Rabu, 15 Juli 2015

Katanagatari - White Fox



Judul Serial
:
Katanagatari
Jumlah Episode
:
12 episode
Rumah Produksi
:
White Fox
Sutradara
:
Keitaro Motogana
Waktu Tayang Asli
:
26 Januari 2010 - 11 Desember 2010

Seorang penerus satu-satunya aliran pedang terkuat di Jepang, Yasuri Shichika, direkrut oleh seorang ahli strategi Shogunate, Togame, untuk mengumpulkan dua belas pedang keramat karya seorang empu pedang legendaris, Shikizaki Kiki. Selain oleh para pemilik pedang keramat itu, mereka juga dirintangi oleh semarga ninja mantan abdi Shogunate yang membelot, marga Maniwa. Di tengah jalan mereka dikonfrontasi oleh kubu yang sebelumnya samar, Putri Hitei dan ajudannya, Soda Emonzaemon. Petualangan pengumpulan pedang keramat Shikizaki Kiki itu sedikit demi sedikit menguak rahasia Shichika dan Togame yang berakar pada sejarah pendirian aliran Kyotouryuu, aliran pedang yang diteruskan oleh Shichika, dan upaya kudeta Shogunate oleh marga Hida yang gagal. Awalnya, petualangan dalam Katanagatari tampak seperti pengumpulan pedang belaka, lalu seiring perjalanannya, ternyata tokoh utamanya terlibat dalam urusan besar.

Kyotouryuu adalah aliran pedang tanpa pedang. Pedang dalam aliran ini adalah tubuh dan jiwa sang samurai. Di tambah tinggal selama dua puluh empat tahun di pulau pengasingan keluarganya, maka pada episode pertama Katanagatari Yasuri Shichika adalah sebuah pedang, seseorang yang datar, “tak berperasaan”, dan buta tentang dunia luar. Ninja Maniwa membelot dari Shogunate karena mereka sadar harga pedang keramat, dan Sabi Hakukei membelot karena sadar bahwa pedang keramat itu meningkatkan prestise dan kemampuannya sebagai samurai, maka Togame memberi alasan yang menihilkan kemungkinan membelot bagi Shichika untuk menyetujui perekrutannya: Shichika mesti jatuh cinta pada Togame. Shichika akhirnya menyetujui alasan itu, tapi meskipun berkali-kali bilang cinta pada Togame –sebagai sebuah slogan (catchphrase), tak sedikit pun tingkahnya menunjukkan “rasa cinta”. Saat mereka menginap di kamar yang sama, berendam bersama, dan Togame bugil, kemungkinan untuk menunjukkan “cinta” besar, Shichika lempeng saja. Bahkan, saat Kanara Azekura, pemilik “pedang” Zokuto Yoroi, bilang bahwa bila dia menang dalam pertarungan, Togame mesti jadi pacarnya, Shichika lempeng saja. Awalnya, bukan cinta, pada Togame Shichika hanya patuh, sebagaimana pedang pada samurai. Tapi, seiring persinggungannya dengan para pemilik pedang keramat dan masalah pribadi mereka, Shichika makin “hidup”. Sekedar menyebut beberapa lagi: Ginkaku Uneri, pemilik Zantou Namakura, mengajarkannya kesetiaan. Tsuruga Meisai, pemilik Sentou Tsurugi, membuatnya berpikir tentang membunuh dan alasan untuk bertarung. Lalu, sosok yang membuka lebar keran nuraninya adalah Higeki Rinne, pertapa pemilik Seitou Hakari. Sejak episode satu sampai episode terakhir Katanagatari kita bisa melihat perkembangan kepribadian Yasuri Shichika, dari orang yang datar sampai bisa mengekspresikan luapan emosinya.

Sedikit omong-omong tentang perkara teknis: hal yang pertama-tama membuat saya jatuh cinta pada serial ini adalah rancangan tokohnya dan latarnya. Rancangan mata tokohnya sangat sederhana ketimbang rata-rata tokoh anime. Rancangan busana tiap tokoh pun mencolok. Dari busana Shichika yang setengah telanjang, yang didominasi warna merah, sampai busana ninja Maniwa yang didasarkan pada tema binatang. Sementara itu, latarnya digambarkan ala Ukiyoe. Latar dalam ruangan kadang diberi sentuhan tiga dimensi (silakan tonton episode Shichika vs Yasuri Nanami dan Shichika vs Kiguchi Zanki). Pada adegan interior pun banyak terdapat pembingkaian (framing). Eksperimen artistik yang paling gila ada di episode 7. Pada episode itu beberapa adegan digambarkan dengan mencomot adegan beberapa game. Sementara itu, teknik penceritaan yang banyak dipakai adalah pengisyaratan (foreshadowing). Anime ini dibuka dengan adegan pembantaian di kastil marga Hide. Kaitannya dengan hubungan antara Togame dan Shichika dikuak perlahan-lahan. Pada episode yang sama Nanami bilang bahwa Shikizaki Kiki adalah teman akrab pendiri aliran Kyoutoryuu, sebagai jawaban atas pertanyaan Togame saat hendak menjelaskan tentang empu pedang legendaris itu. Jawaban itu ditertawakan Togame, tapi menjelang tamat omongan yang ditampakkan sebagai suatu obrolan yang tak berarti itu ternyata sangat vital. Pada episode 6, dalam perjalanan di tengah padang salju berbadai, Togame, yang lemas karena cuaca, omong sangat panjang tentang menyerah seolah akan mati. Adegan itu digambarkan dengan kocak. Pada akhir episode 11 Togame mengatakan hal yang sama persis dengan adegan itu, tapi dengan nada adegan yang sangat bertolak belakang. Terakhir, teknik penceritaan yang menggemaskan sampai ingin memukul orang digunakan pada episode 4: adegan offscreen. Pada akhir episode 3, pada bagian pratinjau episode 4 adegan pertarungan maha dahsyat antara Shichika dan Sabi Hakuhei, samurai terkuat di Jepang, di pulau Ganryuu ditunjukkan sepotong-sepotong. Tapi, episode 4 justru berisi pertarungan Nanami dan tiga orang ninja Maniwa, sementara pertarungan Shichika dan Sabi hanya diberitahukan lewat obrolan paskapertarungan oleh Shichika dan Togame.

Katanagatari adalah kisah petualangan yang makin ke sini makin kompleks dengan rancangan visual dan teknik penceritaan yang memikat, yang menunjukkan bahwa jalan pedang, seperti jalan lainnya, adalah jalan bagi seseorang untuk “menjadi manusia”. Cheerio!


Minggu, 05 Juli 2015

Perang - Rama Wirawan


Judul Buku
:
Perang
Penulis
:
Rama Wirawan
Penerbit
:
Jalasutra
Tahun Terbit
:
2005



Ada seorang pemuda. Kegiatan yang seru bagi dia adalah diskusi tentang pemikiran. Sejak masa kuliah sampai sampai kerja di sebuah percetakan dia tak menemukan teman untuk melakukannya. Selain itu, dia mendambakan seseorang yang spesial untuk jadi kawan hidup. Naluri berontak dan hasrat untuk diskusinya tinggi, tapi tak kunjung tersalurkan. Dia merasa bosan. Dialah Perang Hayat. Pergolakan Perang Hayat untuk mengatasi kebosanan adalah fokus dalam Perang.

Adalah Deni, seorang kenalan yang punya reputasi kurang baik di kantor, pintu menuju solusi atas kegelisahan Perang. Dengan Deni Perang berdiskusi tentang punk, neoliberalisme, alienasi kerja, anarkisme, ekspresi diri, dst. Deni membuat dia berkenalan dengan sebuah komunitas punk di sebuah taman kota dan distro punk di selatan Jakarta. Hasrat Perang untuk diskusi tersalurkan. Kebosanannya atas lingkungan kerjanya terobati. Masalahnya adalah penggambaran adegan diskusi itu tampak seperti buku teks tentang paham-paham yang dijadikan dialog. Kaku. Rasanya seperti sedang kuliah saja. Ditambah lagi, pada adegan diskusi itu seringkali Perang dikesankan seperti orang yang baru tahu tentang topik yang dibicarakan, walaupun dia mengaku pernah membaca buku yang berkaitan, walaupun dia mengaku sejak kuliah dia suka membaca buku politik dan filsafat. Penggambaran cara Perang bertanya dalam kebanyakan diskusi mengesankan bahwa itu ditulis hanya supaya diskusi itu terasa seperti orang mengobrol, bukan esai panjang tentang pengantar isme-isme, dst. Yang penggambarannya meyakinkan paling-paling hanya saat Deni dan Perang diskusi tentang ekspresi diri, cara berontak, dan kompromi. Dalam obrolan itu Denisebenarnya sempat meledek diskusi tentang isme-isme itu. Itu terdengar seperti ledekan terhadap orang-orang yang suka diskusi tentang isme-isme dengan cara yang impersonal dan mengawang. Tidak bisa dimungkiri bahwa adegan diskusi dalam Perang memberikan pengetahuan tentang topiknya, tapi cara adegan itu digambarkan membuatnya jadi terasa kaku, padahal itu adalah unsur penting dalam pengatasian masalah Perang Hayat.

Ada hal lain yang jadi dambaan Perang Hayat: seorang kawan hidup untuk hidup yang remang ini, dengan kata lain pacar. Perang sempat bercerita tentang kecengannya yang bernama Via. Sayangnya, Via itu tipe perempuan yang suka ke mall, belanja, dst. Bahkan tentang komunisme, dia sempat membuat komentar yang membuat Perang ilfil. Via jelas-jelas bukan tipe Perang. Cerita tentang Via berada di awal novel, berfungsi untuk memberi penekanan akan keterasingan Perang. Setelah Deni dkk. “membebaskan” Perang, dambaan tentang pacar ini mewujud dalam mimpi. Lalu, perkenalannya dengan Adit sang pengamen cilik mengantarnya bertemu Mirah,  kenalannya semasa kuliah yang pernah bicara tentang subversi dan cinta. Pada mimpi pertama Perang tetang kawan hidup itu identitas perempuan itu buram, sedangkan setelah bertemu Mirah, ternyata perempuan itu adalah Mirah. Ya, mimpi itu muncul dua kali, dan digambarkan dengan kalimat yang sama dengan sedikit variasi. Sebenarnya pada mimpi pertama Perang merasa suara perempuan itu pernah dia dengar. Itu petunjuk bahwa dia adalah Mirah. Masalahnya adalah pembicaraan Perang dan Mirah tentang subversi dan cinta yang terjadi semasa mereka kuliah, baru dibahas setelah Perang bertemu Mirah lewat Adit. Jadi, walaupun bagi Perang Mirah adalah orang masa lalu yang sempat diabaikannya, tapi ternyata dialah perempuan yang dia inginkan jadi kawan hidup, bagi pembaca Mirah adalah tokoh yang peran pentingnya bagi kisah Perang dinodai oleh keujug-ujugan kemunculannya.

Walaupun di sana-sini bertebaran pembahasan tentang isme-isme dan hal-hal besar lainnya, Perang berfokus pada permasalahan yang personal: seorang pemuda ingin diskusi dan punya pacar yang mengerti dia untuk menyeimbangi lingkungan kerja yang membosankan. Justru karena kepersonalan permasalahannya, maka wajar bila di akhir cerita tokoh utamanya mendapatkan dua hal yang dia inginkan.Perang itu kisah yang kepersonalan masalahnya membuat akhir bahagia terasa wajar, walaupun mesti melibatkan omong-omong besar gara-gara tokoh utamanya tertarik pada topik itu.