mencurigai upayanya itu.

Kalau Nobou Koyama sih merebut kesempatan itu dengan waspada dan amarah yang bergulung-gulung. Maka berbekal satu penilaian bahwa orang yang mencelakakannya adalah teman sekelasnya, anak SMA yang ruhnya masuk ke dalam tubuh Takahashi Shinji itu melacak pelakunya dengan menjadi murid pindahan di sekolahnya. Penilaian Nobuo itu didasarkan pada fakta bahwa dia datang ke lokasi dia ditimpa nasib malang itu karena sebuah surat yang ditemukan di mejanya di kelas.

Lalu, dia mengulik alibi teman-teman sekelasnya. Tindakan mencurigakan sejumlah tersangka, dalam bentuk gestur yang kurang meyakinkan atau berbohong, meningkatkan ketegangan cerita. Tidak lupa dia menyelidiki motif mereka berdasarkan hubungan dia dengan mereka. Pada titik ini semua upaya penyelidikan Nobuo berada pada jalur cerita investigasi kasus pembunuhan dengan latar anak sekolah.

Kejutan yang memutarbalikkan asumsi-asumsi pada awal cerita adalah salah satu hal ternikmat dalam cerita semacam ini. Sementara pengemasan kejutannya sendiri amat nikmat, apa-apa yang disiratkan oleh kejutan itu tidak kalah menyentuhnya. Sebab, di sini kejutan itu memuat pembahasan tentang riwayat hubungan seseorang dengan orang lain dan prasangka. Sebelum kejadian naas itu, hubungan Nobuo dan teman-teman sekelasnya memang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Dan semua prasangkanya terhadap teman-teman, bahkan guru dan ibunya lebih banyak juga disebabkan oleh hubungan mereka yang sejak awal kurang baik. Sebab, setelah kejutan itu meledak dan kebenaran terkuak, terbukti bahwa segala dugaannya terbantahkan sama sekali. Di sini prasangka dijadikan alat untuk meningkatkan ketegangan. Dan saat prasangka itu terbantahkan, maka meledaklah kejutan itu.

Yang membuatnya lebih sedap adalah persoalan prasangka dan teknik pemplotan tadi membawa kita masuk ke salah satu topik yang dibawa buku ini: dampak pengabaian. Di kelasnya Nobuo adalah tipe orang yang kalau tidak ada pun tidak akan disadari. Sementara itu, pengalaman bersosialisasi yang terus diingat olehnya tidak begitu menyenangkan. Jadilah dia terbiasa memandang teman-teman sekelasnya dengan rasa sebal tapi di sisi lain dia ingin dianggap ada.

Topik ini makin bergema dengan kehadiran Maruyama Miho, gadis sekelas Nobuo yang bahkan lebih malang. Pada kegiatan-kegiatan kelas, seperti persiapan festival budaya atau makan bersama saat istirahat, dia sama sekali tidak diajak padahal dia ada di dekat kumpulan mereka. Keadaan rumah Maruyama bahkan lebih buruk. Sementara Nobuo diam-diam marah pada mereka, Maruyama justru hanya bisa pasrah dan kehilangan rasa berharga.

Konsekuensinya justru lebih berbahaya. Ketika ada orang asing yang menimbulkan rasa berharga dalam dirinya, Maruyama jadi memiliki waham yang amat keliru tentang orang itu. Dia mendapatkan harapan untuk terus hidup setelah melihat seorang musisi muda. Tapi, yang awalnya tindakannya seperti seorang penggemar pada umumnya, lama-lama jadi seperti penguntit yang amat mengusik. Orang yang sudah terlalu lama diabaikan akan merasa begitu istimewa hanya dengan perhatian setahi kuku. Tapi karena tidak terbiasa dengan hal itu, reaksinya membahayakan.

Topik pengabaian tadi dikontraskan dengan peristiwa Nobuo masuk ke dalam tubuh Shinji. Takahashi Shinji adalah keturunan campuran Jepang dan orang Kaukasian. Tubuhnya bidang. Dia adalah seorang gitaris dan tukang berkelahi yang andal. Dia digemari perempuan. Pendek kata, Takahashi Shinji adalah apa yang bukan Nobuo Koyama.

Dengan berada dalam tubuh Shinji, Koyama mengalami apa yang sebelumnya tidak dialaminya. Orang tua Shinji menghawatirkannya dengan amat gamblang. Gadis-gadis di sekolah memperhatikannya, bahkan mengulik informasi tentang dia. Para jejaka mendekatinya lebih dulu dan bersikap akrab. Dia sempat kewalahan dengan pengalaman-pengalaman baru itu.

Di sisi lain, dia merasa muak juga dengan itu. Nobuo menilai bahwa selama berada dalam tubuh Takahashi dia bersikap sebagaimana dirinya dulu. Tapi tanggapan orang-orang sangat bertolak belakang. Kebanyakan tindakannya dalam tubuh Nobuo Koyama dipandang rendah, tidak penting, dan seterusya, sedangkan tindakan yang sama dalam tubuh Takahashi Shinji malah dibilang lucu dan menggemaskan. Misalnya, ketika dulu Nobuo membicarakan kereta model, orang-orang menganggapnya aneh. Tapi ketika hal itu dikatakan Takahashi, para perempuan mendadak jadi mengulik tentang kereta dan bahkan berniat mendirikan klub kereta model. Tanggapan orang-orang itu tidak adil.

Meskipun demikian, pembandingan itu menyadarkan Nobuo akan citra dirinya. Perlahan-lahan dia berpikir ulang tentang dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Pada akhirnya dia memiliki citra diri yang lebih positif. Itu berpengaruh pada cara dia memandang dirinya sendiri dan cara dia memandang orang-orang di sekitarnya. Menurut saya, itulah hal yang paling menyentuh dari buku dari Penerbit Haru ini.

Unsur gaib (berpindah tubuh) dalam novel ini adalah sesuatu yang amat vital. Sebab itu memungkinkan hal yang mungkin muskil terjadi dalam kehidupan kita. Coba, seberapa besar kemungkinan orang terabaikan mencicipi kedudukan sebagai pusat sorotan? Padahal dalam novel ini “menggunakan sepatu orang lain” adalah sebuah cara untuk turut merasakan keadaannya, memahami seluk-beluk rasa dan pikiranya, dan pada akhirnya mendialogkannya dengan rasa dan pikiran kita sendiri.

Maka saya kira di situlah letak berartinya The Dead Returns: membuat si terabaikan mencicipi jadi si pusat perhatian, dan membuat si pusat perhatian merasakan kehidupan si terbuang. Pendek kata, menjembatani apa yang mungkin dalam kenyataan tidak terjembatani.

Kamis, 15 November 2018

Letter Quest Grimm's Journey Remastered - Bacon Bandit Games


Kalau Scrabble Kawin dengan Anak Pak RPG dan Bu Kartun

Judul Gim: Letter Quest: Grimm’s Journey Remastered
Pengembang: Bacon Bandit Games
Penerbit: Digerati Distribution
Tahun Rilis: 2015


Kata selalu menarik untuk dipermainkan. Mulai dari plesetan, bersilat lidah, sampai permainan kata yang dikategorikan “gim”. Scrabble, salah satu dedengkot gim kata, melahirkan penerus yang amat bikin candu. Namanya Letter Quest: Grimm’s Journey Remastered. Dia lahir dari perjodohan antara scrabble dengan anak RPG dan kartun. Mari kita telanjangi anak itu!

Sangat kentara mekanisme scrabble dalam Letter Quest. Kita diberi sekumpulan huruf acak. Kita harus menyusunnya menjadi kata Bahasa Inggris untuk mendapat poin. Bedanya, dalam gim ini, poin tadi diakumulasikan jadi kekuatan untuk memukul lawan yang berwujud roh ikan dan manusia, zombi, kelinci kekar nan jahat, sampai manusia seri(ng)gala(u). Mereka menghadang kita sang malaikat pencabut nyawa yang jalan ngebet ke restoran piza. Ceritanya memang agak nonsens. Tapi desain visualnya amat imut, mengingatkan pada desain kartun-kartun Amerika. Dan yang lebih penting, mekanisme scrabble tadi dikembangkan sedemikian rupa sehingga perhatian kita akan terus tersedot sampai tamat.

Musuh memiliki jumlah darah yang beragam. Jadi kekalahan musuh bergantung pada jumlah darahnya dan poin yang kita hasilkan dari kombinasi huruf-huruf tadi. Selain itu, darah kita juga terbatas. Jadi kita harus lebih dulu mengalahkan mereka selama gantian saling serang. Belum lagi kalau kita bermain dalam mode yang kalau kata Iwan Fals, “izrail sekecil itu berkelahi dengan waktu” yang memberikan lebih banyak duit. Kita bukan hanya dituntut untuk mengalahkan musuh, melainkan juga harus membasminya sebelum batas waktu tertentu.

Tapi itu belum apa-apa. Sejumlah musuh memiliki keahlian tertentu yang mempersulit perjuangan kita. Ada musuh (biasanya para panglima) yang hanya bisa dilukai dengan kata-kata tertentu, seperti kata yang mengandung huruf ‘t’ dan ‘s’, serta yang diawali dengan huruf ‘o’. Kalau kata-katamu tidak memenuhi syarat itu, seranganmu percuma saja. Dalam mode yang lebih menantang dan hadiahnya lebih menggiurkan, para kroco sekalipun memiliki kemampuan semacam itu. Bahkan syarat ngelmu saja lebih mudah daripada itu.

Belum lagi kalau mereka punya kutukan yang mengacak-acak huruf-huruf kita. Soalnya ada musuh yang bisa menimbulkan efek menyebalkan pada huruf-huruf kita: menjadikannya beracun, terus dikocok tiap ganti giliran, retak sehingga tidak mengandung daya serang sama sekali, membatu sehingga tidak bisa dipakai, sampai mengubahnya menjadi tamu yang tak dikehendaki. Bayangkan saja. Sudah capek-capek membayangkan kata 9 huruf berpoin besar, seperti ‘confusion’. Eh tahu-tahu si kunyuk itu mengubah empat huruf menjadi ‘x’ yang notabene jarang ada dalam perbendaharaan kata saya yang bahasa pertamanya bukan Bahasa Inggris. Kan sialan.

Untungnya fitur-fitur RPG mempersakti kita sepanjang petualangan mencari piza suci ini. Kita bisa menambah darah dan mempertebal jubah sehingga makin tahan banting, menajamkan arit bahkan menggantinya dengan arit yang punya keistimewaan tertentu, sampai memperbanyak kantong untuk membawa jamu. Ya kita bisa membeli jamu penambah darah maupun jamu penangkal kutukan huruf. Ada juga barang-barang khusus yang banyak faedahnya, seperti melipatgandakan daya serang kata-kata yang berhuruf tertentu atau memperbesar kemungkinan mendapatkan durian runtuh berupa ramuan-ramuan ajaib.

Demikianlah anak yang dibidani Bacon Bandit Games ini mengunci perhatian kita selama lebih dari 30 babak dalam kurang lebih 4 jam. Dan begitu tiba di akhir permainan kita jadi merasa lebih percaya diri (bahkan mungkin sedikit jumawa) dengan perbendaharaan kata Bahasa Inggris kita padahal bisa jadi di sepanjang permainan kita sembarang saja menyusun huruf-huruf itu. Begitulah cara permainan membuat orang merasa lebih baik.

Senin, 15 Mei 2017

Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya) - Sabda Armandio


Judul Buku
:
Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)
Penulis
:
Sabda Armandio
Penerbit
:
Moka Media
Tahun Terbit
:
2015



Bolos adalah bagian dari pengalaman sekolah, sebagaimana dinyatakan juga dalam Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya). Dalam buku itu seorang pegawai mengenang (atau mereka?) pengalamannya bolos selama tiga hari menjelang Ujian Nasional bertahun-tahun lalu.

Bolos hari pertama yang lebih menyerupai mabuk halu berisi petualangannya dalam gorong-gorong, omong-omong nyerempet filsafat dengan orang utan, dan bicara dengan petani yang suka mengubah kata dengan kata lain yang berima tapi jauh artinya. Bolos hari kedua dilewatkannya dengan pacar yang dihamili orang lain. Bolos hari ketiga dia mengawani temannya yang suka berseru ‘Salut!’, menemui kecengannya, saingan cintanya, dan kabar bunuh diri seorang anak SMA.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama tiga hari itu dipandang oleh ‘Aku’, seorang pemuda pelamun yang di permukaannya tampak cuek, tak punya hasrat, tak mau menyatakan diri, dan membiarkan dirinya dihanyutkan hidup. Arus hidup diikutinya dengan biasa-biasa saja. Dia kuliah begitu saja, kerja begitu saja. Tidak terasa ada ambisi. Dia ikut-ikut saja saat diajak temannya bolos untuk mencari sebuah sendok. Dia meladeni perempuan yang meneleponnya hanya untuk curhat. Tapi, berdasarkan pengakuan-pengakuannya tidak bisa tidak kita mendapat kesan bahwa kegelisahannya intens juga. Dia bermimpi tentang jarinya yang diamputasi, tentang suara-suara yang menyatakan dia tidak akan pernah menyelesaikan apa-apa. Ada penyesalan dalam ceritanya tentang dia yang tidak sempat menyatakan cinta pada perempuan yang suka curhat itu. Dia bersikap ‘ya sudah’ saat pacarnya mengaku dihamili orang, tapi dia enggan untuk membicarakannya lebih lanjut. Dia terus kepikiran saat disebut ‘Kurt Cobain’ oleh pengamen gila yang sebutannya seringkali menjadi semacam ramalan kematian berdasarkan cara mati musisi yang disebutkannya. Ada rasa jengkel terhadap sekitar, seperti tampak dalam sikapnya saat Kamu, temannya itu, curhat tentang masalah percintaan dan kompromi. Tidak bisa tidak kita mendapatkan kesan bahwa unek-unek ‘Aku’ bertumpuk sampai ke ubun-ubun.

Kamu adalah kontras ‘Aku’. Dia banyak omong dan suka omong tinggi. Orangnya memang ceplas-ceplos. Kalau gelisah, dia menyeploskannya begitu saja. Kalau tidak setuju terhadap sesuatu, dia menyatakannya. Misalnya, saat dia berdebat dengan Johan, yang juga naksir Permen, tentang kompromi atau memberontak sistem. Kamu memilih untuk memberontak karena dengan begitu individualitasnya muncul. Soal individualitas ini jugalah yang membuat Kamu gelisah soal Permen. Dia khawatir kepribadiannya hilang kalau dia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan selera Permen. Salah satu contoh kasusnya adalah selera musik. Kegelisahan-kegelisahan semacam itulah yang membuatnya merasa tidak yakin terhadap segala hal. Menulislah alat untuk mengatasinya, menurutnya, karena dengan menulis dia memetakan perasaan dan pikirannya.

Kubu-kubu yang diwakili oleh dua tokoh tersebut –tokoh-tokoh lain adalah varian dua kubu itu—dipertentangkan. Bunuh diri adalah arena yang terus dihampiri. Walaupun akhirnya tidak jadi, Pacar ‘Aku’ sempat berpikir untuk bunuh diri setelah merasa tidak punya harapan hidup lagi gara-gara hamil; Kenalan Permen di bimbel yang bunuh diri karena UN; dan, walaupun tanpa dijelaskan secara gamblang, Kamu yang mati terpanggang di kamar mandi. Ketiganya sama bunuh diri atau terpuruk karena sistem yang lebih besar. Pacar ‘Aku’ terpuruk karena khawatir dengan pandangan orang-orang tentang anak SMA yang hamil. Mengutip kata-kata Kamu, kenalan Permen mati karena dibunuh negara melalui sistem pendidikan. Kamu mati bunuh diri dalam kedudukannya sebagai nabi, selebritas, dan model dan bintang film. ‘Aku’ sendiri berusaha tidak terpengaruh dan bersikap cuek saat menyaksikan tiga peristiwa itu. Pada pacarnya dia menyuruh untuk tidak peduli saja pada penilaian orang-orang. Toh, hamil tidak berarti seseorang kehilangan statusnya sebagai manusia. Saat menyaksikan Kamu dan Johan berdebat tentang bunuh diri kenalan Permen, ‘Aku’ diam-diam menguak kelemahan Kamu dan Johan walaupun dia kurang-lebih menyetujui pendapat Johan soal ‘ikut sistem maka hidupmu akan aman’. Saat mendengar kabar Kamu mati, dia bersikap ‘oh, ya, sudah’ walaupun di sana-sini ada rasa sedih.

Selain bunuh diri, di sana-sini terdapat pembicaraan-pembicaraan lain yang nyerempet filsafat. Misalnya, filsafat bahasa dalam pembicaraan ‘Aku’ dengan orang utan yang bisa bicara dan Kek Su yang suka mengganti kata-kata dengan kata lain yang tidak bermakna sama tapi berima. Di situ muncul pertanyaan,“Kenapa manusia mesti menamai benda-benda?” Omong-omong filosofis juga muncul dalam pembahasan tentang cinta platonis ‘Aku’ pada perempuan yang suka curhat padanya dan ternyata mencintai ayahnya sendiri, dan cinta platonis Kamu pada Permen. Ada pembicaraan tentang dilema landak Schopenhauer. Terlepas dari itu, toh, tiap kali ada Kamu dan ‘Aku’ pembicaraan tentang gim atau acara semacam curhat Mamah Dedeh pun ditarik ke hal-hal yang filosofis.

Dalam buku ini hal-hal sehari-hari bersilang-sengkarut dengan hal-hal filosofis –yang seringkali menjadi gamblang karena kecenderungan Kamu untuk omong besa. Tapi, semua hal itu dipandang oleh seseorang yang berusaha untuk cuek karena bosan. Makanya, mengutip buku yang sering dibaca ‘Aku’, bagian terbaik buku ini adalah tak ada bagian terbaik.

Minggu, 29 Maret 2015

Greyhound (karya Diky Sumarno) - Teater Nonton


Judul Drama
:
Greyhound
Penulis Asli Naskah
:
Diky Sumarno
Waktu Pentas
:
Sabtu, 21 Maret 2015
Tempat Pentas
:
Aula PSBJ Unpad
Kelompok Penggarap
:
Teater Nonton



“Tunjukkan padaku satu keluarga yang normal,” kutip Dewi Noviami, ketua Komite Teater DKJ, dari seorang penulis Jerman pada sesi diskusi setelah pentas Greyhound pada Sabtu, 21 Maret 2015. Memang, ada gambaran suatu keluarga pada pentas yang disutradarai oleh penulis naskahnya, Diky Sumarno. Intrik dalam keluarga kalangan atas yang dipertontonkan di aula Pusat Studi Bahasa Jepang Unpad ini menguatkan kesan sinis yang terkandung dalam kutipan tadi.

Keluarga itu adalah keluarga Sudarsono. Tanpa bapak yang sudah almarhum, mereka menjalani pagi yang rutin: Bayu, si sulung, seorang pilot; Wisnu, anak kedua, seorang dokter kandungan; Tara, anak ketiga, pebisnis properti; Krisna, si bungsu, mahasiswa jurusan Ekonomi; dan Ibu Sudarsono, janda almarhum Sudarsono. Kecuali si bungsu, semua sudah menikah. Wisnu dengan Laras; Bayu dengan Ratna, mantan pramugarinya; dan Tara dengan Indra, lelaki yang bercita-cita untuk jadi penulis. Seperti lazimnya kalangan atas, keluarga itu punya pembantu: Sri dan Tarno. Kadang mereka dikunjungi oleh paman Haryoto, yang mengurusi perusahaan almarhum bapaknya, dan Donal, asistennya.

Mereka keluar-masuk pusat rumah mereka, ruang tengah, lewat lima jalan: tangga menuju kamar pasangan Wisnu-Laras dan Krisna, tangga menuju kamar pasangan Bayu-Ratna, pintu menuju kamar Ibu, pintu menuju ruang pembantu dan halaman belakang, dan pintu keluar rumah. Di ruang tengah itu mereka semua bertemu tiap pagi, pertemuan yang menunjukkan gesekan antara saudara, antara anak dan orang tua. Hanya saja, sangat halus gesekan itu terdengar, sehingga masalah-masalah yang terpendam itu terkupas sangat perlahan. 

Kita sama-sama tahu tentang kesukaan kalangan atas memajang barang-barang bagus di rumahnya sebagai pajangan belaka. Keberadaan potret-potret anggota keluarga, dua lukisan dinding, dan buku-buku dalam rak yang bagus-bagus namun hanya sebagai pajangan. Meskipun begitu, ketidakterpakaian benda-benda itu, kecuali hanya sebagai pajangan, oleh tokoh-tokohnya, yang biasanya jadi nilai minus karena semua yang ada dipanggung harus “terpakai”, justru jadi nilai tambah. Sebab, itu seiring dengan upaya anak-anak itu untuk memajang-majang citra bagus di hadapan orang tuanya. Pada akhirnya upaya itu sia-sia,pajangan belaka.

Busana jadi penanda identitas sosial tokoh. Wisnu dan Bayu berbusana pakaian dinasnya. Hanya saja busana dan aksesori Wisnu memberikan kesan metroseksual. Krisna berbusana kasual ala anak kuliahan. Tara memakai rok selutut dan jas berbantalan pundak untuk menegaskan bahwa dia adalah wanita karir, beda dari Laras dan Ratna yang memakai gaun terusan pendek layaknya perempuan-perempuan sosialita. Sedangkan, yang agak mencolok adalah busana Indra, Ibu, dan paman Haryoto. Indra memakai jaket jins dan celana jins, sehingga dia lebih tampak seperti preman ketimbang orang yang serabutan sebagai penulis, apalagi aktornya berbadan besar. Tapi, mungkin itu untuk menekankan aspek penganggurnya. Busana Haryoto sangat santai untuk ukuran pengurus perusahaan almarhum Sudarsono, apalagi dengan selendang pendek tipis di lehernya. Dia jadi tampak seperti seorang perancang busana. Ibulah yang busananya kelewat sederhana untuk ukuran ibu-ibu kelas atas.

Meski begitu, busana kedua yang dipakai beberapa tokoh melampaui fungsi penanda identitas sosial. Ini tampak pada adegan penentu. Hanya ada anak-anak itu dan pasangan masing-masing pada adegan itu. Indra dan Tara memakai busana berwarna utama biru, Wisnu merah marun, Bayu hijau, sementara Ratna, Laras, dan Krisna abu-abu gelap. Perbedaan warna busana jadi penanda kubu dalam konteks pertentangaan pandangan. Ratna dan Laras adalah orang luar yang bingung apakah harus terlibat atau tidak. Krisna berada pada posisi “antara”. Wisnu dan Bayu, selain menentang Indra dan Tara yang sependapat, saling menyalahkan juga.

Pada adegan penentu itu rahasia-rahasia anak-anak Sudarsono terbongkar. Meskipun Krisna berkuliah di jurusan Ekonomi, sejalan dengan keinginan orang tuanya, bahan dalam skripsi ekonomi kreatifnya adalah tari tradisional. Tari adalah hal yang dicita-citakannya. Bayu telah lama dipecat dari maskapainya karena bolos dari penerbangannya gara-gara menuruti firasat ibunya. Untungnya, firasat itu benar. Pesawat itu celaka. Tapi, keterlibatan Bayu dalam tim evakuasi membuat Ratna menyatakan kecurigaan tentang perselingkuhan dia dengan seorang pramugari. Bayu menjelaskan keadaan sebenarnya. Tapi, pengakuan itu membongkar impotensinya. Wisnu mencekoki Laras dengan obat-obat kontrasepsi, sehingga perempuan itu tak kunjung hamil dan dianggap mandul oleh banyak orang. Sebab, Wisnu trauma atas kematian seorang perempuan yang dia tangani proses melahirkannya. Tara pun bukan seorang pebisnis properti yang sukses. Pada adegan penentu itu runtuhlah segala sesumbar yang diucapkan mereka pada ibunya saat adegan pertama. Runtuhlah segala pajangan yang bagus-bagus itu.

Pemantik pembongkaran rahasia itu berakar pada keinginan Indra untuk keluar dari rumah orang tua Tara. Dia diejek oleh orang-orang yang ada di sana. Dia dibilang tak punya penghasilan tetap, dan kerjanya hanya bermimpi. Salah satu proyek naskah film yang digarapnya dianggap sebagai pekerjaan yang tak berduit. Dalam keadaan itu, keinginannya dipupuki oleh omongan Ratna bahwa jika ingin bebas dari rumah ini, dia harus melawan. Saat sepupunya menawarinya untuk berkerja di Kalimantan pada suatu perusahaan batu, dia menemukan celah untuk melawan. Maka, setelah Tara sepakat, pada adegan penentu itu mereka berdua menyatakan perlawanannya.

Perlawanan mereka berkaitan dengan makna judul drama itu. Greyhound adalah anjing yang diadukan dalam pacuan anjing yang marak pada saat Jakarta digubernuri oleh Ali Sadikin. Pacuan itu sangat digemari oleh ayah dan paman anak-anak itu. Pada salah satu adegan Tarno dan Sri pernah membandingkan anak-anak Sudarsono dengan greyhound. Anjing itu sangat taat pada majikannya. Saat majikannya hilang, mereka akan kebingungan. Wisnu, Bayu, Krisna, dan Tara adalah anjing yang patuh pada majikannya, orang tuanya. Mereka membutuhkan majikan, membutuhkan dominasi. Mereka menuruti keinginan orang tuanya walaupun bertentangan dengan mimpi mereka demi tak kehilangan “belaian”. Bahkan, seperti pendapat Ratna, mereka jadi manja. Di sisi lain, pola pikir greyhound dalam kepala anak-anak Sudarsono membuat mereka meneguhkan apa yang diyakini ibunya, misalnya laki-laki harus bekerja dan perempuan tinggal di rumah. Dampaknya adalah sesumbar pencapaian palsu mereka dan ejekan terhadap keadaan Indra. Kerangkeng itu juga yang membuat Indra jengah. Pada akhirnya, dia berhasil membuat Tara keluar dari kerangkeng pola pikir greyhound, dan pergi bersamanya ke Kalimantan.

Tara sudah terlalu lama terbiasa jadi greyhound. Maka, jika setelah berhasil keluar dari rumah dan pergi ke Kalimantan, dia terkena serangan jantung, lalu wafat, maka itu adalah hal yang wajar. Goncangan jiwa yang dia dapat dalam perdebatan dengan kakaknya, selain merupakan goncangan dariserangan kakaknya, juga goncangan dalam dirinya dalam mengatasi keyakinan baru. Dia bebas, tapi harus mati saat akhirnya mengecapnya. Ironi itu menjadi tragedi saat kabar tentang kematian Tara membuat Ibu terkena serangan jantung, walaupun itu bisa diduga sejak awal. Belum cukup. Setelah tragedi itu, rumah tangga almarhum Sudarsono seakan terkutuk untuk berputar-putar terus dalam pacuan anjing greyhound: Pada adegan terakhir seluruh anggota rumah tangga yang tersisa, termasuk Indra, melakukan rutinitas pagi dengan berkumpul di ruang tengah, sementara peran Ibu digantikan oleh Sri, pembantu rumah itu.

Greget adegan pertama sampai adegan penentu terjaga dengan baik. Hanya saja, dari situ sampai drama benar-benar selesai kesan menggantung terasa begitu kuat. Bahkan, blackout yang masih beberapa kali muncul setelah itu bisa saja mengelirukan, sehingga dianggap sebagai akhir cerita. Saat Sri dengan heran berkata,”Ibu?” karena Tarno bicara seakan Ibu masih hidup, sedangkan sebenarnya telah wafat, adalah saat yang berpotensi besar untuk tampak seperti akhir cerita. Meskpun begitu, adegan terakhir yang merupakan variasi dari adegan pertama menguatkan kesan bahwa mereka, anak dan mantu Sudarsono yang tersisa, berada dalam putaran lintasan pacuan anjing greyhound yang tanpa ujung.

Pada sesi diskusi berkali-kali diutarakan bahwa kisah keluarga Sudarsono adalah kisah yang begitu akrab dengan kita. Sehingga, celah-celah identifikasi diri pada tokoh-tokoh di atas panggung terbuka lebar. Kita akrab dengan pertikaian dengan saudara dan dengan ketatnya ketaatan pada orang tua. Apabila konflik dalam sebuah keluarga dianggap tidak normal, maka tak ada keluarga yang normal adalah tanggapan atas pernyataan yang dikutip pada awal tulisan ini. Tapi, kalau dalam tiap keluarga selalu ada konflik, maka barangkali ketidaknormalan itu kenormalan itu sendiri. Saya jadi teringat sebuah ungkapan bahasa Sunda: dina piring sendok mah paketrokna moal jauh ti jeung garpu.