|
Judul Buku
|
:
|
Lintasan Sastra Indonesia Modern 1
|
|
Penulis
|
:
|
Jakob Sumardjo
|
|
Penerbit
|
:
|
Citra Aditya Bakti
|
|
Tahun Terbit
|
:
|
1992
|
Pendahuluan
Meskipun Sumardjo mengaku bahwa hal yang berusaha
dicaritahunya dalam buku Lintasan Sastra Indonesia Modern 1 ini adalah dari kalangan sosial manakah sastra
Indonesia lahir, persoalan-persoalan lain mau tidak mau turut terbahas juga. Selain
kelas sosial, ulasan ini setidaknya akan membahas sembilan persoalan lain yang
turut muncul dalam Lintasan Sastra Indonesia Modern 1, yakni tolok ukur
periodisasi sejarah sastra Indonesia dalam buku ini, leluhur sastra Indonesia,
protagonisme dan antagonisme politik dalam sejarah sastra Indonesia, hubungan
antara sastrawan dan lembaga sastra, sastra terjemahan di Indonesia, peran
majalah sebagai media sastra, figur-figur yang dianggap sangat berpengaruh
dalam buku ini, perdebatan wacana dalam sejarah sastra Indonesia yang dibahas
dalam buku ini, dan kecenderungan genre sastra yang dijadikan objek kajian buku
ini.
Tolok Ukur
Periodisasi
Sumardjo menggunakan tiga hal sebagai tolak ukur
periodisasinya: kedekatan waktu kelahiran penulis, kemiripan gaya menulis, dan
kesamaan media atau penerbit. Berdasarkan tolok ukur itu dia membagi sastra
Indonesia sejak tahun 1920an sampai 1960an ke dalam lima periode: Sastra Balai
Pustaka, Sastra Pujangga Baru, Sastra Angkatan 45, Sastra Generasi Kisah.
Sebagai tampak pada penamaan periode itu, kecuali Sastra Angkatan 45, periode
itu dinamai berdasarkan media atau penerbit yang mewadahi penulis. Tentang
penggunaan istilah ‘Angkatan 45’ sebagai nama periode, Sumardjo lebih menitik
beratkan periode itu pada peristiwa sosial besarnya walaupun dia menyebutkan
beberapa istilah lain yang muncul untuk mengacu pada periode tersebut. Walaupun
banyak penulis menolak digolongkan ke dalam Angkatan 45 karena mereka merasa
tidak ikut bertempur, Sumardjo menyatakan bahwa berperang tidak mesti selalu
menggunakan senjata. Untuk menekankan penggunaan tolok ukur itu, pada setiap
periode terdapat pembahasan singkat tentang tahun kelahiran penulis-penulis.
Beberapa contoh gaya yang mirip dalam periode-periode tersebut adalah: penulis
Balai Pustaka banyak mempermasalahkan pertentangan antara kaum muda dan kaum
tua yang dilatari masalah adat, penulis Pujangga Baru banyak menulis puisi
soneta dengan corak romantisisme, penulis Angkatan 45 menulis topik-topik yang
berkaitan dengan revolusi Indonesia, dan penulis Generasi Kisah berfokus pada
peristiwa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tolok ukur itu sendiri bukannya tanpa masalah. Penggunaan
kesamaan media atau penerbit sebagai tolok ukur berdampak pada penyingkiran
kelompok penulis lain. Penulis roman medan disebut dalam pembahasan yang
melingkupi rentang waktu 1920-1940. Tetapi, tidak ada pembahasan lebih lanjut
tentang kalangan itu karena mereka tidak menerbitkan karyanya di Pujangga Baru
atau lewat Balai Pustaka. Paling-paling HAMKA yang dibahas dari kalangan roman
medan ini. Itu pun dimasukkan ke dalam daftar penulis Balai Pustaka. Yang lebih
kentara tampak pada pembahasan Generasi Kisah. Dalam daftar penulisnya Sumardjo
mengakui bahwa beberapa penulis yang dicantumkan tidak menerbitkan karyanya di
majalah Kisah maupun Sastra, seperti Nasjah Djamin dan Motinggo Busye. Tapi,
mereka tetap dimasukan ke dalam daftar itu. Tindakan ini bisa dinilai sebagai
suatu kelonggaran karena pengelompokan yang kaku adalah suatu hal yang
mustahil, sebagaimana pembatasan periodisasi berdasarkan waktu yang linear juga
mustahil. Bisa juga tindakan ini dianggap sebagai inkonsistensi.
Justru pengelompokan yang lebih tidak diskriminatif malah
tampak pada pembahasan tentang periode embrional. Di situ disebutkan dari
beragam kelompok, seperti dari penulis Melayu Rendah Bukan Tionghoa, Melayu
Rendah Tionghoa, dan berbahasa daerah.
Leluhur Sastra
Indonesia
Sumardjo menyebutkan beberapa kelompok sastra sebagai
leluhur Sastra Indonesia Modern. Mereka dibahas pada bab Sastra Awal.
Kelompok-kelompok itu adalah penulis Melayu Rendah Tionghoa, Melayu Rendah
Bukan Tionghoa, dan sastra berbahasa daerah (atau lebih dominannya adalah
sastra Jawa dan Sunda). Pemilihannya atas sastra Melayu Rendah adalah wujud
keberpihakannya dalam politik bahasa pada saat itu. Bahasa Melayu Tinggi
dianggap sebagai bahasa penguasa kolonial, sebagaimana ditunjukkannya dalam
pembahasan tentang Balai Pustaka. Selain itu, dia juga menolak Abdullah Bin
Abdulkadir Munsyi sebagai pelopor sastra Indonesia modern karena bahasa yang
dipergunakannya adalah Bahasa Melayu Tinggi dan karena Abdulkadir Munsyi lebih
condong pada sastra Malaysia. Menurutnya, yang dipakai sebagai bahasa
perhubungan di Hindia Belanda adalah Bahasa Melayu Rendah. Sementara itu, dia
menganggap sastra berbahasa daerah (khususnya sastra Jawa dan Sunda) sebagai
leluhur sastra Indonesia karena Bahasa Melayu Rendah dipakai di lingkungan yang
sudah heterogen, misalnya di kalangan pegawai, pelajar, atau pedagang,
sementara di luar lingkungan itu yang dipakai adalah bahasa daerah. Ditambah
lagi, dalam bahasa-bahasa itu juga muncul sastra modern. Dalam khazanah sastra
Jawa, yang dianggap sebagai pemula sastra modern adalah Serat Riyanto yang
terbit pada tahun 1920, sementara dalam khazanah sastra Sunda adalah Baruang Ka
Nu Ngora yang terbit pada tahun 1914. Lie Kim Hok dianggap sebagai pemula
sastra Melayu Rendah Tionghoa. Dalam khazanah sastra Melayu Rendah Bukan
Tionghoa, Sumardjo tampak membaginya ke dalam dua kubu, yakni kubu FDJ
Pangemanann yang bercorak ‘cerita dari berita koran’ dan kubu Tirtoadisuryo
yang bercorak sosialis.
Sayangnya, agaknya sebagai konsekuensi dari sikap
anti-kolonialnya, Sumardjo mengesampingkan peran satu kelompok sastra yang
sebenarnya berkali-kali dibahasnya dalam buku ini: sastra Belanda atau sastra
Hindia Belanda. Disebutkan beberapa kali bahwa Abdul Muis menulis Surapati dan
Robert Anak Surapati karena pengaruh Melati van Java, salah seorang penulis
berkebangsaan Belanda yang tinggal di Hindia Belanda. Disebutkan juga bahwa
Armijn Pane terpengaruh oleh Notosuroto yang walaupun seorang Jawa, menulis
dalam Bahasa Belanda dan berpandangan Belanda. Dalam pembahasan tentang
Pujangga Baru, Sumardjo mengaitkan kecenderungan penulis-penulisnya dengan Angkatan
80 dan pendidikan Belandanya, khususnya pengetahuan mereka tentang sastra
Belanda. Dalam pembahasan tentang Chairil, dia membandingkan pemberontakan
Chairil atas Pujangga Baru dengan pemberontakan kaum ekpresionis Belanda atas
Angkatan 80, dan menyatakan karya Chairil mengandung
kecenderungan-kecenderungan kelompok tersebut. Ditambah lagi, beberapa penulis
yang dibahas pada bab Sastra Awal adalah penulis-penulis berkebangsaan Belanda,
misalnya T. Roorda atau F. Wiggers. Pembahasan-pembahasan itu menunjukkan bahwa
tidak kecil pengaruh sastra Belanda atau sastra Hindia Belanda pada sastra
Indonesia.
Kelas Sosial
Sastrawan
Sumardjo menyatakan bahwa semua paparan dalam buku ini
adalah upaya untuk mencari tahu dari kalangan sosial manakah sastra Indonesia
ditulis. Berkali-kali dalam buku ini muncul frasa ini: kalangan menengah
terpelajar. Sumardjo mengatakan bahwa menurunnya jumlah penulis Melayu Tionghoa
disebabkan oleh menurunnya minat pemuda kalangan itu untuk menjadi guru atau
wartawan, pekerjaan yang paling banyak melahirkan penulis. Tirtoadisuryo cs.
adalah orang-orang surat kabar. Penulis Pujangga Baru adalah orang-orang yang
mendapatkan pendidikan modern, sebagaimana juga yang dialami Angkatan 45
walaupun dalam keadaan sosial politik yang berbeda. Yang disebut kurang
mendapatkan pendidikan formal adalah Generasi Kisah sehingga karyanya pun
terpengaruhi oleh latar belakang itu. Barulah Generasi Kisah yang menulis di
majalah Sastra mendapatkan pendidikan formal yang lebih layak karena keadaan
sosial politik lebih memungkinkan. Lebih spesifik, latar belakang ‘anak
sekolahan’ ini tampak pada daftar penulis yang dicantumkan pada tiap akhir bab.
Protagonisme dan
Antagonisme Politik dalam Sejarah Sastra Indonesia
Dalam suatu buku sejarah kesan antagonis dan protagonis
adalah sesuatu yang sulit dihindarkan sekalipun penulisnya berusaha untuk
berimbang. Buku ini pun mengalami hal serupa. Pada masa pra-kemerdekaan
Indonesia jelas pihak antagonisnya: Belanda dan Jepang. Balai Pustaka pun
dibahas dalam bingkai penerbit sebagai perpanjangan tangan kepentingan
pemerintah kolonial. Dipaparkan bagaimana kebijakan-kebijakan penerbitan Balai
Pustaka dimaksudkan untuk meningkatkan loyalitas pribumi terhadap pemerintah.
Makanya, kalangan pembaca yang disasar oleh Balai Pustaka adalah orang-orang di
daerah lewat penerbitan buku-buku berbahasa daerah dan pembiaran
terbitan-terbitan lain berbahasa daerah. Selain itu, dana yang digelontorkan
pun berhasil membuat Balai Pustaka menyaingi penerbit-penerbit Melayu Tionghoa.
Lewat kebijakan pemerintah yang bekerja sama dengan cikal Balai Pustaka, gerak
Tirtoadisuryo cs. dihentikan. Dalam pembahasan zaman Jepang disorot penyesalan
penulis-penulis yang pernah bekerja untuk Keimin Bunka Shidoso, sebagaimana
tampak pada pembahasan tentang Usmar Ismail dan El Hakim. Lebih lanjut, untuk
memberikan ‘pengampunan’ pada penulis-penulis itu terdapat juga bagian yang
menyatakan bahwa penulis-penulis itu terpaksa bekerja untuk Jepang karena
desakan ekonomi. Yang justru jadi menonjol adalah pengambangan kalangan Melayu
Tionghoa. Pembahasan kalangan ini tidak dikaitkan dengan keadaan politik itu.
Pascakemerdekaan yang tampak menonjol adalah pertentangan
antara Lekra dan Manikebu. Secara tersurat, Lekra dicitrakan sebagai antagonis.
Di situ disebutkan bahwa mereka mendikte kebebasan kreativitas dengan cara
mengharuskan penulis untuk menulis topik tertentu dan dengan cara tertentu.
Mereka jugalah yang mendesak Sukarno untuk melarang Manikebu. Mereka juga yang
menyerang tokoh-tokoh seperti HB Jassin sampai-sampai membuatnya dipecat dari
kedudukan sebagai dosen UI. Mereka juga disebutkan menjerat penulis dengan cara
ekonomis dan psikologis. Penulis yang kemudian bergabung atau punya kedekatan
dengan Lekra dinilai kualitas tulisannya berkurang setelah itu. Yang menjadi
protagonis adalah yang selain Lekra, di sini yang ditekankan adalah Manikebu
dan penulis-penulis keagamaan. Manikebu disebutkan sebagai sekelompok penulis
‘bebas’ yang menjunjung tinggi kebebasan kreativitas. Setelah pengumuman
manifesto itu, mereka mendapatkan dukungan dari banyak pihak yang merasa
terdesak oleh Lekra. Kemunculan penulis keagamaan dikaitkan dengan
kritik-kritik Lekra atas kalangan agamawan. Pada bagian daftar penulis Nugroho
Notosusanto disebut sebagai seorang konseptor angkatannya, Generasi Kisah.
Tapi, agaknya untuk memberikan paparan yang berimbang, Sumardjo secara tersurat
menyebutkan keterlibatan tentara, yang diwakili oleh AH Nasution, dalam
Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia, suatu kegiatan yang digawangi oleh
Manikebu. Persaingan politik antara PKI dengan partai-partai lainnya dan
tentara disiratkan lewat pertentangan Manikebu dan Lekra.
Lebih lanjut lagi, secara tersirat figur-figur dalam sastra
Indonesia adalah orang-orang PSI atau yang punya kedekatan dengannya walaupun
tentu saja mereka bukan satu-satunya orang di puncak elit sastra Indonesia. Hal
ini setidaknya tampak sejak Pujangga Baru. Sutan Takdir Alisjahbana adalah
orang PSI, bahkan kemudian menjadi perwakilan PSI dalam Konstituante. Chairil
Anwar dekat dengan petinggi PSI, Sjahrir. Manikebu diisi oleh orang-orang PSI,
seperti Goenawan Mohamad dan Arief Budiman. Meskipun demikian, memang di puncak-puncak
elit sastra itu mereka bersama dengan orang-orang berhaluan lain. Misalnya, di
samping Chairil ada Asrul Sani yang NU dan Rivai Apin yang kemudian bergabung
dengan Lekra. Tapi, toh, tokoh-tokoh PSI itu menjadi sosok yang menonjol di
antara kumpulannya. Terlepas dari itu, penguakan-penguakan relasi politik
sastrawan-sastrawan akan menujukan lagi kaitan antara politik dan sastra.
Sastrawan & Lembaga
Sastra
Dalam buku ini terdapat satu bagian yang menunjukkan daftar
anugerah sastra dan lembaga penganugerahnya. Anugerah itu didudukkan sebagai
upaya untuk memajukan penulis, usaha lain untuk memajukan sastra. Di sini
secara tidak langsung ditekankan betapa penting peran lembaga bagi perkembangan
sastra walaupun secara tersirat. Lembaga sastra lainnya yang dibahas dalam buku
ini berwujud majalah sastra atau media massa lain yang berisi konten sastra,
seperti Pujangga Baru, Siasat, Kisah, dan Sastra. Masalah hubungan sastrawan
dan lembaga sastra lebih tersurat dinyatakan dalam bagian-bagian lain. Lembaga
sastra dalam wujud organisasi penulis tampak dalam pembahasan Lekra dan
Manikebu. Khusus dalam bagian Lekra, disebutkan asas-asas yang berlaku bagi
anggota-anggotanya, seperti ‘seni untuk rakyat’, ‘politik adalah panglima’,
‘turba’, dst.. Sementara itu, lembaga sastra dalam wujud badan penerbitan
tampak dalam pembahasan Balai Pustaka. Dijelaskan panjang lebar bagaimana cara
kerja keorganisasiannya, strategi penyebaran terbitan-terbitannya, dan –ini
yang disasar Sumardjo—kepentingan-kepentingan politik di belakangnya. Dua kasus
ini menjadi contoh bahwa selain membantu penulis memajukan dirinya dan
mengembangkan kesusasteraan, dan saling berpengaruh pada konvensi proses
kreatif dan konvensi sastranya, persentuhan antara sastra dan lembaga tidak
bisa dimungkiri memiliki dimensi kepentingan yang lain. Dengan demikian,
anugerah-anugerah itu tadi mengandung dimensi kepentingan politik lembaga
penganugerahnya. Tidak dijelaskannya hal ini oleh Sumardjo menjadikannya suatu
lahan terbuka untuk dikaji lebih lanjut.
Sastra Terjemahan di
Indonesia
Hampir seluruh bab dalam buku ini memiliki bagian yang
membahas sastra terjemahan. Dengan ini, Sumardjo secara tidak langsung
menyatakan bahwa selain memiliki kaitan sejarah dengan pendahulunya di
lingkungan sendiri, sastra Indonesia juga mendapatkan pengaruh dari lingkungan
luar. Khazanah sastra mancanegara yang diterjemahkan sastra Eropa (Belanda,
Inggris, Perancis, Jerman, Russia), Amerika, dan Asia (Tiongkok, India, Arab). Penerjemahan
itu kemudian menunjukan pengaruhnya lewat kemunculan saduran (contohnya,
seperti yang tampak pada bab Sastra Awal dan Balai Pustaka), penulisan bentuk
yang sama (contohnya, soneta Pujangga Baru, cerita silat, dan cerita detektif),
karya-karya dengan aliran estetika sama (contohnya, Ekspresionisme Chairil dan
Romantisisme Pujangga Baru), atau paham filsafatnya (contohnya, mistisisme
Hindu Sanusi Pane). Lebih lanjut, penerjemahan itu menyiratkan juga dimensi
politiknya. Pada periode Angkatan 45 tiga negara yang khazanah sastranya banyak
diterjemahkan adalah Inggris, Amerika, dan Rusia. Kalau melihat perkembangan
pada periode selanjutnya, hal itu menjadi padahan keterhimpitan Indonesia di
antara Blok Barat dan Blok Timur.
Buku Sejarah Sastra
yang Condong Pada Prosa
Memang buku ini berisi pembahasan tentang prosa, puisi,
drama, dan esai dalam sastra Indonesia. Tapi terdapat ketidakberimbangan porsi
pembahasan.
Esai disebut dalam semua bab. Tapi, disebut seperti prosesi
absensi di perkuliahan. Sekadar ‘ada’ atau ‘tidak’. Pada pembahasan sastra
Melayu Rendah Tionghoa disebutkan bahwa terdapat esai dan kritik sastra. Satu-satunya
petunjuk kehadiran esai pada pembahasan Balai Pustaka tampak dalam penyebutan
suatu tulisan yang mengeluhkan pembaca pribumi, berjudul “Menumbuhkan Perasaan
Keindahan”. Esai lebih banyak dibahas pada bagian Pujangga Baru tapi sangat
tersirat, bahkan kata ‘esei’ hanya muncul dalam profil Armijn Pane. Selebihnya,
pada bagian itu esai muncul diam-diam dalam wujud jenis tulisan selain puisi,
prosa, dan drama, seperti ‘kupasan dan timbangan kesusastraan’ atau yang lebih
panjang, Polemik Kebudayaan. Dari bab Angkatan 45 sampai Generasi Kisah dalam
bagian daftar penulisnya banyak sekali penulis yang disebutkan menulis esai dan
beberapa bahkan disebut menulis esai dengan cemerlang. Disebutkan juga pada
Angkatan 45 terdapat banyak terbit esai terjemahan sebagai wujud hasrat belajar
para penulis untuk mempelajari teknik dan isi sastra. Tapi, sekali lagi, semua
itu hanya penyebutan saja. Tidak ada penjelasan lebih lanjut bahkan tentang
esai terjemahan itu atau bagaimana cemerlangnya esai-esai itu. Lebih lanjut,
dalam buku ini pengertian esai adalah jenis tulisan selain prosa, puisi, dan
drama yang berisi kritik sastra atau pemikiran tentang sastra, sebagaimana
penyebutan, misalnya, Boen S. Oemarjati sebagai penulis esai. Kalau itulah yang
dianggap esai, bisa disebutkan setidaknya ada satu bagian cukup panjang yang
membahas esai, yakni pembahasan tentang kajian-kajian akademik yang membahas
sastra. Pembahasan itu ditulis dalam kaitannya dengan HB Jassin. Yang
disebutkan adalah akademisi-akademisi sastra UI dan beberapa di luar itu,
seperti Teeuw, Hooykas, dan Ajip Rosidi.
Drama dibahas cukup panjang dalam pembahasan sastra Melayu
Rendah Tionghoa. Sumardjo menyatakan pesatnya perkembangan drama Melayu Rendah
Tionghoa disebabkan oleh ketercerabutan akar budaya orang keturunan Tionghoa di
Indonesia, sedangkan orang pribumi yang kuat akar budayanya masih menggunakan
drama tradisional. Dalam pembahasan sastra zaman Jepang, kebanyakan drama dianggap
merupakan propaganda Jepang sambil disebutkan satu dua judulnya. Lebih sedikit
lagi pembahasan drama dalam Pujangga Baru dan Balai Pustaka sekalipun misalnya
disebutkan bahwa salah satu karya utama Pujangga Baru adalah drama Sandyakala
Ning Majapahit dan Kertajaya. Tidak dibahas lebih lanjut seluk beluk drama
Indonesia dalam buku ini.
Yang nasibnya agak mending adalah puisi. Terdapat pembahasan
tentang syair pada bab Sastra Awal. Jenis puisi ini dianggap banyak
berpengaruh, sebagaimana tampak pada kegandrungan penulis Melayu Rendah
Tionghoa pada bentuk ini dan daftar syair yang diterbitkan Balai Pustaka.
Perkembangan puisi kemudian tampak dalam pembahasan Pujangga Baru. Soneta
ditulis sebagai reaksi atas jenis puisi lama. Lalu, puisi-puisi dengan bentuk
terikat itu ditentang oleh puisi Angkatan 45, khususnya Chairil Anwar. Pada
Generasi Kisah puisi dibahas, tapi pada bagian daftar penulis yang menghasilkan
puisi, seperti Rendra dan Subagio Sastrowardoyo, bukan pada bagian umum yang
membahas keadaan sastra pada zamannya.
Yang paling banyak dibahas dalam buku ini tentu saja prosa.
Kecondongan Sumardjo terhadap prosa secara kentara tampak dalam pembahasannya
tentang sastra awal. Yang dianggap sebagai sastra awal adalah karya-karya
berbentuk prosa. Kecondongan itu juga tampak dalam salah satu simpulannya
tentang Generasi Kisah. Dia menyatakan bahwa salah satu ciri Generasi Kisah
adalah ‘kesusastraan cerita pendek’ padahal pada bagian daftar penulis terdapat
banyak penulis yang menghasilkan puisi dan setidaknya Rendra menulis drama.
Majalah adalah Media
Sastra
Berdasarkan paparan Sumardjo, media sastra Indonesia yang
utama adalah majalah. Paling menonjol hal ini dimulai sejak Pujangga Baru.
Memang pada bab Balai Pustaka disebutkan juga majalah yang diterbitkan oleh
penerbit itu, seperti Sri Pustaka, Panji Pustaka, Kejawen, dan Parahiangan.
Tapi, dalam membahas sastra Balai Pustaka, Sumardjo berfokus pada karya-karya
yang diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku. Penamaan generasi sejak
Pujangga Baru didasarkan pada majalah tertentu. Nama lain angkatan 45 adalah
angkatan Gelanggang, nama rubrik sastra yang diasuh Chairil Anwar dkk..
Generasi setelahnya dinamai generasi Kisah lalu generasi Sastra. Keduanya juga
nama majalah. Sejak bab Pujangga Baru terdapat subbab ‘sastra majalah’ dalam
pembahasan tentang ciri sastra suatu generasi. Muncullah kesan bahwa sastra
Indonesia adalah sastra majalah.
Penelaahan lebih lanjut atas fenomena majalah sebagai media utama
sastra terdapat pada pembahasan Generasi Kisah. Majalah menjadi media sastra
karena pada tahun ‘50an penerbitan sastra dalam bentuk buku lesu. Saat keadaan
penerbitan membaik, terdapat fenomena penerbitan buku karya yang sebelumnya
pernah diterbitkan dalam majalah. Sumardjo mencatat bahwa antara tahun 1958 (ditandai
oleh kumpulan cerpen Nugroho Notosusanto, Hujan Kepagian) sampai tahun 1964
kecenderungan itu ramai.
Tapi, klaim majalah sebagai media utama sastra pun pada
akhirnya hanya terbatas pada pembahasan Pujangga Baru, Gelanggang, Kisah, atau
Sastra. Sumardjo mengakui bahwa pada masa aktif Pujangga Baru karya sastra juga
diterbitkan di surat kabar. Pada pembahasan angkatan 45 Sumardjo menyebutkan
juga beberapa penerbit yang menerbitkan buku, seperti Balai Pustaka,
Pembangunan, Gabura, Djambatan, dst..
Pada akhirnya, kesan bahwa sastra Indonesia adalah sastra
majalah muncul karena objek penelitian Sumardjo dalam buku ini adalah
karya-karya dalam majalah-majalah yang sudah disebutkan tadi dan dia menjadikan
majalah-majalah tadi sebagai representasi sastra pada masa tertentu.
Figur yang
Berpengaruh
Pada akhir tiap bab terdapat bagian yang berisi daftar
penulis yang digolongkan ke dalam periode tertentu. Pada bab Sastra Awal daftar
tersebut hanya berisi latar belakang singkat dan daftar karya mereka. Sejak bab
Balai Pustaka daftar itu kadang berisi pembahasan lumayan panjang tentang
penulis tertentu. Tapi, di antara penulis-penulis itu setidaknya ada tiga sosok
yang mendapatkan keistimewaan sehingga dibahas pada bagian tersendiri: Lie Kim
Hok, Chairil Anwar, dan HB Jassin. Sosok-sosok itu dianggap mempunyai pengaruh
besar. Lie Kim Hok bahkan dijadikan nama salah satu periode dalam pembahasan
sastra Melayu Rendah Tionghoa. Tahun penerbitan karyanya dijadikan batu pertama
sejarah sastra Melayu Rendah Tionghoa. Dia juga dianggap mempelopori
pembentukan bahasa Melayu Rendah Tionghoa dengan penerbitan buku Malayu Betawi.
Dia juga banyak menerjemahkan karya sastra mancanegara. Sementara itu, HB
Jassin disebutkan menjadi redaktur pelbagai majalah sastra dan konsultan penerbitan
sastra. Dialah kritikus yang paling tekun menulis kritik. Di tengah kurangnya
pendidikan sastra yang didapatkan penulis Generasi Kisah kritiknya memberikan
banyak pelajaran bagi mereka. Kita bisa melihat pengaruh keduanya bagi
setidaknya penulis-penulis sezamannya. Di sisi lain, pembahasan tentang Chairil
berisi hal-hal yang hanya menyangkut dirinya, seperti riwayat singkat, pengaruh
budaya Barat, acuan budaya, dan tema-tema dalam karyanya. Bagian yang
menunjukkan pengaruhnya bagi penulis lain paling-paling tampak pada bagian
pembaharuan dalam puisi. Itu pun dikaitkannya dengan pemberontakannya terhadap
konvensi puisi Pujangga Baru. Memang Sumardjo menyatakan bahwa salah satu ciri
sastra Angkatan 45 adalah ekspresionisme dan kecenderungan Chairil adalah
ekspresionisme. Tapi, apakah ekspresionisme Angkatan 45 itu dipelopori oleh
Chairil, atau Chairil sekadar memiliki kecenderungan sama dengan penulis
Angkatan 45 lainnya, tidak dibahas lebih lanjut. Pengaruhnya pada penulis lain
tidak dijelaskan lebih jauh dari pernyataan ‘sampai pada zaman sastra Horison,
Chairil Anwar masih dianggap sebagai pembaharu sastra Indonesia’. Kalau
pembahasan Chairil dibandingkan dengan pembahasan Lie Kim Hok dan HB Jassin,
muncullah kesan bahwa penahbisan Chairil seakan tidak berdasar. Seakan-akan
Chairil ditahbiskan sebagai sosok besar dalam sastra Indonesia lebih karena
diangkat HB Jassin dan kesukaannya menongkrong dengan banyak kalangan.
Perdebatan Wacana
Setidak-tidaknya ada tiga perdebatan wacana berkaitan dengan
sastra yang dibahas secara eksplisit dan rinci dalam buku ini. Polemik
Kebudayaan pada bab Pujangga Baru memang pada akhirnya merupakan perdebatan
tentang kebudayaan umum, bukan sekadar tentang sastra. Tapi, perdebatan itu
berdampak juga pada karya sastra yang dhasilkan pada masa itu. Misalnya, sikap
proTimur memunculkan karya-karya bernapaskan semangat mistik, seperti beberapa
karya Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Pembahasan dua perdebatan wacana lainnya
terdapat pada bab Generasi Kisah. Yang pertama adalah soal krisis sastra.
Perdebatan ini kemudian merembet juga pada persoalan kritik sastra, tolok ukur
sastra yang baik, sampai politik. Yang kedua adalah masalah bacaan cabul.
Perdebatan itu kemudian membahas soal keadaan ekonomi penulis dan moral dalam
bersastra.
Dengan berlandaskan pada keterangan Sumardjo bahwa bahkan
sejak orang Melayu Tionghoa aktif menulis sastra terdapat esai yang berisi
kritik sastra dan pada masa-masa selanjutnya terdapat penerbitan esai (Sumardjo
memuji esai pada angkatan 45 dan generasi Kisah), bisa diasumsikan bahwa
terdapat lebih dari sekadar tiga wacana yang diperdebatkan sampai pada periode
terakhir yang disebutkan Sumardjo. Merujuk pada sumber lain, pada Pujangga Baru
saja Sutan Sjahrir dan JE Tatengkeng sempat berdebat soal tolok ukur kritik
sastra. Tapi, dalam buku ini hanya dibahas tiga perdebatan itu saja. Hal ini
sebenarnya bisa dimaklumi karena toh dalam pembahasan esai saja Sumardjo
seringkali hanya sekadar ‘mengabsen’ saja. Di sisi lain, hal ini justru menjadi
isyarat bahwa banyak yang bisa digali dari esai dalam sejarah sastra Indonesia.
Penutup
Sebagaimana tampak dalam ulasan ini, masih banyak hal yang
bisa ditelusuri lebih lanjut untuk mempelajari sejarah sastra Indonesia. Selain
itu, kalau menimbang tolok ukur yang dipakai Sumardjo dalam buku ini, masih
perlu dirumuskan lagi tolok ukur yang lebih canggih dalam penulisan sejarah
sastra Indonesia. Sebagaimana kebanyakan buku sejarah, buku ini memang bukan
sesuatu yang final.